Presiden Erdogan: Tidak Ada Yang Bisa Merebut Tanah Palestina!

0
83
3 Poin Peringatan Erdogan kepada Dunia Internasional dan Israel

Merespon isu aneksasi Tepi Barat dan Yerussalem, “Kembali Saya tekankan bahwa Masjid Suci Al-Aqsa di Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam di seluruh dunia”, kata Recep Tayyip Erdogan dalam pesan Hari Raya Idul Fitri kepada Muslim AS.

BERITATURKI.COM, Ankara (25/05)

Presiden Turki pada hari Minggu (24/05), kemarin kembali menegaskan dukungan negaranya untuk Palestina ketika dunia Muslim merayakan Idul Fitri, liburan yang menandai akhir bulan suci Ramadhan.

“Kami tidak akan membiarkan tanah Palestina dijual dan dilelang kepada siapa pun,” kata Recep Tayyip Erdogan dalam pesan video di Twitter yang ditujukan kepada Komunitas Muslim AS.

Pesan video yang diunggah di Twitter pribadi Presiden Turki, Recep Thayyib Erdogan kepada komunitas Muslim yang sedang berjuang melawan wabah virus Korona (Covid-19)
di Benua Amerika

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa al-Quds Al-Sharif, situs suci tiga agama dan kiblat pertama kami, adalah garis merah untuk semua Muslim di seluruh dunia,” kata Erdogan.

“Hari ini dengan jelas kita melihat bahwa tatanan global telah lama gagal menghasilkan keadilan, perdamaian, ketenangan, dan ketertiban,” katanya sebagaimana dikutip oleh Anadolu Agency.

“Minggu lalu kami menyaksikan bahwa proyek pendudukan dan aneksasi baru, yang mengabaikan kedaulatan Bangsa Palestina dan hukum internasional, kembali dipraktekkan oleh Israel,” tambahnya.

Israel mengatakan akan mencaplok bagian-bagian di Tepi Barat pada 1 Juli lalu, sebagaimana disepakati antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz, kepala partai Biru dan Putih.

Rencana pencaplokan tersebut telah memicu kemarahan berbagai komunitas di seluruh dunia, dan terutama kecaman tajam datang dari Turki.

Bagian Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dipandang sebagai wilayah pendudukan di bawah hukum internasional, sehingga aneksasi dengan pembangunan semua pemukiman Yahudi di sana -serta aneksasi yang direncanakan- adalah Ilegal!, sebagaimana diserukan Erdogan.

Erdogan Menyapa Salam Lebaran Idul Fitri bagi Muslim AS

Beralih ke lebaran Ied Fitri, Erdogan berkata, “Saya mengucapkan selamat kepada saudara-saudara kita komunitas Muslim Amerika saya atas nama masyarakat Turki mengucapkan selamat ‘Idul Fitri’ kepada semua saudara sekalian.

“Kepada Allah Saya berdoa kepada Tuhanku agar hari-hari suci ini dapat menandai era perdamaian, keamanan, dan ketenangan bagi Muslim Amerika, seluruh dunia Islam, dan umat manusia,” kata Erdogan.

“Pandemi [Wabah Covid-19] di era terakhir ini telah menunjukkan kepada kita bahwa dalam tidak ada hierarki atau hak istimewa di antara kawasan, negara, atau Persatuan Bangsa-bangsa,” tambahnya.

“Hanya melalui kerja sama global bahwa masalah yang disebabkan oleh penyakit, berbagai konflik, perang, migrasi, rasisme, Islamofobia, terorisme, dan kemiskinan yang mengancam umat manusia dapat diatasi,” kata Erdogan.

“Turki telah berusaha untuk menanggapi semua negara, termasuk Amerika Serikat, yang meminta dukungan kami dalam memerangi pandemi global,” katanya, merujuk pada pasokan medis dan bantuan untuk pandemi yang dikirim Turki ke sejumlah negara di seluruh dunia .

“Saya berharap rahmat Allah atas saudara-saudari kita yang kehilangan nyawa mereka karena Covid-19, kepada keluarga mereka diberikan kesabaran , dan bagi mereka yang sedang dalam perawatan segera diberikan pemulihan dalam waktu segera,” tambahnya.

“Tidak diragukan lagi, doa yang kita panjatkan dalam suasana ujian seperti ini lebih jujur ​​dan tulus dari sebelumnya,

“Hati kami satu dan bersatu meskipun kami di Turki telah menghabiskan bulan Ramadhan dan Idul Fitri dengan sengit dalam memerangi wabah ini,” katanya lagi.

Sejak pertama kali muncul di Cina Desember lalu, virus Novel Corona (Covid-19) telah menyebar ke setidaknya ke-188 negara dan kawasan di seluruh dunia.

AS, Rusia, Brasil, dan beberapa negara Eropa saat ini merupakan yang paling terpukul.

Pandemi telah menewaskan hampir 343.000 orang di seluruh dunia, dengan lebih dari 5,34 juta kasus dikonfirmasi, sementara pemulihan berjumlah sekitar 2,14 juta, menurut angka yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins di AS.

Kasus Suriah dan Libya

Terkait perang saudara yang sedang berlangsung di Suriah, presiden Turki mengatakan: “Karena semua orang fokus pada pandemi, kita tidak sadar bahwa rakyat Suriah yang tertindas terus menderita sampai hari ini dibawah kekuasaan rezim yang menindas.”

Sejak 2011, perang saudara Suriah telah menewaskan ratusan ribu orang dan menelantarkan lebih dari 10 juta orang, menurut data dari PBB.

Tentang konflik di Libya, ia berkata: “Pasukan Pemberontak Haftar terus menyerang rakyat mereka sendiri dan mengguncang negara dan wilayah itu.”

Menyusul penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011, Pemerintah Libya telah didirikan pada 2015 di bawah kesepakatan politik yang dipimpin oleh PBB.

Pemerintah Libya, yang juga dikenal sebagai Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), telah diserang oleh pasukan bersenjata panglima perang Haftar (Pemberontak LNA) sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas dalam konflik yang berkepanjangan.

“Sayangnya, darah dan air mata terus tumpah dalam bulan suci Ramadhan ini hampir di seluruh dunia Islam,” tambahnya.

“Saudara-saudari kita yang tinggal di negara-negara Barat menderita serangan rasis, virus pemikiran yang berbahaya Islamofobia baru juga hampir setiap hari menyerang kita.

“Pandemi Covid-19 ini menjadi ujian bagi kita di satu sisi, namun disisi lain juga kita akan mempertanyakan kembali efektifitas dan efisiensi dari banyak organisasi internasional terhadap ancaman global,” katanya.

“Kami dengan ini sekali lagi menyampaikan seruan kami untuk mendesain ulang sistem global secara adil, yang kami sebut sebagai “Dünya Beşten Büyüktür/dunia lebih besar dari lima”, katanya, mengulangi motto tentang reformasi pada Dewan Keamanan PBB, suatu alasan yang telah lama ia perjuangkan sejak dulu. [AA]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here