[Resensi Film] Hür Adam/Free Man (2011)

0
34
Sosok Said Nursi yang digambarkan dalam Film sejarah ulama besar Turki "Hür Adam" di salah satu Scene ketika di adili di pengadilan.

Oleh: Taufik Kurniawan*

BERITATURKI.COM, Istanbul – Hür Adam (Free Man) merupakan sebuah film layar lebar produksi Eva Film yang di tayangkan di bioskop seluruh Turki tahun 2011. Film yang disutradarai oleh Mehmet Tanrısever ini merupakan sebuah film yang menceritakan kisah perjalanan hidup seorang ulama Turki yang bernama Said Nursi. Film ini dimulai dengan adegan masa kecilnya Said saat ia menyaksikan gerhana bulan di kampung halamannya desa Nurs yang berada di Provinsi Bitlis. Salah satu hal yang menarik dari dalam film ini adalah penggunaan bahasa Kurdi ketika Said berbicara dengan orang tuanya dan orang-orang Kurdi di sekitarnya. 

       Tanpa menjelaskan kehidupan masa remajanya, film ini dilanjutkan oleh adegan yang menceritakan masa mudanya saat mengikuti perang melawan Rusia di wilayah Turki bagian timur pada tahun 1916. Hasil perang tersebut Said Nursi dan rekan-rekannya ditawan oleh tentara Rusia setelah kalah dari pertempuran. Selama jadi tawanan Said hampir dihukum mati oleh tentara Rusia, namun rencana itu gagal setelah komandan Rusia mendengar ucapan Said yang menggetarkan jiwanya. Setelah ditawan beberapa tahun akhirnya akhirnya Said Nursi dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri.

       Setelah menjelaskan masa mudanya, film ini langsung menceritakan saat Said mulai diasingkan ke wilayah Barla Provinsi Isparta pada tahun 1925. Pengasingan ini dilakukan karena ia dianggap mendukung gerakan pemberontakan yang digencarkan oleh Syaikh Said di wilayah timur Turki. Walaupun pada hakikatnya Said Nursi adalah sosok yang membujuk para pendukung Syaikh Said agar mengurungkan niat mereka dalam aksi tersebut. Walaupun Said Nursi merupakan sosok yang pernah berperang dengan pasukan musuh, tetapi bagi Said Nursi, pemberontakan internal hanya menyebabkan pertumbahan darah dan tidak menyelesaikan masalah dan melawan pemerintah yang sah bukanlah sebuah solusi.

       Saat Said Nursi datang ke Barla, ia langsung di tempatkan di rumah kayu dekat pohon çınar (mapel). Pertama ia berkenal dengan seorang imam setempat yang bernama Muhajir hafiz, kemudian ia berkenal dengan Muhammad Hafiz yang berasal dari negeri Syam. Di tempat kediamannya Said mulai memberikan sohbet (pengajian) ke beberapa orang yang ia kenal. Tidak hanya di tempat kediamannya, terkadang ia juga memberikan sohbet di beberapa tempat lain seperti di bawah pohon mapel dan di atas bukit yang tinggi. Adegan ini memperlihatkan bahwa Said Nursi merupakan sosok yang mudah bersosial dengan masyarakat sekitar. Salah satu pelajaran yang pertama yang ia berikan pada sohbetnya yaitu tentang keutamaan bismillah. Dalam materi ini ia mengucapkan besmele her hayrın başıdır (bismillah adalah permulaan dari segala kebaikan). 

 Semua isi sohbet ditulis oleh seluruh muritnya. Tidak hanya berhenti disitu, tulisan tersebut diperbanyak secara manual oleh para muritnya yang mana kemudian tulisan itu disebarkan ke seluruh Turki oleh para murit yang disebut dengan nama postacı. Selama di Barla Said pernah berkenal dengan seorang anak yang bernama Sadiq. Ia mengajarkan Sadiq baca tulis. Sadiq pun menghadiahkan burung keklik (partridge) dalam sangkar kepada sang guru. Dengan senang hati Said Nursi menerima hadiah tersebut, tetapi ia kemudian malah melepaskan dari sangkarnya. Said mengajarkan tentang betapa berharganya sebuah kebebasan yang dirasakan burung tersebut kepada Sadiq. Adegan ini merupakan sebuah adegan yang sangat berhubungan dengan judul film ini. 

