Putin Mengabarkan Hasil Pertemuan Trilateral Nagorno-Karabakh Kepada Erdoğan

0
54

Dalam pembicaraan yang hampir 2 jam tersebut, Putin menyampaikan hasil utama dari pertemuan trilateral merupakan implementasi dari niat baik para pihak untuk menormalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia.

BERITATURKI.COM, Kremlin- Presiden Rusia Vladimir Putin memberi tahu Presiden Recep Tayyip Erdoğan tentang pertemuan trilateral Moskow yang diadakan dengan Azerbaijan dan Armenia mengenai Nagorno-Karabakh selama panggilan telepon Rabu.

Kremlin melaporkan setelah panggilan telepon bahwa Putin mengatakan salah satu hasil utama dari pertemuan itu adalah konfirmasi niat untuk menormalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia.

Erdogan, di sisi lain, menyatakan bahwa Turki menginginkan keadaan di Nagorno-Karabakh yang akan memungkinkan orang Azerbaijan dan Armenia untuk hidup bersama secara harmonis tanpa perlu pengawasan. Menurut pernyataan presiden yang dirilis setelah pertemuan tersebut, Erdogan mengatakan bahwa ketika keadaan ini tercapai, seluruh dunia akan melihat hasil yang konstruktif dari kemitraan Turki-Rusia sekali lagi.

Kedua pemimpin juga membahas situasi pusat gabungan Turki-Rusia di wilayah tersebut.

Para pemimpin Rusia, Azerbaijan dan Armenia menandatangani pakta Senin untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur yang menguntungkan seluruh wilayah Kaukasus.

Berbicara di Moskow bersama Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinian, Putin memuji pembicaraan itu sebagai “sangat penting dan berguna.”

“Kami bisa mencapai kesepakatan … tentang perkembangan situasi di kawasan itu,” kata Putin kepada wartawan empat jam setelah pembicaraan trilateral dimulai.

Pemimpin Rusia itu juga mengatakan kesepakatan 10 November antara ketiga negara, yang mengakhiri konflik Nagorno-Karabakh selama 44 hari, secara umum telah dipenuhi. Ia menambahkan, unit militer Rusia yang sementara berada di kawasan itu sedang menjalankan tugasnya.

Bentrokan meletus pada 27 September dan Tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan, melanggar perjanjian gencatan senjata. Selama konflik 44 hari, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan Armenia.

Kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia pada 10 November untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.

Pusat gabungan Turki-Rusia dengan penjaga perdamaian dari kedua negara telah didirikan untuk memantau gencatan senjata. Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan dan kekalahan Armenia, yang angkatan bersenjatanya ditarik sesuai dengan kesepakatan.

Sumber: Daily_Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here