Turki Minta Cina Tutup Kamp Penahanan Uighur

0
41

BERITATURKI.COM, Ankara – Juru bicara kementerian luar negeri Turki mengecam kebijakan asimilasi sistematis pemerintah Cina terhadap warga Turki Uighur, dengan mengatakan bahwa hal  tersebut adalah hal yang sangat memalukan dalam sebuah pernyataan tertulis pada hari Sabtu.9 Februari 2019.

“Kebijakan asimilasi sistematis pemerintah Cina terhadap warga Turki Uighur adalah hal yang sangat memalukan bagi umat manusia,” ungkap Juru Bicara Hami Aksoy.

“Bukan lagi rahasia bahwa lebih dari satu juta orang Turki Uighur, yang terjaring penangkapan sewenang-wenang, menjadi sasaran penyiksaan dan pencucian otak politik di pusat-pusat konsentrasi dan penjara,” tambah Aksoy.

“Warga etnis Uighur yang tidak ditahan di kamp-kamp juga berada di bawah tekanan besar. Mereka [etnis Uighur] yang tinggal di luar negeri tidak dapat mendengar kabar dari kerabat mereka yang tinggal di wilayah ini, ” tambahnya.

Aksoy menyatakan bahwa Turki mengundang pihak berwenang Cina untuk menghormati hak asasi manusia etnis Uighur dan menutup kamp konsentrasi.

“Kami juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan Sekretaris Jenderal PBB untuk mengambil langkah-langkah efektif untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan di Wilayah Xinjiang,” tambahnya.

Juru bicara kementerian luar negeri juga menyampaikan duka atas kematian penyair dan musisi Uighur, Abdurehim Heyit, pada hari Sabtu (09/02/2019).

“Dalam lingkungan yang seperti itu, kami merasakan duka yang mendalam atas hukuman 8 tahun penjara yang dijatuhkan kepada penyair terkenal Abdurehim Heyit, karena tuduhan yang dikaitkan pada karyanya. Ia  meninggal pada tahun kedua dari penahanannya,” tutur Aksoy.

“Insiden tragis ini semakin memperkuat reaksi publik Turki terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang serius di Wilayah Xinjiang, “ tambahnya.

Aksoy menyuarakan harapan Turki dari pemerintah Cina untuk mempertimbangkan reaksi orang-orang Turki atas pelanggaran HAM yang serius. Wilayah Xinjiang Cina adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga etnis Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh otoritas Cina melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

Cina meningkatkan batasannya di wilayah ini dalam dua tahun terakhir, melarang pria untuk menumbuhkan janggut dan melarang wanita untuk mengenakan jilbab serta memperkenalkan apa yang banyak ahli lihat sebagai program pengawasan elektronik paling luas di dunia, menurut “The Wall Street Journal”.

“Sebanyak 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di Xinjiang, telah dipenjara dalam jaringan yang diperluas dari kamp konsentrasi politik,” menurut pejabat AS dan pakar PBB.

Dalam laporan terakhir yang dirilis pada September lalu, Human Rights Watch menyalahkan pemerintah Cina atas kampanye sistematis pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di barat laut Xinjiang, wilayah otonom di negara itu. Menurut laporan setebal 117 halaman, pemerintah Cina melakukan penahanan massal, penyiksaan dan penganiayaan massal terhadap warga Uighur Turki di wilayah tersebut.

Siapakah Abdurrehim Heyit?

Abdurrehim Heyit, seorang penyair Uighur dan seorang musisi yang terkenal dengan lagu-lagunya yang menceritakan sejarah dan budaya Uighur lahir di kota Kashgar, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, pada tahun 1964. Heyit, yang belajar di Sekolah Seni Rupa di Kashgar, menjadi penyair terkenal di dunia dalam waktu singkat dengan lagu-lagunya yang ia nyanyikan dengan instrumen senar.

Juga dikenal oleh banyak orang di Turki, musisi terkemuka ini mengadakan konser di Universitas Gazi di ibu kota Turki, Ankara, pada 2015. Heyit telah ditahan di Urumqi, pada 2017 tanpa penjelasan resmi dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.(Yn)

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here