Turki Desak Cina untuk Hormati Hak-Hak Muslim Uighur

0
59
Foto Daily Sabah

BERITATURKI.COM, Ankara – Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu, mendesak Cina untuk menghormati hak-hak minoritas, dimana kondisi sangat memprihatinkan berupa tindakan-tindakan intoleran kepada etnis Turki Uighur dan kelompok Muslim lainnya berlangsung di Cina. Menghadiri sesi pertama Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) ke-40 di Jenewa, Swiss pada hari Senin, 25 Februari 2019, Çavuşoğlu berkesempatan menyampaikan pidato dalam konferensi terkait masalah pelucutan senjata.

Secara terpisah pada sesi yang sama, Çavuşoğlu meminta pemerintah Cina untuk memisahkan teroris dari orang-orang tak berdosa dan menggarisbawahi bahwa ada pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi terhadap Muslim Uighur. Çavusoğlu juga mengatakan bahwa Turki mengakui hak Cina untuk memerangi terorisme, namun Turki pun dengan tegas mendesak negara itu untuk menghormati kebebasan beragama dan melindungi identitas budaya Uighur serta Muslim lainnya.

“Dan saya harus menggarisbawahi bahwa Turki mendukung kebijakan ‘One China Policy’,” pungkas Çavuşoğlu.

Ia merujuk pada sikap Cina yang memplokamirkan bahwa negara itu meliputi Taiwan dan daerah otonom termasuk Xinjiang dan Tibet.

Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang bagian barat China adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga etnis Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang berjumlah sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang yang telah lama menuduh pemerintah Cina melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi. Menurut data PBB, sebanyak 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di Xinjiang, telah dipenjara dalam jaringan yang diperluas dari kamp-kamp yang disebut sebagai pendidikan ulang politik.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada September lalu, Human Rights Watch menyalahkan pemerintah Cina atas kampanye sistematis terkait pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di barat laut Xinjiang, wilayah otonom di negara itu. Turki, yang memiliki ikatan budaya dan agama dengan Uighur, telah menjadi satu-satunya negara Muslim mayoritas yang mengkritik Beijing atas tindakan keras terkait agama dan bahasa minoritas. Kementerian Luar Negeri Turki menyebut perlakuan Cina terhadap Uighur merupakan tindakan memalukan bagi umat manusia. Çavuşoğlu dalam pidatonya juga mengecam Israel dengan mengatakan bahwa pelanggaran HAM terhadap Palestina telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Usai sesi acara tersebut berakhir, Çavuşoğlu menulis tweet yang berisi pernyataan bahwa Turki selalu mementingkan hak asasi manusia meskipun berperang serentak melawan berbagai ancaman teror, khususnya terhadap Gülenist Terror Group (FETÖ), PKK, afiliasinya di Suriah, Unit Perlindungan Rakyat (YPG) dan Daesh.

“Perlucutan senjata, nonproliferasi, dan konflik bersenjata sangat penting untuk keselamatan, keamanan dan perdamaian global. Mereka bernilai lebih tinggi selama masa ketidakstabilan dan ketidakpastian,” kata Çavuşoğlu.

“Di bagian dunia, Turki secara langsung dihadapkan pada banyak risiko dan ancaman. Kami bertempur dengan berbagai organisasi teroris pada saat yang sama dari Daesh ke PKK, PYD [Partai Persatuan Demokratik], YPG, dan FETÖ, sementara konflik di Suriah hampir di tahun kesembilan,” tambahnya.

Selama konferensi tersebut, Çavuşoğlu juga mengadakan pertemuan bilateral dengan rekan-rekannya dan para pimpinan UN, termasuk kepala Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet. Çavuşoğlu kembali menulis dalam tweetnya bahwa ia memberi selamat kepada Bachelet atas masa jabatan barunya, dan mereka pun turut membahas upaya Turki untuk menjelaskan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

“Semoga @ambachelet menjalani masa jabatan yang sukses. UN memuji sikap kita yang berprinsip dan transparan atas pembunuhan Jamal Khashoggi,” cuit Çavuşoğlu.

Khashoggi terbunuh dan diduga dimutilasi oleh sekelompok tim operasi Saudi di konsulat negara itu di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Awalnya pihak konsulat menyangkal dan kemudian meremehkan insiden itu sebagai pembunuhan tak sengaja dalam perkelahian, hampir tiga minggu setelah hilangnya Khashoggi, Riyadh akhirnya mengakui bahwa Khashoggi dibunuh dalam tindakan yang direncanakan tetapi membantah keterlibatan keluarga kerajaan. Insiden itu disalahkan pada pejabat tingkat bawah, termasuk lima orang yang kini menghadapi hukuman mati karena keterlibatan mereka. Meskipun lebih dari 100 hari berlalu sejak pembunuhannya, keberadaan tubuh Khashoggi tetap tidak diketahui.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here