       Selama ia diasingkan di Barla, para muritnya mendengarkan informasi bahwa Pemerintah Turki telah merubah azan dari bahasa Arab ke bahasa Turki pada tahun 1932. Namun para murit Said tetap mengumandangkan azan dalam bahasa Arab. Maka dari itu pada tahun 1934 Said dan muritnya dibawa secara paksa oleh pasukan militer ke Isparta. Selain karena azan dalam bahasa Arab, Said juga dituduh mendirikan sebuah gerakan keagamaan yang bisa mengancam tatanan negara. Setelah setahun di Isparta ia dikirim ke Eskişehir. Setelah ditahan beberapa bulan Said Nursi dan muritnya dibawa ke pengadilan. Namun setelah para jaksa memeriksa semua catatan risalah dan merekapun tidak menemukan unsur ancaman pada risalah tersebut. Maka hakim memutuskan untuk membebaskan Said Nursi dan para muritnya dari segala tuduhan.

       Selain di Eskişehir Said Nursi juga pernah ditahan di Denizli pada tahun 1943 dan di Afyon pada tahun 1948. Sama halnya seperti di Eskişehir setelah ditahan beberapa bulan, ia dibawa ke pengadilan. Dan kebebasan merupakan hasil dari semua persidangan. Pihak pemerintah Turki saat itu pernah beberapa kali mencoba membunuhnya dengan berbagai cara, seperti meracunnya selama masa tahanan. Selain itu selama masa pengasingan di Emirdağ tahun 1944, Said pernah dikurung di tempat kediamannya selama 15 hari tanpa diberi makan dan minum. Namun semua cara tersebut gagal.  

       Film memiliki alur maju dan mundur, sebab film ini dimulai dari masa kecilnya hingga ia tua, namun di tengah film tersebut juga diisi oleh adegan-adegan lain yang menjelaskan tentang kehidupan Said di masa sebelumnya. Seperti adegan saat ia fokus belajar di perpustakaan gedung milik Gubernur Van Tahir Pasha pada tahun 1907, adegan saat ia mengajak orang-orang Kurdi agar mengurungkan niat mereka agar tidak ikut memberontak bersama Syaikh Said, adegan saat ia dibawa ke pengadilan pada tahun 1909 di Istanbul karena artikel yang ia tulis di koran Volkan dianggap salah satu unsur penyebab terjadinya pemberontakan pada peristiwa 31 Maret, serta adegan ketika ia bertemu dengan Mustafa kemal tahun 1922 saat ia memaparkan perencanaan pembangunan perguruan tinggi yang bernama Madrasatuz Zahra di wilayah Turki timur.

       Film ini diakhiri oleh adegan dibebaskanya Said Nursi dari penjara Afyon pada tahun 1950. Dan pada tahun tersebut, bersama para murit-muritnya yang lain, Said kembali ke Barla dan ia pun kembali bertemu dengan warga Barla. Walaupun tidak menjelaskan keseluruhan kehidupan Said Nursi, film yang berdurasi 2 jam 35 menit tersebut mampu memperlihatkan kepada penonton bagaimana perjuangan dakwah Said Nursi dalam mengajarkan agama kepada masyarakat Turki saat itu. Beliau tetap melanjutkan dakwahnya meski terkurung dalam penjara beberapa kali. Sikap pantang menyerah itulah yang yang menyebabkan dakwahnya gerakan Nurcu (Kelompok Said Nursi) tetap berlanjut hingga keseluruh dunia pada hari ini.

       Film ini sangat menekankan arti sebuah kebebasan, sehingga pada akhir film disebutkan perkataan Said Nursi yang berbunyi Ekmeksiz yaşarım, hüriyetsiz yaşayamam yang artinya Saya bisa hidup tanpa roti(makanan) tapi Saya tidak bisa hidup tanpa kebebasan. Point tentang kebebasan merupakan hal yang selalu diperjuangkan di Dunia sejak dulu hingga hari ini. Sebab kebebasan merupakan sebuah nilai yang tidak bisa dihargai dengan uang atau materil.

* Penulis merupakan mahasiswa pascasarjana jurusan Sejarah Islam di Marmara Üniversitesi. Ia peneliti bidang sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Penulis dapat dikontak di; tkurniawan653@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here