Reuni Duo Veteran METU, “Kami ke Turki Bareng”

0
28

BERITATURKI.COM, Ankara-Feb 2021| Masih dalam rangkaian acara Musyawarah Tahunan Perhimpunan Pelajar Indonesia (MUSTA PPI) Turki 2021. Panitia kali ini hadirkan sebuah ‘reuni’ kedua veteran Mahasiswa Turki yang juga merupakan 2 orang Profesor yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat, terutama mahasiswa Indonesia. 2 Alumni Turki ini juga pernah menjabat sebagai Rektor 2 Kampus UIN Ternama di Indonesia yaitu UIN SuKa dan UIN Syahid, mereka yaitu, Prof. Dr. M. Amin Abdullah dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Duo “Profesor” Alumni Turki Prof. Komar dan Prof Amin On Air di Zoominary yang diselenggarakan oleh Panitia Musta PPI Turki 2021 jelang Musta PPI Turki.

Dalam seminar ‘reuni’ yang dipandu oleh Mahasiswa S3 Ankara University yang juga alumni UIN Jogya ini, Siti Aisyah Sungkilang dengan topik “Potensi Diaspora Turki dalam Kacamata Guru Besar” tersebut, disambut hangat oleh dan semangat oleh kedua profesor ulung ini. Keduanya tampak berantusias daan semangat dalam mengisi sesi webinar kali ini, seolah mengenang masa perkuliahan keduanya di Turki. Dan menurut pengakuan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat bahwa keduanya telah lama menjalin pertemanan sebelum mendaratkan kaki di Bumi 2 Benua ini.

Dalam webinar yang dihadiri 110 peserta dari Indonesia maupun Turki melalui aplikasi zoom tersebut, kali ini sedikit agak berbeda dengan biasanya. Dimana pada webinar sebelumnya setiap pembicara diberikan sesinya masing masing selama 20 menit. Namun, pada webinar kali ini, 2 pembicara ini berbicara bersamaan secara kompak dalam 1 sesi selama kurang lebih 20 menit. Setali 3 uang, keduanya (prof. Komar dan prof. Amin) mengisi webinar dengan sangat kompak layaknya kawan lama yang telah menghilang kini kembali datang, walaupun dalam kondisi online melalui aplikasi zoom.

Peserta yang mengikuti reuni online dan “Zoominary” dengan Alumni pertama Turki Profesor Komaruddin Hidayat dan Profesor Amin Abdullah beberapa Hari Lalu

“Keluarga Saya di Jogja (Yogyakarta), Tapi Saya sebenarnya sudah lama merantau dari lulus SD masuk pesantren lalu tamat pondok saya lanjut ke Jakarta buat persiapan kuliah ke Turki. Beda dengan Pak Komar yang Orang Jakarta jadi deket. Kalo Saya mesti bolak-balik Jogja-Jakarta”, Ucap Prof. Amin seraya memancing Prof. Komar untuk Berbicara. “Dulu Saya dengan Pak Komar satu dormitory. Karena Saya ndak punya duit. Dikasih uang saku kisaran 100 USD. Kita dulu sering latihan tennis, karena kebetulan dormitory kita deket dengan lapangan tennis.”, ucap Prof. Amin.

Tak lupa Prof. Amin menasehati para peserta khususnya yang merupakan para perantau atau Diaspora Indonesia yang ada di Turki. “Pelajari Bahasa Asing. Karena itu nilai lebih. Apalagi itu Bahasa Turki. Nilai plus atau tambahan. Soalnya gak semuanya bisa Bahasa Turki. Tapi, kalo Saya untuk beli-beli döner (makanan khas Turki) bisalah…”, ucapnya dengan aksen jawa yang kental.

Sementara itu berbeda dengan Prof. Komar. Diawal memang masih sempat meladeni candaan yang dilemparkan oleh teman seperjuangan beliau, yaitu Prof. Amin. “Sebetulnya kalo menurut keakuannya Prof. Amin. Itu bukan cuma beliau. Tapi, kekamian. Ya karena kami tidur di dormitory bareng.”,timpal beliau.

Beliau tak lupa menjelaskan perbedaan Turki dengan Indonesia. Menurut beliau Turki merupakan negara yang memadukan budaya barat (ke-Eropaan) dan budaya timur (budaya Orang Asia). “Turki itu gak kebarat-baratan dan gak ketimur-timuran.”, jelas beliau.

“Orang Turki sejak di bangku SMA, mereka wajib belajar filsafat. Apapun spesialisasinya mereka belajar filsafat. Jadi mereka terbiasa baca buku. Ini budayanya orang Barat. Bahkan di Prancis anak SMP diajarkan filsafat. Lain dengan kita yang belajarnya di kuliahan. “,ucap beliau.

Menurut beliau (Prof. Komaruddin Hidayat) Turki merupakan negara sekuler beda dengan Indonesia yang mana sistem politik Turki terpisah dengan agama. Sedangkan Indonesia merupakan negara dengan sistem politik yang agama dan politik saling terikat.

Dalam harapan beliau bahwa Diaspora Indonesia atau para perantau Indonesia mmampu mebawa perubahan ke Indonesia.

Di akhir webinar dilanjutkan sesi tanya jawab dari peserta. Dan selepas sesi tanya jawab panitia menampilkan performa dari beberapa pelajar berupa penampilan single musik dari Alinda Putri dari Ankra dan Inayah Salsabil dari Mesir dan dari grup atau band dari pelajar Istanbul yang bernama GİL (Gençler İnonu Levent).

Kontributor: Panitia Humas Musta PPI Turki 2021/Muhammad Hafidz Ramadhani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here