Saling Klaim di Laut Tengah (Mediterania) Ada Apa?

0
108

Setelah terjalinnya kerjasama Pakta pertahanan dan energi antara Turki dan Libya akhir 2019 lalu, pada Kamis kemarin Mesir dan Yunani juga melakukan perjanjian yang sama, kedua kekuatan di laut Mediterania ini saling klaim dan kutuk, bagaimana selanjutnya?

BERITATURKI.COM, Ankara| Kementerian Luar Negeri Turki pada (kemarin) menyatakan kesepakatan baru-baru ini yang ditandatangani antara Yunani dan Mesir tentang pembatasan yurisdiksi maritim di Mediterania Timur batal demi hukum.

Saat mengeluarkan pernyataan, Kementerian Luar Negeri Turki menggarisbawahi bahwa tidak ada perbatasan laut timbal balik antara Mesir dan Yunani.

“Apa yang disebut kesepakatan tentang pembatasan wilayah laut yang ditandatangani hari ini dianggap batal demi hukum untuk Turki. Pemahaman ini akan terungkap baik di lapangan maupun di atas meja,” kata pernyataan tersebut.

Dikatakan bahwa Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang ditunjuk dalam kesepakatan itu berada di area landas kontinen Turki. Pernyataan itu menambahkan bahwa kesepakatan itu juga melanggar hak maritim Libya.

Ankara juga mengatakan bahwa Turki tidak akan mengizinkan kegiatan semacam itu di daerah tersebut dan menegaskan kembali tekad negara untuk melindungi hak dan kepentingan sah Turki dan Siprus Turki di Mediterania Timur.


Kapal pemboran Turki Yavuz Selim, dikawal oleh fregat Angkatan Laut Turki TCG Gemlik (F-492) di Laut Mediterania Timur lepas Siprus, 6 Agustus 2019. (Foto: REUTERS)

Kemudian, Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu juga mengatakan bahwa kesepakatan itu melanggar hak dan landasan kontinental Turki dan Libya.

Mesir pada hari Kamis mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian bilateral dengan Yunani mengenai “pembatasan yurisdiksi maritim” antara kedua negara.

Berbicara pada konferensi pers bersama di ibukota Kairo dengan timpalannya dari Yunani, Nikos Dendias, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengatakan kesepakatan itu “membuka cakrawala baru bagi kerja sama ekonomi dengan Yunani.”

Dendias, pada bagiannya, mengatakan perjanjian maritim dengan Kairo “sah” dan “mencerminkan dimensi kerja sama antara kedua negara dalam memerangi ancaman di kawasan.”

Mesir dan Yunani berselisih dengan Turki, yang tahun lalu membuat kedua negara marah dengan menandatangani perjanjian penetapan batas laut dengan pemerintah Libya yang diakui secara internasional, dalam sebuah langkah yang meningkatkan perselisihan mengenai potensi cadangan gas lepas pantai di Mediterania Timur.

Dua negara tersebut telah melakukan pembicaraan untuk sementara waktu setelah Turki dan Libya menandatangani dua pakta terpisah; satu tentang kerja sama militer dan yang lainnya tentang perbatasan laut negara-negara di Mediterania Timur pada 27 November 2019.

Pakta maritim menegaskan hak Turki di Mediterania Timur dalam menghadapi pengeboran sepihak oleh pemerintahan Siprus Yunani, mengklarifikasi bahwa Republik Turki Siprus Utara (TRNC) juga memiliki hak atas sumber daya di daerah tersebut. Pakta tersebut mulai berlaku pada 8 Desember lalu.

Mesir dan Yunani mengutuk kesepakatan itu sebagai “ilegal” dan melanggar hukum internasional.

Ketegangan antara Yunani dan Turki sudah tinggi karena eksplorasi gas Turki di Mediterania Timur di lepas pantai Siprus. Dua negara anggota NATO ini juga berselisih soal hak mineral di Laut Aegean.

Kita akan melihat ketegangan ini akan terus meruncing jika tidak ada aktor baru yang akan masuk mengingat ada banyak sekali kepentingan yang ingin terlibat dan bermain di laut tengah yang kaya akan sumber daya alam ini. Apalagi jika kasus ledakan di Lebanon baru-baru ini kita kaitkan dengan konflik kepentingan di Mediterania, maka akan semakin menarik untuk dilihat. Pada akhirnya siapa mendapatkan apa?, adalah pertanyaan yang patut dipertanyakan kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here