Suasana Guyub Masyarakat Turki, dan Penghormatan Mereka Terhadap Warisan Bersejarah

0
79

Dari mulai pengusaha yang menggratiskan hotelnya bagi mereka yang hendak Sholat Jumat Bersejarah di Masjid Aya Sofia, maupun Pemko yang membagi air dan perlengkapan protokol secara gratis. Bahkan masyarakat dari luar kota pun rela menginap sejak 23 Juli malam.

Hagia Sophia dibuka dengan Salat Jumat perdana setelah 86 tahun
Penampakan dari drone bagian atas sultan Ahmet Cami sebelum Shalat Jum’at Agung 24 Juli. (Foto file- Anadolu Agency)

BERITATURKI.COM, Istanbul| Masjid Aya Sofia akan dibuka untuk umum sebagai tempat ibadah dengan pelaksanaan Shalat Jumat perdana pada 24 Juli setelah vakum selama 86 tahun sejak dijadikan museum.

Ratusan ribu orang melaksanakan Salat Jumat secara bersamaan pada upacara pembukaan di bagian dalam dan pekarangan dalam bangunan bersejarah itu. Namun lebih dari 3 juta diprediksi memadati bagian halaman luar hingga ke batas pasar tertutup (grand bazar) disemuti lautan manusia.

Para pemimpin dan petinggi Turki seperti Presiden Recep Tayyip Erdogan dan pemimpin Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli akan hadir dalam acara pembukaan masjid itu. Termasuk beberapa tokoh oposisi seperti Meral Akşener, Karamollağlu, dan lain-lain. Sementara Ketua CHP (Partai Oposisi utama) lebih memilih tidak hadir.

Pengubahan status Aya Sofia sebagai masjid berdasarkan keputusan Pengadilan Tinggi dan dekrit Presiden Turki telah membuat gembira hati umat Islam di seluruh dunia.

Para ​​Muslim yang datang dari berbagai negara menanti-nantikan bisa melaksanakan shalat di Masjid Aya Sofia, menurut sumber dari Diyanet Turki banyak tokoh Muslim dari berbagai dunia memberikan ucapan selamat.

Keputusan soal Hagia Sophia itu tak hanya disambut meriah oleh masyarakat Turki saja, tapi juga membangkitkan antusiasme umat Islam di negara-negara lain.

Setelah keputusan pengubahan status Aya Sofia itu, banyak keluarga Muslim di seluruh dunia, terutama di Palestina dan Suriah, menamakan anak-anak mereka yang baru lahir dengan nama “Ayasofya” untuk mengenang peristiwa bersejarah itu.

Aya Sofia adalah salah satu situs yang paling banyak dikunjungi di Turki untuk wisatawan domestik dan asing.

Bangunan ini telah digunakan sebagai gereja selama 916 tahun hingga penaklukan Istanbul pada abad 15 Masehi, dan berubah menjadi masjid dari tahun 1453 hingga 1934 – hampir setengah milenium.

Pada 10 Juli, pengadilan Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang mengubah ayasofya menjadi museum, membuka jalan untuk digunakan kembali sebagai masjid setelah jeda 86 tahun.

Pada 16 Juli, Direktorat Urusan Agama Turki menandatangani protokol kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengelola Aya Sophia setelah dikonversi menjadi masjid.

Di bawah protokol itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan mengawasi pekerjaan restorasi dan konservasi, sementara Direktorat Urusan Agama akan mengawasi layanan keagamaan di masjid tersebut.

Bangunan megah warisan berbagai peradaban itu juga akan terbuka untuk wisatawan domestik dan mancanegara secara gratis.

Proses pengubahan fungsi dari museum menjadi masjid setelah keputusan pengadilan Turki berlangsung dengan aktivitas restorasi dan pemasangan karpet.

Tim polisi juga mengambil tindakan antisipasi keamanan dengan menutup sekeliling masjid Aya Sofia dan Blue Mosque dengan penghalang besi. Sementara anjing pelacak juga menemani tim polisi untuk langkah keamanan di sana.


Karpet dari Kütahya dengan kualitas terbaik

Selama proses persiapan, lantai di dalam bangunan tua itu didandani dengan karpet agar tekstur lantai dan arsitektur bagian bawah bangunan bersejarah tersebut tidak rusak.

Karpet yang digelar di dalam masjid itu sangat istimewa, karena warna, bahan dan gramatur merupakan pilihan berkualitas tinggi.

Diproduksi dengan 100 persen wol buatan domestik dan yang terbaik, karpet tersebut di datangkan dari kota Kütahya, memiliki ketebalan 16 milimeter dan berat 5 kilogram per satu meter persegi.

Tidak menggunakan akrilik, nilon, turunan minyak bumi, maupun produk karsinogenik lain di dalamnya. Karpet itu diwarnai dengan teknologi yang sangat khusus dengan pewarnaan reaktif selama proses pembuatan benang.

Karpet ini juga antibakteri, tidak mengandung virus dan bakteri serta tidak mudah terbakar.

Motif yang digunakan di karpet adalah corak Rumi Ottoman abad ke-17. Sistem ‘thermopress’ untuk mencegah pemudaran pada karpet.

Pemasangan karpet dijadwalkan akan selesai hingga Jumat pagi 24 Juli.

Lambang dan ikonik Kristen akan tetap dipertahankan.

Otoritas Turki berkomitmen untuk tetap melestarikan gambar kekristenan di Aya Sofia.

Mosaik kekristenan yang tergambar di langit-langit Masjid Aya Sophia yang meliputi gambar Yesus, Bunda Maria, dan roh kudus Kristen akan ditutup oleh tirai ketika salat digelar.

Di luar waktu salat ikon tersebut akan dibuka kembali dan terbuka untuk semua pengunjung.

