Turki dan Rusia Menyetujui Solusi Politik di Libya

0
51

Kedua negara melalui Kementerian Luar Negeri-nya mendesak untuk melanjutkan upaya bersama, mendorong pihak bertikai di Libya untuk menciptakan kondisi bagi gencatan senjata yang ‘abadi dan berkelanjutan’, ujar sumber dari Kemenlu Turki.

BERİTATURKİ.COM, Ankara| Turki pada hari ini (22/07) mengumumkan bahwa mereka setuju dengan Rusia bahwa konflik Libya tidak akan diselesaikan melalui cara militer dan bahwa itu hanya dapat diselesaikan melalui proses politik yang difasilitasi oleh PBB, yang dipimpin dan dengan menghormati kedaulatan Pemerintah sah Libya.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan kedua negara ini akan melanjutkan upaya bersama, termasuk mendorong pihak Libya untuk melakukan penyelesaian konflik, serta menciptakan “kondisi untuk gencatan senjata yang abadi dan berkelanjutan.”

Kemenlu Turki mengatakan bahwa dalam konsultasi tingkat tinggi, Ankara dan Moskow sepakat untuk memfasilitasi “kemajuan dialog politik intra-Libya” sejalan dengan Konferensi Berlin 2020 di Libya dan berkoordinasi dengan PBB.

Pada bulan Januari 2020, sebuah konferensi berlangsung di ibukota Jerman, Berlin untuk memulai proses politik dan mencapai gencatan senjata permanen di Libya. Kekuatan global dan aktor regional menyatakan komitmennya untuk mendukung gencatan senjata, menghormati embargo senjata dan mendukung proses politik yang difasilitasi PBB.

Rusia dan Turki akan meminta pihak Libya untuk mengambil langkah-langkah untuk “akses kemanusiaan yang aman dan pengiriman bantuan mendesak kepada semua Rakyat Libya yang membutuhkan” dan berwncana akan membentuk Kelompok Kerja Bersama di Libya.

Kemenlu Turki menambahkan bahwa mereka akan mengadakan putaran konsultasi berikutnya di Moskow dalam “waktu dekat”.

Kedua pihak menegaskan kembali “komitmen kuat mereka terhadap kedaulatan, kemerdekaan, persatuan, dan integritas teritorial Libya,” mereka menggarisbawahi perlunya “memerangi individu dan entitas teroris.”, Ujar pihak Kemenlu Turki lagi.

Mereka juga menegaskan kembali tekad mereka untuk melanjutkan pembicaraan untuk mencapai keamanan dan stabilitas di negara Afrika Utaritu serta meningkatkan upaya kemanusiaan di sana.

Sejak penggulingan mendiang Presiden Muammar Gaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: Haftar di Libya timur didukung oleh Mesir dan UEA, dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) di Tripoli, yang mendapatkan pengakuan PBB dan internasional.

Pemerintah sah Libya (GNA) telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April lalu untuk membangun bargaining di negara kaya minyak tersebut, sampai akhir juni lalu setidaknya lebih dari 1.000 orang tewas dalam pusaran konflik itu.

Haftar mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab, Mesir, dan Rusia sementara pemerintah yang diakui PBB didukung oleh Turki.

Pemerintah Libya baru-baru ini mencapai kemenangan signifikan melawan Haftar, sehingga mendorong pasukan pemberontak itu keluar dari Tripoli dan kota Tarhuna yang strategis.AA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here