Turki akan Memimpin Proses Perdamaian Libya

0
166

Kehadiran Turki di negara yang dilanda perang, untuk mendukung pemerintah Libya yang didukung PBB, dukungan itu akan tetap utuh dan berlanjut sebagai kekuatan utama menuju pemulihan perdamaian, stabilitas, dan solusi politik permanen dalam antisipasi perang saudara yang telah berlangsung selama sembilan tahun.

BERİTATURKİ.COM, Tripoli|Dimumkannya gencatan senjata oleh pihak-pihak yang sedang berkonflik di Libya pekan lalu telah dipuji oleh komunitas internasional dan merupakan langkah konstruktif pertama yang diambil negara itu menuju perdamaian sejak pecahnya pertempuran.

Sebagai salah satu aktor penting di negara itu dan pendukung setia pemerintah Libya yang diakui PBB, Turki akan memimpin proses politik yang akan datang yang akan mewujudkan pemulihan perdamaian dan stabilitas di negara Afrika Utara itu, sebagaimana disampaikan para ahli.

“Sementara signifikansi peran Turki di mata GNA (Pemerintah Kesepakatan Nasional yang didukung PBB) telah meningkat, Ankara telah menjadi aktor penting dari mereka yang memimpin proses Libya untuk resolusi politik. Turki akan menjadi negara penentu dalam rekonstruksi negara serta tentara GNA dan sektor keamanan, “kata Can Acun, pakar kebijakan luar negeri di Foundation for Political, Economic and Social Research (SETA) kepada Daily Sabah .

Setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan perang saudara, Fayez Sarraj, Presiden GNA, yang berbasis di ibu kota Tripoli, dan Aguila Saleh Issa, ketua parlemen yang berbasis di timur yang didukung oleh pemberontak Jenderal Khalifa Haftar, masing-masing mengumumkan gencatan senjata pada hari Jumat pekan lalu. Para pemimpin, dalam pernyataan terpisah, mengatakan mereka ingin mengakhiri konflik berkepanjangan dan akan mengadakan pemilihan dalam waktu dekat.

Libya telah dilanda kekacauan sejak penggulingan Moammar Gadhafi pada 2011. Meskipun pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh Haftar yang berbasis di timur. Klaim terhadap pasukan keamanan sementara negara telah menjadi medan pertempuran bagi milisi suku, teroris dan tentara bayaran.

Nurşin Ateşoğlu Güney dari Universitas Nişantaşı dan kepala Pusat Keamanan Mediterania (CEMES), menggarisbawahi bahwa kehadiran Turki di Libya adalah sah dan sesuai dengan hukum internasional, Al-Sarraj juga telah mendapatkan legitimasi selain dari PBB juga dari negara-negara tetangga mereka seperti Maroko dsn Tunisia, namun Mesir mendukung pemberontakan Haftar.

Sejak April 2019, pasukan tidak sah Haftar telah melancarkan serangan ke ibu kota Libya, Tripoli dan bagian lain Libya barat laut, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk warga sipil. Namun, GNA menggagalkan kampanye 14 bulan Haftar dengan merebut kembali provinsi-provinsi strategis dan membersihkan Tripoli selatan dari milisinya dengan bantuan Ankara.

“GNA yang sah telah mengalami masa-masa sulit menghadapi serangan dari Haftar dan pendukungnya dan kehilangan banyak wilayah, termasuk beberapa di bagian barat negara itu, dan berada di ambang kehilangan Tripoli dan Misrata ketika terpojok. Namun, intervensi Turki telah mengubah semua keseimbangan, dan setelah itu Jenderal Haftar kehilangan seluruh peran politik di Libya Barat,” ujar Acun menambahkan.

“Haftar, yang belum menerima satu pun proposal gencatan senjata hingga sekarang, harus mematuhi yang ini. Panglima Haftar juga, sebagian besar, kehilangan kredibilitasnya sebagai aktor politik,” tambah Acun, seraya mengatakan bahwa Issa telah memimpin pengumuman gencatan senjata. “Situasi ini sukses besar tidak hanya untuk GNA tetapi juga untuk Turki,” kata pakar kebijakan luar negeri SETA.

