Turki Secara Resmi Mengubah Nama di PBB Menjadi Türkiye

BERITATURKI.COM, New York (Amerika Serikat)  – Turki telah mengatakan kepada PBB bahwa, atas perintah presidennya, ingin mulai sekarang disebut “Türkiye” dalam semua bahasa, PBB mengumumkan pada Kamis (02/05/2022).

“Perubahan itu langsung,” Stephane Dujarric, juru bicara kepala AS, mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) melalui email.

Dia mencatat bahwa surat resmi Ankara yang meminta perubahan telah diterima di markas New York AS pada hari Rabu.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu telah tweet foto dirinya yang menandatangani surat itu, ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Dengan surat yang saya kirim ke Sekretaris Jenderal PBB hari ini, kami mendaftarkan nama negara kami dalam bahasa asing di AS sebagai Türkiye,” tulisnya.

Dia menambahkan bahwa perubahan itu akan membantu “meningkatkan nilai merek negara kita,” sebuah inisiatif yang dimulai oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang telah memimpin negara itu selama hampir dua dekade.

Selama beberapa tahun terakhir, negara ini telah berusaha mengubah branding pada produk -produknya dari “Made in Turki” menjadi “Made in Türkiye.”

Selain membuat nomenklatur AS cocok dengan bagaimana bangsa dieja dalam bahasa Turki, pembaruan ini juga akan membantu membedakan negara dari burung dengan nama yang sama dalam bahasa Inggris.

Langkah Turki untuk mengubah nama resminya menjadi “Türkiye” di AS mengikuti permintaan oleh Ankara telah menerima liputan media yang luas di pers internasional.

Anadolu Agency (AA) pertama kali mengumumkan bahwa AS telah mendaftarkan “Türkiye” sebagai nama baru negara itu.

The Associated Press, NPR, CBS, Al Jazeera, Prancis 24, Canberra Times, WBTV, surat kabar Yunani Kathimerini, Greek City Times dan banyak situs web mengumumkan berita tersebut, mengutip Anadolu Agency.

“Perubahan nama mungkin tampak konyol bagi sebagian orang tetapi menempatkan Erdogan dalam peran pelindung, melindungi rasa hormat internasional untuk negara itu,” kata profesor Universitas Georgetown Mustafa Aksakal seperti dikutip dalam The New York Times.

Surat kabar itu juga mencatat bahwa langkah itu datang menjelang pemilihan presiden tahun depan serta seratus tahun pendirian negara setelah pembubaran Kekaisaran Ottoman.

Sumber : Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here