Selama Pandemi, AS Menjadi Pasar Ekspor Ke-2 Teratas Turki

0
76

BERİTATURKİ.COM, Ankara| Pandemi virus corona (Covid-19) ternyata tidak menjadi penghambat hubungan perdagangan antara Turki dan Amerika Serikat.

AS telah menjadi salah satu dari sedikit negara yang secara konsisten meningkatkan impornya dari Turki tahun ini meskipun ada pandemi di hampir seluruh belahan dunia. Bahkan AS sendiri merupakan negara dengan tingkat paparan tertinggi dengan jumlah kasus hampir mencapai 6 juta orang (world0meter.com/usa), dan jumlah orang meninggal hampir menyentuh angka 200 ribu orang.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) Turki, angka ekspor Turki ke AS mencapai 5,56 miliar dolar dari Januari hingga Juli 2020, memungkinkan AS untuk naik menjadi peringkat kedua, atau naik tiga tingkat dari sebelumnya peringkat 5 di antara pasar ekspor utama Turki.

Selama beberapa tahun terakhir, Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan mitranya dari Amerika Donald Trump telah mencapai tujuan untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi 100 miliar dolar per tahun, dimana dalam beberapa kesempatan Trump dan Erdogan sering menyebutkan hal itu.

Defisit perdagangan turun lebih dari 70%

AS telah menjadi salah satu dari lima pasar ekspor teratas Turki dalam beberapa tahun terakhir. Volume perdagangan bilateral kedua Negara NATO ini yang mencapai sekitar 16,1 miliar dolar pada tahun 2010, telah naik pada angka 19,1 miliar pada tahun 2019.

Ekspor ke AS selama periode yang sama meningkat dari 3,8 miliar dolar menjadi 8 miliar dola, sedangkan impor mencapai 12,3 miliar dolar. Defisit perdagangan Turki dengan AS juga menurun, turun menjadi 3,1 miliar dolar, dari sebelumnya menyentuh angka 8,5 miliar dolar.

Ketua Majelis Eksportir Turki (Türkiye İhracatçılar Meclisi/TIM) Ismail Gülle menunjukkan fakta bahwa kesenjangan perdagangan dengan AS secara konsisten menyempit dalam enam bulan pertama tahun ini, memproyeksikan bahwa tren tersebut akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Perwakilan dari berbagai sektor juga menekankan bahwa 0,5% bagian impor Turki dari AS, yang mencapai sekitar 3,1 triliun dolar, harus ditingkatkan menjadi 1% dalam waktu dekat. Gülle mengatakan dia menganggap level saat ini tidak dapat diterima.

“Sebagai bagian dari analisis kami, kami telah mengamati bahwa meskipun daya saing negara kami sangat tinggi dalam banyak barang di industri mulai dari otomotif hingga bahan kimia, elektronik-listrik, buah segar, sayuran, dan sereal, kami tidak mengambil cukup banyak bagian di pasar AS” kata Gülle kepada harian Turki Dünya pada hari Rabu, kemarin.

Untuk meningkatkan pangsa pasar, katanya, Turki harus terlebih dahulu mendapatkan ruang di 50 produk terpenting yang diimpor ke AS

“Saya pikir, setelah berakhirnya proses pandemi, ekspor kami akan semakin meningkat, dan kami akan mencapai target perdagangan bilateral kami sebesar 100 miliar dolar di masa depan, sebagaimana yang telah disampaikan Presiden Trump,” kata Gülle.

Di antara beberapa industri tekstil, sektor karpet berhasil meningkatkan ekspornya ke negara itu paling banyak tahun ini dengan angka lebih dari 100 juta dolar, diikuti oleh baja dengan angka 85 juta dolar, perhiasan dengan 83 juta dolar, dan pakaian jadi dengan angka 65 juta dolar.

Industri karpet meningkatkan ekspornya sebesar 31,2% menjadi 435 juta dolar dalam tujuh bulan pertama tahun ini, naik lebih dari 100 juta USD dari sebelumnya 370 juta dolar pada periode yang sama tahun 2019.

Ketua Asosiasi Eksportir Karpet Istanbul Uğur Uysal mengatakan ia berharap agar dapat mempertahankan tren kenaikan pada tujuh bulan ini.

Uğur mengatakan bahwa “Lonjakan pelanggan Amerika dalam berbelanja dekorasi rumah selama periode tinggal di rumah selama pandemi juga memicu impor karpet dari Turki”, ujarnya kepada Dünya.

“Penjualan online di AS meningkat pesat. Kita tutup tahun ini dengan kenaikan 50%,” tambahnya.

Di sisi lain, peningkatan ekspor baja yang signifikan terjadi setelah AS menurunkan tarif impor baja Turki pada Mei tahun lalu.

Trump telah memberlakukan tarif 25% untuk baja impor dan 10% tarif untuk aluminium impor dari seluruh dunia pada Maret 2018 dengan alasan “keamanan nasional.”

Pada bulan Agustus tahun yang sama, dia mengumumkan bahwa dia menggandakan tarif Bagian 232 menjadi 50% untuk baja dari Turki di tengah ketegangan atas seorang pendeta Amerika yang sejak dibebaskan Andrew Brunson, yang ditahan di Turki atas tuduhan terkait dengan Gülenist Terror Group (FETÖ) dan kelompok teroris PKK/YPG.

Sementara pada 2018, sebelum keputusan tersebut, ekspor baja Turki ke AS adalah senilai 900 juta dolar, pada 2019 turun drastis sebesar 70% menjadi 271 juta dolar.

Penggandaan tarif merupakan pelanggaran hukum, kata Pengadilan Perdagangan Internasional AS dalam keputusannya bulan lalu. Pengadilan mengatakan keputusan itu tidak memadai secara prosedural dan memutuskan importir telah melanggar jaminan konstitusional atas perlindungan yang sama.

Adnan Ersoy Ulubaş, wakil presiden Asosiasi Eksportir Mediterania Ferrous dan Non-Ferrous Metals, mengatakan pengurangan tarif pada tahun lalu membawa peningkatan penting dalam ekspor industri, ia menambahkan bahwa tren kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut.

Ulubaş mencatat bahwa banyak perusahaan Turki telah mulai membuka fasilitas manufaktur di AS. “Perusahaan-perusahaan besar telah pindah untuk berinvestasi dalam produksi produk setengah jadi dan jadi di negara tersebut. Kesepakatan terus berlanjut. Dengan investasi ini, saya berharap ekspor kami akan meningkat lebih jauh” tandas Ulubaş.

Ulubaş Melanjutkan bahwa China tidak lagi menjadi penghalang bagi Turki dalam periode ini dan banyak negara, termasuk AS. AS mulai mendekati produk dari Timur Jauh dengan hati-hati (akibat perang dagang, red.), dan hal ini berdampak positif pada perdagangan luar negeri Turki itu sendiri, Ulubaş mengakhiri.DS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here