WHO: Turki Tempati Peringkat Tertinggi Penggunaan Antibiotik di Eropa

0
81

Geneva. Turki menduduki peringkat tertinggi dalam penggunaan antibiotik dengan lebih dari 38 dosis harian yang ditentukan (DDD) per 1.000 orang di Eropa, di mana konsumsi antibiotik rata-rata hampir 17,9 DDD per 1.000 penduduk per hari, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan pada Senin, 12 November 2018.

Laporan, berjudul “Report on Surveillance of Antibiotic Consumption” menunjukkan bahwa total konsumsi antibiotik dan farmakologi Mongolia merupakan yang tertinggi di antara negara-negara yang disurvei, yakni 64,41 DDD per 1.000 orang. Konsumsi densitas dari subkelompok antibakteri beta-laktam yang terbesar yaitu di Yunani dan Turki: 8,0 DDD per 1000 penduduk per hari dan 12,4 DDD per 1000 penduduk per hari sesuai dengan penggunaan proporsional masing-masing sebesar 24 % dan 33 %, menurut WHO.

Menurut laporan tersebut, perbedaan besar dalam penggunaan antibiotik di seluruh dunia menunjukkan bahwa beberapa negara mungkin dapat dengan mudah menggunakan antibiotik, sementara negara lain mungkin tidak memiliki akses yang cukup mudah untuk mendapatkan obat-obatan tersebut. Selain itu, dikatakan dalam laporan bahwa wilayah Eropa memiliki perbedaan hampir empat kali lipat dengan negara yang paling rendah tingkat pemakaian antibiotik.

“Penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik adalah penyebab utama resistensi antimikroba. Tanpa antibiotik yang efektif dan antimikroba lainnya, kita akan kehilangan kemampuan dalam tubuh untuk mengobati infeksi umum seperti pneumonia,” tutur Suzanne Hill, direktur Departemen Obat-Obatan Esensial dan Produk Kesehatan di WHO.

Ia juga menambahkan bahwa temuan dari laporan ini menegaskan kebutuhan terkait pengambilan tindakan, seperti menegakkan kebijakan khusus resep untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Dalam laporan yang diterbitkan pada tahun 2017, WHO menyatakan bahwa konsumsi antibiotik di Turki termasuk yang tertinggi di seluruh wilayah WHO Eropa.

Sesuai dengan pengamatan tersebut, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memberikan peringatan dalam laporannya pada 7 November 2018 bahwa resistensi antibiotik tertinggi ditempati oleh Turki dibanding dengan negara-negara yang tergabung dalam OECD. Setidaknya satu dari tiga resep medis di Turki termasuk kedalam jenis antibiotik, anggota dewan di Asosiasi Mikrobiologi Klinik dan Penyakit Epidemi Turki (KLİMİK) mengatakan pada Oktober tahun lalu.

Prof Dr Önder Ergönül memperingatkan bahwa sistem kekebalan tubuh semakin beradaptasi dengan dosis antibiotik yang lebih tinggi.

“Turki adalah negara dengan jumlah konsumen antibiotik tertinggi di antara negara-negara OECD. Infeksi baru yang kebal terhadap semua jenis antibiotik juga akhirnya dapat muncul,” tutur Ergönül.

Berdasarkan catatan WHO dalam publikasi tahun 2017, disebutkan bahwa untuk mengatasi masalah yang berkembang tersebut, otoritas kesehatan Turki telah menerapkan sejumlah intervensi terpadu dengan bimbingan dan dukungan WHO.

“Kementerian Kesehatan Turki mendukung kebersihan tangan untuk mencegah AMR. Sistem resep elektronik baru telah dikembangkan untuk memantau dan mengontrol penggunaan antibiotik. Sistem ini dapat melacak data resep dan memberikan umpan balik kepada dokter. Turki adalah salah satu negara yang telah memelopori pengawasan AMR di Eropa,” jelas laporan itu.(Yn)

Sumber: Hurriyet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here