Dewan Tinggi Negara Libya, badan penasehat GNA, telah dengan keras menolak dialog apapun dengan Haftar. “Setiap dialog atau kesepakatan harus berdasarkan perjanjian politik Libya, yang mengatur mekanisme dialog hanya di antara badan-badan terpilih,” katanya pada Jumat, İa menyerukan juga untuk melanjutkan produksi dan ekspor minyak dan meminta mereka yang bertanggung jawab atas penutupan minyak.

Dewan tinggi Libya mengapresiasi peran Turki dan Qatar

Dewan Tinggi Negara Libya pada hari Sabtu memuji peran Turki dan Qatar dalam mengakhiri serangan pemberontak Haftar di Tripoli dan bagian barat negara itu.

“Kami menghargai peran negara-negara sahabat dan persaudaraan yang mendukung kami dalam menghadapi agresi teroris Haftar dan tentara bayarannya, khususnya Turki dan Qatar,” Sebagaimana pernyataan resmi yang dilansir dari dewan nasional GNA.

Dewan itu juga menekankan pentingnya memperluas otoritas GNA yang berbasis Tripoli di seluruh negeri. Ia juga meminta semua pihak untuk menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tentang Libya.

Turki dan Qatar memainkan peran penting dalam mendukung pemerintah Libya yang sah dan mempertahankan Tripoli melawan pasukan Haftar, sementara negara-negara termasuk Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Prancis, dan Rusia mendukung jenderal pemberontak tersebut.

“Keberpihakan Qatar telah membuka jalan bagi penyertaan Jerman ke dalam proses untuk menemukan solusi bagi perang saudara Libya, dan menjadi keberhasilan utama Turki, yang menggunakan diplomasi multi-jalur yang mengarah ke titik ini,” sebagaimana disampaikan Güney. “Untuk periode mendatang, penting untuk mendiversifikasi dan meningkatkan jumlah negara yang telah mengadopsi sikap dekat dengan Turki dalam konflik Libya untuk kerja sama dan dukungan di sekitar meja perundingan.”

Güney menjelaskan bahwa tindakan Turki di wilayah lain selain Libya sangat menentukan dalam masalah tersebut. “Penemuan gas alam Turki di Laut Hitam (dan) aktivitasnya di Mediterania Timur semuanya memperkuat determinasi Turki di Kawasan” katanya.

Pada 27 November 2019, Ankara dan Tripoli menandatangani dua pakta terpisah: satu tentang kerja sama militer dan lainnya tentang perbatasan laut negara-negara di Mediterania Timur. Sebagai bagian dari kesepakatan militer, Turki telah mengirim penasihat untuk membantu Tentara Libya mengalahkan milisi Haftar. Pada Januari, Turki mulai mengerahkan tentaranya ke Libya setelah Parlemen menyetujui mosi terhadap pemberontak, dan Turki menyambut seruan Libya untuk mengirimkan pasukan.

Dalam lingkup kerja sama antara Ankara dan Tripoli, penasihat dan staf militer Turki juga akan memberikan bantuan untuk merestrukturisasi Tentara Libya menjadi tentara reguler segera setelah kedatangan mereka di Komando Penasihat Bantuan Pelatihan dan Kerja Sama Keamanan Pertahanan yang dibentuk sebagai bagian dari nota kesepahaman (MoU) antara Turki dan Libya. Mereka akan memberikan pelatihan dan bantuan logistik bekerja sama dengan Qatar setelah serangkaian pertemuan trilateral. Tentara Libya saat ini merupakan penggabungan informal dari milisi, tentara suku dan klan.

Ketidakpercayaan, perbedaan kritis tetap ada

Sekarang para pihak telah mengambil langkah pertama menuju dialog setelah perang saudara yang hampir deadlock, proses tersebut harus diterjemahkan ke dalam perdamaian permanen. Namun, tekanan internasional telah berusaha untuk membawa pihak Libya ke kesepakatan beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, dan kesepakatan yang langgeng belum tercapai. Deklarasi gencatan senjata telah diapresiasi secara regional dan internasional, tetapi Haftar belum mengomentari perkembangan tersebut.

