Turki Peringati Hari Kesadaran Autisme Sedunia

0
20

BERITATURKI.COM, Ankara – Turki pada Selasa, 2 April 2019, menandai Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang diperingati secara internasional setiap tanggal 2 April sejak ditetapkan oleh PBB pada tahun 2007. Autisme atau gangguan spektrum yang mengacu pada sekelompok gangguan perkembangan saraf dengan keparahan variabel yang ditandai dengan pola perilaku yang berulang dan kesulitan komunikasi serta interaksi sosial.

“Masalah utama kami dengan siswa autis adalah komunikasi,” ungkap Fatma Nur Tilev yang merupakan pengajar anak-anak disabilitas di Ankara, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Individu yang menderita autisme parah menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kontak mata, melakukan keterampilan sehari-hari dan perawatan diri,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa masalah lain yang ia temukan menantang adalah tentang perilaku obsesif dari siswa autis. Ia juga mencatat hal tersebut harus ditangani pada usia dini.

“Sangat penting untuk mengatasi masalah seperti itu ketika individu penderita autis masih berusia muda. Dengan pendidikan dan pelatihan yang tepat, mereka dapat mengembangkan perilaku sosial yang sama seperti teman sebaya mereka,” katanya.

Mengacu pada siswanya yang autis yang mulai belajar dengannya sejak usia dini, Tilev mengatakan bahwa siswa tersebut dapat melanjutkan pendidikannya dengan cara standar seperti halnya siswa lain tanpa gangguan.

Boran Omer Bora, seorang pelatih di “Ankara Altay Balgat Football School” di distrik Cankaya Ankara, mengatakan bahwa ia selalu membawa anak-anak autis ke dalam timnya tanpa membeda-bedakan mereka.

“Ya, memang benar bahwa mereka mengalami kesulitan dalam beradaptasi, tetapi mereka berkembang dengan cepat jika pelatihan dan perawatan yang diperlukan diberikan secara tepat,” katanya.

Bora menambahkan bahwa semua orang harus merasa bertanggung jawab untuk melanggar tabu yang terkait dengan penderita autis.

“Siswa kami yang normal dapat menyambut anak-anak autis, dan mereka menjadi teman dari waktu ke waktu,” katanya sambil menggaris bawahi hal tersebut akan berkontribusi pada pengembangan kedua belah pihak.

“Kami berkoordinasi erat dengan para dokter dan pelatih khusus,” tambahnya.

Bora mengatakan bahwa salah satu muridnya didiagnosis mengidap autisme dan menunjukkan perkembangan lebih baik dari waktu ke waktu melalui pelatihan dan pertemanan yang ia lakukan ketika berlatih di dalam tim. Bora juga menerima laporan yang menyatakan bahwa ia telah menyingkirkan batasan-batasan penderita autisme sepenuhnya.

“Jika Anda mencintai dan menghormati orang-orang dengan autisme dan peduli pada mereka, mereka dapat meraih berbagai hal,” katanya.

Seorang ibu dari anak autis berusia 15 tahun, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa pendidikan anak-anak autis harus didasarkan pada kegiatan dan pengalaman kehidupan nyata.

“Pembelajaran kehidupan nyata sangat penting bagi anak-anak autis karena mereka meningkatkan interaksi sosial dengan orang lain,” katanya.

Ia mengatakan bahwa putranya didiagnosis menderita autisme pada usia dua tahun dan kehidupan mereka telah berubah secara drastis sejak saat itu.

“Tetapi dengan pendidikan yang tepat, kami telah mencapai banyak hal berkat olahraga dan perawatan khusus. Masyarakat harus merangkul para siswa autis dan negara harus memberikan lebih banyak fasilitas,” tambahnya.

Menurut perkiraan dari Platform Autisme Turki yang dibentuk oleh LSM yang didirikan oleh orang tua dari anak-anak dengan penderita autisme, ada sekitar 550.000 individu autis di Turki, 150.000 di antaranya berusia di bawah 14 tahun.(Yn)

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here