Warga Muslim di Selandia Baru Gelar Shalat Jumat Pertama Pasca Tragedi Penembakan

0
71

BERITATURKI.COM, Christchurch, New Zealand – Warga Selandia Baru turut menjaga warga Muslim setempat saat menjalani shalat Jumat sekaligus memperingati sepekan pasca kejadian ditembaknya 50 jama’ah di dua masjid Christchurch. Dalam momen tersebut, salah seorang imam menyampaikan kepada ribuan warga yang hadir bahwa umat Muslim memang merasakan kesedihan, namun mereka tidak ingin berlarut dan bertekad untuk segera bangkit bersama-sama.

Dalam satu hari tanpa preseden, orang-orang di seluruh Selandia Baru dapat mendengarkan panggilan sholat melalui siaran langsung. Sementara itu, ribuan orang lainnya, termasuk Perdana Menteri Jacinda Ardern, berkumpul di Taman Hagley yang rimbun di seberang masjid Al Noor, tempat 50 orang meninggal akibat serangan tembakan pekan lalu.

“Selandia Baru berduka bersamamu. Kami adalah satu,” kata Ardern.

Adzan shalat Jumat dilakukan pada pukul 1:30 siang waktu setempat, kemudian dilanjutkan dengan acara renungan selama 2 menit. Dengan dan tanpa mengenakan kaus kaki atau alas kaki, ratusan pria Muslim duduk di taman. Diantara mereka, terlihat seorang pria di barisan depan yang menggunakan kursi roda Rumah Sakit Christchurch.

Imam masjid Al Noor, Gamal Fouda, berterima kasih kepada warga Selandia Baru atas dukungan mereka.

“Teroris ini berusaha untuk menghancurkan bangsa kita dengan ideologi jahat. Namun sebaliknya, kami telah menunjukkan bahwa Selandia Baru tidak bisa dipecahkan,” kata imam itu.

“Kami berduka, namun jiwa kami tidak hancur. Kami hidup. Kami bersama. Kami bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun memecah belah kami,” tambahnya seraya gemuruh tepuk tangan dari kerumunan warga kota yang diperkirakan berjumlah 20.000 orang itu.

Selain itu, pemakaman massal juga dilakukan untuk memakamkan 26 korban di sebuah pemakaman umum, di mana lebih dari 12 korban juga telah dimakamkan disana. Anggota keluarga bergiliran membagikan sekop dan gerobak untuk menguburkan orang yang mereka cintai. Pemakaman hari Jumat ini (22/03/2019) turut memakamkan seorang korban dengan usia yang paling muda diantaranya korban lainnya, yaitu Mucaad Ibrahim yang berusia 3 tahun.

Warga asli Christchurch, Fahim Imam, 33, kembali ke kota untuk shalat Jumat. Ia pindah tiga tahun lalu dan saat ini tinggal di Auckland, kota terbesar di Selandia Baru.

“Sungguh menakjubkan melihat bagaimana negara dan masyarakat telah bersatu – benar-benar membuat saya terpukau,” tutur Imam sebelum shalat Jumat dimulai.

Ketika ia turun dari pesawat Jumat pagi, ia melihat seseorang memegang tanda yang bertuliskan “jenazah”. Dimana tanda tersebut menyimbolkan sebuah doa pemakaman bagi jamaah Muslim yang menjadi korban penembakan. Ia juga menambahkan bahwa terlihat warga lainnya yang menawarkan tumpangan gratis menuju ibadah shalat Jumat.

“Saat saya mendarat di Christchurch, saya bisa merasakan cinta di sini. Saya tidak pernah merasa lebih bangga menjadi seorang Muslim, atau seorang Kiwi dalam hal ini. Itu membuat saya benar-benar bahagia bisa mengatakan bahwa saya seorang yang baru, orang Selandia Baru,” kata Imam.

Ia sempat merasa sedikit tak percaya saat melihat masjid tempat yang dulu sering ia gunakan untuk beribadah, kini dikelilingi bunga tanda duka cita dan penghormatan. Peringatan tersebut dilakukan sehari setelah pemerintah Selandia Baru mengumumkan larangan senjata api semi-otomatis “gaya militer” seperti senjata yang digunakan dalam serangan Jumat lalu di Masjid Al Noor dan Masjid  Linwood.

Larangan penjualan pun segera diberlakukan pada hari Kamis (21/03/2019) untuk mencegah penimbunan, dan undang-undang baru akan dilancarkan melalui Parlemen yang akan memberlakukan larangan total pada senjata, kata Ardern.

“Setiap senjata semi-otomatis yang digunakan dalam serangan teroris pada hari Jumat (15/03/2019) akan dilarang,” kata Ardern.

Rancangan undang-undang senjata didukung tidak hanya oleh Partai Buruh liberal Ardern tetapi juga Partai Nasional oposisi konservatif, sehingga diharapkan hal tersebut dapat segera disahkan menjadi undang-undang. Sebelumnya, Selandia Baru tidak memiliki hak konstitusional untuk kepemilikan senjata.

Dalam kesempatan lainnya, Samier Dandan, presiden Asosiasi Muslim Lebanon di Sydney dan delegasi 15 pemimpin Muslim direncanakan akan terbang ke Christchurch untuk menghadiri peringatan sepekan pasca peristiwa penembakan.

“Itu adalah tindakan terorisme buruk yang terjadi di kota yang indah dan damai,” kata Dandan.

Ia mengatakan bahwa duka yang ia rasakan tidak bisa dibandingkan dengan keluarga yang ia kunjungi, dimana mereka harus kehilangan orang yang dicintainya. Ia terinspirasi oleh ketangguhan mereka, katanya.

“Dan saya harus memberikan rasa hormat saya kepada perdana menteri Selandia Baru, dengan posisi dan tindakannya,” katanya.

Ismat Fatimah, 46, mengatakan bahwa dirinya merasa sedih melihat masjid Al Noor, yang masih dikelilingi oleh barikade konstruksi, petugas polisi bersenjata dan gundukan besar bunga serta pesan belasungkawa.

“Kami merasa lebih kuat dari sebelumnya, dan kami adalah satu,” katanya.

Ia berkata bahwa dirinya secara pribadi berdoa untuk orang-orang yang meninggal.

“Aku hanya membayangkan apa yang terjadi Jumat lalu,” katanya.

“Orang-orang berlarian ketakutan dan tak berdaya. Itu tidak benar.”

Erum Hafeez, 18 mengatakan bahwa ia merasa terhibur dengan tanggapan luar biasa dari warga Selandia Baru.

“Kami dirangkul oleh masyarakat Selandia Baru, kami tidak sendirian,” tutur Hafeez.

Imam masjid Al Noor mengatakan bahwa para petugas telah bekerja keras untuk memperbaiki fasilitas yang mengalami kerusakan, beberapa di antaranya menawarkan layanan mereka secara gratis. Fouda mengharapkan masjid akan dibuka kembali pekan depan.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here