WHO: Obat Yang Digunakan Untuk COVID-19 Gagal Mencegah Kematian Pasien!

0
24
The Solidarity Therapeutics Trial, coordinated by the World Health Organization, indicate that remdesivir, hydroxychloroquine, lopinavir/ritonavir, and interferon regimens appeared to have little or no effect on 28-day mortality or the in-hospital course of COVID-19 among hospitalized patients,” WHO spokesman Tarik Jasarevic said.

Dari studi yang telah dilakukan oleh Solidarity Therapeutics Trial dalam uji coba acak pada terapi terhadap pasien penderita COVID-19 menunjukkan bahwa obat yang digunakan selama ini kembali gagal mencegah kematian.

BERITATURKI.COM, Jenewa- Sebuah studi yang dirilis pada hari Jumat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sejumlah obat, setidaknya yang digunakan dalam pengobatan COVID-19, tidak dapat mencegah kematian pada pasien yang terinfeksi virus corona baru (Covid-19).

Dalam enam bulan terakhir, uji coba kontrol acak terbesar di dunia pada terapi COVID-19 belum menghasilkan bukti konklusif tentang keefektifan obat yang digunakan untuk pengobatan COVID-19.

“Hasil sementara dari Solidarity Therapeutics Trial, yang dikoordinasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, menunjukkan bahwa rejimen remdesivir, hydroxychloroquine, lopinavir / ritonavir, dan interferon tampaknya memiliki sedikit atau tidak dapat mencegah kematian dalam 28 hari perawatan selama pengobatan pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit,” kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic.

Berbicara pada briefing PBB untuk jurnalis di Jenewa, Jasarevic mengatakan meskipun hasil untuk empat pilihan pengobatan pertama yang dievaluasi tidak menjanjikan, platform global sekarang tersedia untuk mengevaluasi dengan cepat pilihan pengobatan baru yang melibatkan hampir 500 rumah sakit berpartisipasi sebagai lokasi untuk percobaan ini.

Penelitian ini dilakukan di lebih dari 30 negara dan mengamati efek pengobatan terhadap kematian secara keseluruhan, inisiasi ventilasi, dan durasi tinggal di rumah sakit pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Penggunaan obat lainnya, misalnya, dalam merawat pasien di masyarakat atau untuk pencegahan harus diperiksa dengan menggunakan uji coba yang berbeda.

“Kemajuan yang dicapai oleh Solidarity Therapeutics Trial menunjukkan bahwa uji coba internasional yang besar dimungkinkan, bahkan selama pandemi, dan menjanjikan untuk menjawab pertanyaan kritis mayarakat tentang kesehatan dan terapi Covid-19 yang cepat dan andal,” kata WHO dalam pernyataan singkat.

Obat antivirus baru, imunomodulator -obat yang digunakan untuk menormalkan sistem kekebalan- dan antibodi monoklonal anti-SARS COV-2 sekarang sedang dipertimbangkan untuk evaluasi, kata badan kesehatan dunia.

Pada hari Selasa, National Institutes of Health, badan terkemuka AS yang bertanggung jawab untuk penelitian biomedis dan kesehatan, mengatakan telah memulai penelitian untuk menentukan apakah obat tertentu yang disetujui menunjukkan hasil yang efektif melawan COVID-19.

NIH telah merilis bahwa remdesivir secara eksperimental telah menunjukkan manfaat klinis untuk pasien.

Terapi remdesivir juga telah digunakan oleh Presiden AS Donald Trump segera setelah ia dirawat di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed menyusul diagnosis COVID-19 pada 3 Oktober lalu, kata dokter Gedung Putih Sean Conley pada saat itu.

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here