Yunus Emre Institute Ajak Pelajar Somalia-Amerika Kenali Turki

0
72
Dok. Daily Sabah

Yunus Emre Institute (YEE) telah menyelenggarakan agenda penting untuk memperkuat peran Turki sebagai jembatan antara budaya Timur dan Barat. Mewakili budaya dan bahasa Turki di seluruh dunia, YEE yang dikelola negara telah menyelenggarakan tur di Istanbul, Bursa, dan Ankara bagi 20 warga Afrika Timur.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 27 Agustus hingga 4 September kemarin. Sebagian besar dari mereka merupakan pelajar Somalia-Amerika yang duduk di bangku sekolah menengah atas dan universitas bersama dengan perwakilan organisasi non-pemerintah (LSM) dari Minnesota.

YEE didukung oleh pemerintah kota Istanbul dan Klub Otomotif Turki (TURİNG). Tujuan program tersebut ialah untuk meningkatkan kepercayaan diri dan identitas diri para pelajar tersebut sebagai Muslim di Somalia dan Amerika.

Dilansir dari Daily Sabah, salah satu imam yang berasal dari Somalia, Sharif Abdirahman Mohamed, mengatakan bahwa ia merasa dekat dengan Islam saat mengikuti kegiatan itu.

“Saya berkesempatan merasakan keramahan orang-orang Turki dan nuansa sejarah yang kaya dalam kunjungan yang singkat ini. Saya juga merasa bangga karena bangsa Turki telah memberikan banyak inspirasi kepada saya dan tentunya murid-murid saya,” ujar Sharif.

Siswa SMA berusia 19 tahun, Aisha Abdi memuji desain arsitektur masjid Turki.

“Arsitektur masjid Turki tidak seperti yang pernah saya lihat sebelumnya, saya merasa lebih dekat dengan Islam,” ungkap Aisha.

Selain itu Abdirahman Salad mengungkapkan rasa kagumnya atas kehidupan dan sejarah Islam di Turki.

“Sangat menyenangkan melihat budaya Muslim yang berkembang dengan baik,” ujar siswa berusia 18 dan duduk di bangku SMA tersebut.

Imam Mohamed mengatakan bahwa ia terkejut atas laju pertumbuhan ekonomi Turki yang kuat.

“Sistem pendidikan dan sistem perawatan kesehatan disini jelas merupakan sumber kebanggaan bagi orang-orang Turki,” tutur Mohamed.

Murid SMA berusia delapan belas tahun, Salma Ibrahim, juga turut mengungkapkan bahwa ia menyukai fakta bahwa ia dapat menemukan masjid di berbagai lokasi di Turki.

Michael Van Keulen, Direktur Eksekutif Open Path Resources yang berbasis di Minnesota, menekankan bahwa pemuda Muslim di Amerika harus mengenali lingkungan di mana menjadi Muslim adalah sumber kepercayaan yang jelas. Selain itu Keulen juga mengharapkan agar mereka dapat memahami bagaimana rasanya bergabung dengan masyarakat yang beragam namun tak lupa untuk memiliki identitas diri serta menghormati orang lain.

“Turki menggambarkan lingkungan yang memiliki keyakinan bahwa perbedaan dalam masyarakat merupakan suatu manfaat dan tidak perlu adanya diskriminasi terhadap satu kelompok orang. Sejarah telah diwariskan secara terbuka dan hal tersebut merupakan hadiah bagi para remaja Muslim disini,” jelas Keulen.

Ia menambahkan bahwa remaja Muslim Somalia dan Amerika memiliki karakter dermawan, ceria, serta pemikiran dan hati yang terbuka. Selain itu, Keulen mengungkapkan kunjungan mereka ke Turki dengan tujuan untuk mengeksplorasi sejarah Islam sangat bermanfaat dan mendatangkan rasa percaya diri untuk menjalani hidup dalam masyarakat yang beragam secara budaya dan agama. Secara tidak langsung mereka telah menemukan gambaran situasi tersebut di antara orang-orang Turki.

Keramahan orang-orang Turki

Imam Mohamed menuturkan bahwa Islam yang merupakan akar dari budaya Turki memungkinkan aspek keimananan seseorang dapat “hidup” dan “aktif” dalam dunia modern dan sekuler.

“Budaya Turki menekankan koeksistensi damai dan nilai keberagaman rakyatnya, namun di sisi lain mereka saling menghormati pentingnya prinsip-prinsip Islam sebagai panduan hidup,” tutur Mohamed.

Ia menambahkan bahwa keramahan dalam menerima orang asing tampaknya berada dalam DNA orang-orang Turki. Mereka mengakui upaya luar biasa yang telah dilakukan Turki untuk ratusan ribu pengungsi dan mereka tidak percaya ada bangsa lain di dunia yang telah memberikan banyak manfaat bagi orang lain yang membutuhkan.