Direktorat Keagamaan Turki juga mengatakan kehadiran mosaik dan lukisan tersebut tidak akan menjadi penghalang saat salat.


Hotel gratis bagi tamu pengunjung Masjid Aya Sofia.

Seorang pengusaha Turki pemilik hotel di distrik Fatih, daerah di mana Aya Sofia berada, akan memberikan akomodasi tempat tinggal bagi mereka yang datang dari luar Istanbul untuk menyaksikan pembukaan Masjid aya sofya pada Jumat 24 Juli.

Dari pantauan kontributor @hazal bahwa di lapangan suasana guyub dari masyarakat Turki terlihat, dimana mereka berdatangan dari seluruh provinsi yang ada di Turki dari berbagai kota.

Salah satu masyarakat Turki yang berasal dari kota Denizli atau Pamukkale sebuah kota yang eksotis pemandangannya di Kawasan Barat Daya Turki, Ahmet, dia mengatakan mengajak keluarga dia bersama untuk merayakan pengembalian status Aya Sofia dan mereka rela menginap selama 1 malam suntuk disini sejak kemarin sore (23/07)

Dari sudut juga bisa kita saksikan bagaimana masyarakat Turki tidak tidak membeda-bedakan antara kaum laki-laki maupun perempuan, mereka sama-sama bersuka cita dan bergabung bersama bahkan juga ikut salat berjamaah bersama.

Selain itu rasa solidaritas juga lahir dari pengusaha Hotel, misalnya seorang pengusaha bernama Abdurrahman Baysoy, pemilik Hotel Baykal di Fatih mengungkapkan hotelnya tidak akan menerima biaya akomodasi alias gratis untuk para pengunjung Aya Sofia yang datang dari luar Istanbul untuk menyaksikan hari bersejarah itu.

Baysoy mengaku dirinya memberikan layanan akomodasi secara gratis di hotelnya yang memiliki 25 kamar dan 60 tempat tidur itu karena dia ingin melakukan sesuatu hal yang bermanfaat bagi Masjid Aya Sofia.

Pada hari pembukaan Aya Sofia, kata Baysoy, hotel dia tak akan menerima reservasi baru dan pemesanan untuk semua kamar, karena akan dikhususkan untuk menyambut tamu baik domestik dan maupun mancanegara yang akan berkunjung ke Masjid Aya Sofia pada 24 Juli.

“Kami melihat ini sebagai sebuah hutang dan tanggung jawab kami. Ini adalah momen bersejarah dan dianggap sebagai penaklukan Istanbul yang kedua,” tutur dia.

“Para tamu kami dapat tinggal pada hari di mana mereka akan menyaksikan momen bersejarah, dan mereka dapat meninggalkan hotel kami pada hari Sabtu 25 Juli.”

Bagi teman-teman yang ingin menyaksikan suasana meriahnya Shalat Jum’at Perdana di Aya Sofia bisa menyaksikan video rekaman oleh Yeni Şafak sebagai berikut ini (video by : Yenişafak.com.tr)


Sejarah ringkas Aya Sofia yang melegenda

Aya Sofia pertama kali dibangun sebagai gereja katedral oleh dua arsitek terbaik Isidoros dan Anthemios di bawah Kekaisaran Bizantium Kristen pada abad keenam.

Menurut sejarawan, pembangunan Aya Sofia, yang dimulai pada 532, selesai dalam waktu singkat dalam 5 tahun. Bangunan itu dibuka untuk beribadah dengan upacara besar pada 537.

Aya Sofia adalah gereja terbesar yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi Timur di Istanbul, situs itu dibangun tiga kali di tempat yang sama.

Bangunan itu dinamakan Megale Ekklesia (Gereja Hebat) ketika pertama kali dibangun, lalu diubah menjadi Hagia Sophia sejak abad ke-5, yang bermakna kebijaksanaan suci.

Ayasofya telah hancur berkali-kali sepanjang sejarah, dan kerusakan terbesar selama serangan Tentara Salib yang ke-4.

Tentara Romawi Barat menjarah banyak barang berharga Hagia Sophia yang suci bagi umat Kristiani Ortodoks saat menduduki kota Istanbul pada 1204. Kota ini baru bisa diselamatkan dari invasi Tentara Salib pada 1261.

Ketika Bizantium mengambil alih lagi kekuasaan pada 1261, Aya Sofia dalam keadaan hancur. Rakyat Romawi Timur pun bergotong-royong memperbaiki Sophia yang telah dijarah oleh tentara Roma.

Namun gempa bumi pada 1344 telah menghancurkan struktur lama Aya Sophia. Karena tak sanggup memperbaiki bangunan itu akibat keadaan ekonomi yang buruk, Bizantium sempat menutup tempat ibadah itu selama beberapa periode.

Aya Sofia dikonversi menjadi masjid ketika Sultan Muhammad al-Fatih (1451-1481) menaklukkan Istanbul pada tahun 1453.

Menara dan pilar besar yang dibangun oleh arsitek Ottoman terkenal Mimar Sinan membuat situs bersejarah itu menjadi warisan arsitektur dunia yang berdiri kokoh hingga sekarang.

Segera setelah penaklukan, bangunan itu direnovasi dan dipelihara dengan baik, serta difungsikan sebagai masjid kekaisaran selama periode Ottoman.

Ketika Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan kota itu pada tahun 1453, beliau hanya menunjuk Aya Sofia sebagai satu-satunya simbol penaklukkan baginya.

Setelah penaklukan, Sultan mengubah gereja itu jadi masjid dengan mendirikan sebuah wakaf yang menaunginya serta menjadi imam Salat Jumat pertama di sana.

Selama menjadi museum pada tahun 1985, Hagia Sophia dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.AA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here