Sebelum seruan untuk gencatan senjata, pertempuran terhenti di sekitar pelabuhan Mediterania tengah dekat kota Sirte, sebuah kota yang menjadi pintu gerbang ke ladang minyak dan terminal ekspor Libya timur, dan ke pangkalan udara utama Jufra di selatan.

Kota utama Sirte, yang terletak sekitar 450 kilometer (280 mil) di timur ibu kota, saat ini berada di bawah kendali pasukan Haftar. Sirte adalah pintu gerbang untuk mengontrol instalasi minyak penting, terminal, dan ladang minyak yang telah ditutup pasukan yang setia kepada Haftar awal tahun ini, memotong sumber pendapatan utama negara.

Kerugian dari penutupan sumur minyak Libya dan blokade saat ini yang diberlakukan oleh milisi Haftar telah terakumulasi mencapai hampir 6 miliar dolar selama lima bulan terakhir, kata Perusahaan Minyak Nasional (NOC) negara itu pada bulan Juni.

Bagi Sarraj, Sirte dan Jufra harus didemiliterisasi. Sebaliknya, sementara Issa tidak menyebut zona demiliterisasi melainkan mengusulkan pembentukan dewan kepresidenan baru yang berbasis di Sirte.

“Keharusan demiliterisasi wilayah Sirte dan Jufra akan mengubah keseimbangan penguasaan ladang minyak. Namun, Libya memiliki jalan panjang di depannya. Pada akhirnya, seruan gencatan senjata saat ini hanyalah langkah pertama menuju solusi politik,” sebut Acun.

Güney berharap langkah yang telah di tempuh Libya menuju perdamaian dapat berjalan baik. İa menekankan bahwa agar gencatan senjata dapat berjalan lama, diperlukan jaminan internasional.

Güney menunjukkan bahwa Libya telah menjadi panggung untuk persaingan kekuatan internasional karena signifikansi geostrategis dan kekayaan minyaknya. “Rusia adalah aktor utama di sini; Namun, AS, yang belum menyatakan sikap yang solid terhadap perkembangan terbaru di negara itu, tidak akan menginginkan kehadiran Rusia yang kuat di sayap selatan NATO. İa menambahkan bahwa sikap AS yang tidak pasti berakar pada pemilu yang akan datang tetapi terlepas dari siapa yang terpilih sebagai presiden, AS pasti akan menentang Rusia. Turki dapat mengambil keuntungan dan meningkatkan langkah diplomatiknya dengan AS dan Uni Eropa dalam masalah ini,” katanya,

Rusia, di sisi lain, yang memiliki kehadiran militer di negara itu melalui tentara bayaran Wagner Grup dan dukungan senjata ke Haftar, tidak ingin mundur dengan mudah dari Libya dan akan bersikeras mempertahankan Sirte dan Jufra, tambah Güney.

Grup Wagner Rusia, salah satu grup tentara bayaran paling kontroversial di dunia dan dimiliki oleh Yevgeny Prigozhin, seorang pengusaha yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, ia telah mengubah pangkalan dan bandara Jufra menjadi pusat komando untuk mengambil kendali atas ladang minyak di selatan. Menurut laporan media sebelumnya dan Pentagon AS, Grup Wagner telah membawa lebih dari 1.000 anggota milisi ke Libya, termasuk pilot Rusia yang melatih pasukan setia kepada pemberontak Haftar.

Pada bulan Mei, komando militer AS untuk Afrika (AFRICOM) melaporkan bahwa setidaknya 14 pesawat tempur Mig-29 dan Su-24 telah diterbangkan dari Rusia ke Suriah, dan sebelumnya memberikan bukti foto bahwa Wagner telah meletakkan ranjau darat dan alat peledak improvisasi di wilayah sipil di dan di sekitar Tripoli.DS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here