Sufisme Ala Turki Sebagai Model Untuk Kesejahteraan Sosial

0
102

Oleh : Martunus (Peminat Kajian Tasawuf dan Penggiat di Balé Institute)

BERITATURKI.COM, Istanbul| Tasawwuf sering dianggap sebagai biang keladi kemunduran politik, ekonomi dan budaya umat Islam oleh para pembaharu agama Islam semisal Muhammad Ibn Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Musa Jarullah Bigiev dan lain-lain. Bagi mereka khususnya Ibn Abdul Wahab melihat tasawuf sebagai sumber kerusakan tauhid umat Islam sebab berisikan takhayul, khurafat, pemujaan para wali yang berlebihan dan mitos kasyf yang dituduh olehnya sebagai tipuan para sufi yang mengaku wali. Para reformis semacam Al-Afghani, Abduh dan Musa Bigiyev melihat tasawuf sebagai penyebab enggannya umat Islam untuk bangkit kembali dan kemalasan bekerja untuk urusan dunia karena doktrin “zuhud” dan “qana’ah”-nya hingga menurut mereka para sufi merasa cukup dengan “sekerat roti dan sehelai jubah.” Juga praktek isolasi diri dari manusia yang menjadi tradisi sebagian sufi yang disebut “uzlah” disebut sebagai jalan tersingkirnya kaum sufi dari kehidupan sosial dan dari pencarian solusi terhadap problematika-problematika sosial. Ketaatan para sufi kepada mursyid-nya juga dituduh sebagai sebab hilangnya nalar kreatif untuk melakukan inovasi-inovasi progresif untuk kebangkitan kembali peradaban Islam. Singkatnya ber-Islam harus semurni Islam yang ada pada masa Rasulullah, Sahabat serta Tabi’ dan Tabi’in yang mampu menghidupkan kembali semangat kebangkitan (revivalism) umat Islam. Namun apakah tasawuf belum ada di kurun terbaik tersebut?

Mungkin premis mereka tidak seluruhnya salah. Barangkali para sufi yang mereka jumpai adalah figur yang seperti disifatkan di atas, namun kesimpulan-kesimpulan mereka tidak seluruhnya benar, bahkan tidak benar sama sekali jika mereka hanya menilai dari luar kehidupan para sufi tanpa menyelami kehidupan spiritualitas mereka. Sebab setelah ini saya akan memberikan informasi yang menolak semua premis para pembaharu agama tersebut. Menolak segala tuduhan atas tasawuf dan kengganan mereka melihat tasawuf sebagai solusi revitalisasi (kebangkitan kembali) umat Islam di era kontemporer.

Jika kita ibaratkan ada tiga elemen penopang peradaban sebuah bangsa, semacam Otak (intelektual), Hati (spiritual) dan Tulang Punggung (Ekonomi dan Politik), maka tasawuf telah menjadi “Hati” bangsa Turki selama ratusan tahun, jejaknya bisa ditelusuri bahkan sebelum Kekhalifahan Ottoman di-establish-kan. Ayah dari Osman pendiri Kekaisaran Ottoman, Ertugrul Bey adalah seorang Bey (pemimpin) yang terpengaruh dengan mistisme Muhyiddin Ibnu Arabi. Dalam perjalanan Ibn Arabi ke Mekkah dari Cordova (Kordoba), tercatat dua kali beliau singgah di Konya, ibu kota Dinasti Turki Seljuk. Ajaran-ajaran Ibnu Arabi sangat kuat mempengaruhi kehidupan bangsa Turki, sepeninggal beliau, dakwahnya dilanjutkan oleh anak tirinya, Sadruddin Kanawi. Ajaran Wahdatul Wujud Ibnu Arabi yang dianggap sesat di nusantara direspon secara lain di kalangan para sufi di Turki. Bahkan Al-Hallaj yang sangat kontroversial diterima di kalangan pengikut tasawuf Turki sebagai sufi yang salah dimengerti oleh orang-orang yang hanya menghukum secara zahir. Meskipun kalangan sufi Turki menghormati Al-Hallaj selayak kedudukannya dala tasawuf, namun spirit tasawuf yang secara zahir dan batin tidak bertentangan dengan syari’at-lah yang dipraktikkan oleh para pengikut tasawuf di Turki. Diantara para sufi moderat yang menyeimbangkan antara syari’at dan tasawuf yang menjadi panutan para sufi Turki adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Imam Rabbani Ahmad Sirhindi. Nama yang kedua yang paling mempengaruhi pemikiran dan kehidupan banyak kelompok-kelompok sufi tarekat Naqshabandi di Turki dewasa ini seperti Cemaat (baca : jemaat) Ihlas, Cemaat Sulaymaniyah, Cemaat Ismail Ağa, Cemaat Iskender Paşa dan lain-lain. Sementara prinsip washatiyah-nya Imam Al-Ghazali banyak dianut oleh kaum Nurcu (baca : nurju) pengikut Bediuzzaman Said Nursi.

Barangkali para reformis akan terkejut jika nama-nama sekaliber Necmettin Erbakan (Politikus, Mantan Perdana Mentri Turki), Turgut Ozal (Politikus, Mantan Perdana Mentri), Recep Tayyip Erdoğan (Presiden Turki) dan sederet daftar elit politik Turki lainnya adalah pengikut tarekat Naqshabandi di bawah bimbingan Cemaat Iskender Pasha. Dan nama-nama seperti Enver Ören (Konglemerat, pendiri Ihlas Holding), Necip Fazil Kisakurek (Sastrawan, Penulis dan Political Activist) adalah pengikut tarekat Naqshabandi dibawah bimbingan Sayyid Abdul Hakim Arwasi dan muridnya Huseyn Hilmi Isik.