Aisha Abdi, Pelajar SMA berusia 19 tahun, menceritakan kebebasan di Turki.

“Mereka sangat baik dan ramah. Di jalanan banyak orang yang melihat Anda tetapi tidak dengan cara yang rasis. Tidak ada yang peduli bahwa saya mengenakan jilbab. Mereka menatap saya, bukan cara berpakaian saya,” ujar Aisha.

“Orang-orang sangat baik dan ramah ketika diajak bicara. Mereka sangat berusaha untuk membantu saya memahami apa yang mereka katakan meskipun saya tidak bisa berbicara bahasa Turki,” ujar Ibrahim yang setuju dengan pendapat Aisha.

Peran besar Turki dalam menyelesaikan konflik

Imam Mohamed mengatakan bahwa Turki memiliki peran lebih selain menjadi jembatan antara Timur dan Barat.

“Turki memiliki sejarah dalam menjembatani budaya yang berbeda, bahkan mereka yang mungkin tampak bertentangan. Desain ini dapat memainkan peran besar dalam membimbing negara-negara mayoritas Muslim lainnya untuk mengikuti model mereka. Turki dapat memainkan peran besar dalam menyelesaikan konflik yang ada antara budaya Timur dan Barat,” ujar Mohamed.

CEO Dewan Kepemimpinan Pemuda Nasional (NYLC), Amy Meuers, berbicara tentang citra damai Turki, ia mengatakan bahwa Turki adalah tempat bertemunya kebudayaan Timur dan Barat. Turki merupakan negara dengan begitu banyak identitas kuat yang bersatu dalam satu tempat. Turki juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana seorang pemimpin memimpin dalam resolusi konflik.

Meuers mengatakan bahwa meskipun ia bukan Muslim, momen mendengar adzan pada saat kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertama kali yang sangat berkesan baginya. Ia juga menekankan bahwa Turki adalah negara yang aman.

“Pemerintah Amerika menyiratkan bahwa Turki bukan negara yang aman untuk bepergian. Keluarga saya cukup khawatir saat mengetahui bahwa saya ikut serta dalam perjalanan ini, tetapi saya tahu bahwa hal ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup, dan saya yakin ini keputusan yang tepat,” ungkap Meuers.

Abdirahman Salad mengatakan bahwa ia Presiden Recep Tayyip Erdoğan memainkan peran penting dalam dunia Muslim dan ia mewakili kedermawanan umat Muslim.

“Saya seorang warga Somalia-Amerika dan saya merasakan secara langsung kepedulian warga Turki terhadap Somalia dan kami pun memiliki cinta yang mendalam kepada rakyat Turki, khususnya kepada Presiden Erdoğan,” ujar Abdirahman.

Ibrahim mengatakan bahwa ibunya sangat menyukai Erdoğan karena telah banyak membantu orang Somalia selama bertahun-tahun.

“Saya merasa Erdoğan adalah seseorang yang menunjukkan bagaimana pemimpin harus memimpin, ia adalah contoh dari pemimpin Muslim,” tambahnya.

Van Keulen mengatakan bahwa Erdogan sangat dihormati atas usahanya untuk mengakhiri penderitaan di Somalia.

“Erdoğan telah banyak melakukan tindakan besar, tidak hanya kata-kata. Ia telah menjadi  sosok presiden yang peduli dan sabar. Perhatiannya terhadap rakyat Somalia menunjukkan bahwa Islam dan para pemimpin di dunia Muslim memiliki misi perdamaian, kepedulian, dan cita-cita yang besar. Kami mendorong orang-orang Turki untuk merasa bangga dengan visi bangsa mereka untuk dunia yang inklusif dan penuh harapan,” ujar Keulen.

“Ketika Anda bertanya tentang orang-orang Turki di Amerika, Anda juga harus menyertakan orang-orang Somalia-Amerika yang dengan sangat bangga mengatakan bahwa mereka juga adalah bagian dari orang-orang Turki,” tambah Keulen.

YEE yang mengambil nama dari salah satu penyair Turki terkenal yang hidup dari tahun 1238 hingga 1320. Institusi ini telah menyelenggarakan pendidikan bahasa Turki bagi ribuan orang dan memperkenalkan budaya Turki di luar negeri sejak didirikan pada tahun 2009. HIngga saat ini YEE memiliki 56 kantor di 46 negara.

Turki memiliki kedekatan hubungan dengan Somalia usai kunjungan kenegaraan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke negara Afrika pada 2011 sebagai pemimpin non-Afrika pertama yang mengunjungi negara yang dilanda perang itu dalam 20 tahun terakhir. Ankara menjadi pelopor dalam upaya penyaluran bantuan bagi pembangunan di negara Somalia.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here