Tagihan Impor Energi Turki Naik 15,6 Persen pada Tahun 2018

0
34

BERITATURKI.COM, Ankara – Tagihan impor energi Turki pada tahun 2018 meningkat hampir 15,6 persen dibandingkan dengan tahun 2017, menurut data Turkish Statistical Institute (Turkstat) pada hari Rabu, 6 Februari 2019. Data tahunan Turkstat untuk tahun 2018 menunjukkan bahwa Turki membayar $ 42,99 miliar untuk impor energinya, lebih tinggi dibandingkan tahun 2017, yaitu $ 37,20 miliar. Total tagihan impor Turki pada tahun 2018 menunjukkan penurunan sebesar 4,6 persen atau senilai $ 223 miliar, dimana sektor energi menyumbang 19,2 persen.

“Tahun lalu, harga minyak meningkat lebih dari $ 80 per barel. Tagihan impor energi Turki meningkat sebagai akibat tren kenaikan ini di pasar internasional, karena Turki mengimpor 90 persen dari permintaan minyaknya dan 99 persen dari permintaan gas alamnya,” ungkap Yunus Furuncu, peneliti energi di Yayasan Ankara untuk Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA).

Mengutip Anadol Agency, Furuncu menduga kenaikan harga minyak adalah alasan utama kenaikan tagihan impor energi di negara Turki. Pada 3 Oktober 2018, harga patokan minyak mentah internasional Brent mencapai nilai tahunan tertinggi, yakni mencapai $ 86,74 per barel. Selama periode dari Mei hingga Desember, harga minyak sangat dipengaruhi oleh keputusan AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran, bersama dengan langkah OPEC untuk menyeimbangkan kembali pasar serta dengan meningkatkan ketegangan perdagangan antara AS dan Cina. Pada 6 November 2017, tingkat minyak mentah Brent tertinggi untuk 2017 adalah $ 64,27 per barel.

Untuk meringankan beban tagihan energi tahunan negara itu pada defisit neraca berjalannya, Furuncu menyarankan agar Turki meningkatkan pangsa sumber daya terbarukan dalam bauran energinya. Meningkatkan jumlah energi yang dihasilkan dari sumber-sumber lokal Turki, seperti lignit, juga akan menyebabkan pengurangan volume energi yang diimpor dari luar negeri, menurut Furuncu. Ia juga menyoroti pentingnya curah hujan dan kondisi cuaca mengingat bahwa hal tersebut membantu meningkatkan produksi energi dari tenaga air.

“Kondisi curah hujan dan cuaca memiliki efek langsung pada tagihan impor energi Turki. Ketika bendungan diisi, Turki mengambil keuntungan dari pembangkit listrik tenaga airnya untuk menghasilkan listrik dan mengurangi penggunaan gas alam,” kata Furuncu.

Ia menambahkan bahwa upaya menuju efisiensi energi yang lebih besar juga akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tagihan impor. Furuncu memperkirakan bahwa tagihan impor energi untuk tahun depan adalah sekitar $ 45 miliar, namun, ia menambahkan bahwa jumlah ini akan ditentukan oleh perkembangan produksi serpih AS serta pertumbuhan ekonomi dunia.

“Pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi adalah faktor pendukung, yaitu harga energi naik sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dunia sebagai hasil dari keseimbangan penawaran dan permintaan,” katanya.

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi, disertai dengan peningkatan produksi serpih AS yang menyebabkan tren penurunan harga, sementara di sisi lain, sanksi terhadap Iran, perkembangan di Venezuela, pengurangan produksi oleh anggota OPEC dan non-OPEC mengarahkan kepada tren kenaikan harga.

“Jadi kita akan melihat beberapa volatilitas di pasar pada tahun 2019. Harga energi akan responsif terhadap perkembangan ini dan ketidakpastian kondisi ini akan menentukan harga. Namun, kami tidak memperkirakan tagihan impor energi Turki yang mengalami peningkatan ketika kami membayar sekitar $ 60 miliar. Ini tidak akan terjadi lagi. Kami mengharapkan penurunan sekitar $ 45 miliar pada 2019,” pungkasnya.

Menurut data Turkstat, tagihan impor energi Turki adalah $ 60,1 miliar pada tahun 2012, dan secara bertahap menurun pada tahun-tahun berikutnya, yaitu $ 55,91 miliar pada 2013, $ 54,90 miliar pada 2014, $ 37,84 miliar pada 2015, dan $ 27,15 miliar pada 2016.(Yn)

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here