Nama-nama di atas adalah sebagian kecil yang saya kenal dari banyak tokoh lainnya yang telah berkontribusi dalam kebangkitan kembali kaum Islamis di Turki. Necmettin Erbakan adalah ahli Tank, seangkatan dengan mantan presiden Republik Indonesia B.J Habibie yang ahli pesawat terbang saat menempuh pendidikan di Jerman. Beliau mendirikan gerakan Milli Göruş sebagai gerakan politik dan sosial di Turki. Muridnya Recep Tayyip Erdogan sebagai suksesor banyak ide-idenya, mengembalikan marwah Turki di antara bangsa-bangsa modern. Di masa pemerintahan Erdoğan (panggilan akrab Recep Tayyip Erdoğan), Turki berhasil direformasi dalam bidang ekonomi, sosial dan teknologi.

Enver Ören memiliki Ihlas Holding yang menaungi beberapa unit perusahan media dan real estat di bawahnya seperti chanel televisi TGRT, harian Türkiye, Ihlas Yapı (perusahaan real estate terkemuka di Turki) dan banyak lagi lainnya. Salah satu amal usaha dakwah Ihlas Holding adalah mencetak jutaan buku-buku ahlussunnah wal jama’ah yang telah diterjemahkan ke dalam lebih 25 bahasa dan dibagikan secara gratis ke seluruh dunia. Saya adalah penerjemah pertama buku-buku tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Belum lagi jika kita kaji tentang gerakan Nurcu yang terinspirasi dari Said Nursi, mereka salah satu gerakan Islam yang memiliki banyak organisasi yang mengemas dakwah mereka secara modern hingga banyak diminati oleh kalangan muda. Diantara organisasi kaum Nurcu yang terkenal adalah Hayrat Vakfı, Hayalhanem, Nur Mektebi yang memiliki follower cukup ramai di media sosial maupun dunia nyata. Mereka juga memiliki perusahaan-perusahaan sebagai tulang punggung dakwah mereka. Pemikiran Said Nursi juga belakangan ini tren di Indonesia dan banyak dijadikan kajian di berbagai forum-forum kampus Islam di Indonesia.

Mungkin ada yang menggolongkan kelompok-kelompok sufi di atas ke dalam aliran neo- Sufisme. Istilah neo-Sufisme sendiri diciptakan oleh Fazlurrahman. Menurut Rahman, neo- Sufisme adalah tasawuf yang telah diperbahrui, yang terutama dilucuti dari ciri dan kandungan ekstatik dan metafisiknya, dan digantikan dengan kandungan yang tidak lain dari dalil-dalil ortodoksi Islam. Lebih jauh dia menjelaskan pusat perhatian neo-Sufisme adalah rekontruksi sosio-moral dari masyarakat Muslim. Ini berbeda dengan tasawuf sebelumnya, yang terutama menekankan individu bukan masyarakat. Akibatnya, Rahman menyimpulkan, karakter keseluruhan neo-Sufisme tak pelak lagi adalah puritan dan aktivis.

Namun menggolongkan praktek tasawuf oleh para sufi Turki dewasa ini kedalam neo- Sufisme tidaklah sesuai. Corak tasawuf yang diamalkan oleh kelompok-kelompok sufi di Turki masih menjaga citarasa ekstatik dan metafisik, serta tidak terlepas dari bentuk tarekat kecuali kaum Nurcu. Jika kita menghadiri sohbet-sohbet (pertemuan-pertemuan ceramah) misalnya Cemaat Ihlas, citarasa ekstatik dan metafisik masih sangat kental. Konsep amalan dzikir tertentu, tawajjuh (proses menerima fayz dari mursyid) dan rabitah (kontak batin dengan mursyid dari jarak jauh) masih diamalkan dalam kelompok ini dalam balutan pakaian modern yang mereka pakai.

Berbicara tentang gaya berpakaian para pengikut cemaat tasawuf di Turki khususnya Cemaat Ihlas dan Sulaymaniyah, mereka tidak lagi memakai jubah dan memelihara jenggot. Sebaliknya mereka memakai pakaian modern seperti setelan jas, celana, kemeja dan memelihara kumis. Gaya berpakaian semacam ini mereka mulai sejak Turki menjadi republik untuk bisa berbaur dengan masyarakat yang dipaksa memakai pakaian modern ala barat. Meskipun era sekulerisme mulai meredup dan masyarakat bebas memakai baju apa pun, gaya berpakaian seperti itu masih dipertahankan hingga saat ini dan menjadi cirı khas mereka. Jika kita berjalan- jalan di kota-kota Turki, sebut saja misalnya Istanbul dan menemukan pemuda-pemuda yang memakai setelan jas rapi umumnya berwarna biru, bisa dipastikan mereka adalah anggota Cemaat Sulaimaniyah.

Kesimpulan

Singkatnya, tasawuf jika dimaknai secara benar tidak akan menghalangi kemajuan dan kebangkitan, malah tasawuf mampu menjadi katalisator kebangkitan. Tasawuf dapat menjadi solusi bagi setiap Muslim untuk bertahan di tengah kecamuk dunia materalisme. Dengan tetap mengamalkan tasawuf, Muslim tetap memiliki endurance (daya tahan) dalam menyusuri jalan takwa tanpa harus meninggalkan kewajiban-kewajiban dunianya.

Praktik tasawuf yang sudah mengakar di Nusantara khususnya Aceh harus tetap dipelihara dengan sedikit modifikasi yang mengambil semangat ‘tasawuf sejahtera’ dari Turki. Agar umat Islam tetap tampak terhormat di mata dunia dan untuk menjawab tuduhan-tuduhan lemah musuh-musuh Islam dan tasawuf.

*Pendapat yang disampaikan adalah milik penulis, bukan bagian dari pandangan Beritaturki.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here