Presiden Erdogan: Jumlah Anggota Perempuan di Parlemen Tidak Cukup

0
35

Istanbul. Dari 600 kursi, jumlah total anggota parlemen perempuan di Turki hanya berjumlah 104 kursi, yang setara dengan 17,5 % dari jumlah total anggota parlemen. Meski jumlah tersebut tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam sejarah, namun menurut Presiden Recep Tayyip Erdogan jumlah tersebut masih belum cukup.

“Persentase jumlah parlemen perempuan yakni 17,5 % dari jumlah total anggota Parlemen Turki. Ini menetapkan rekor baru, tetapi itu tidak cukup,” ungkap Presiden Recep Tayyip Erdoğan saat KTT ke-3 Perempuan dan Keadilan.

Mengenai peran perempuan Turki di bidang politik, akademisi, dan bidang lainnya, ia juga  menuturkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan telah meningkat sejak Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berhasil meraih kemenangannya pada tahun 2002.

Dilansir dari Anadolu Agency, Erdoğan mengumumkan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja meningkat dari 28 % menjadi 38 % selama masa jabatan mereka, dan jumlah perempuan dalam angkatan kerja meningkat dari 21 % menjadi 30 %.

“Di universitas-universitas Turki, hampir separuh akademisi, setidaknya 44%, adalah perempuan,” katanya.

Menurut statistik yang diterangkan oleh Erdoğan, tercatat sebanyak 44 % perempuan berprofesi sebagai arsitek dan pengacara, 31 % sebagai hakim dan jaksa, lebih dari 20 % diplomat, 56 % guru dan 51 % bankir. Erdoğan mengatakan bahwa persentase perempuan dalam pekerjaan publik adalah 38 %.

“Sekitar 9,12 juta wanita di dunia kerja memperkuat negara kami dan membuat kami bangga atas keberhasilan mereka,” tambahnya.

Agama Islam tidak membenarkan segala bentuk diskriminasi gender, presiden menekankan.

“Sebagai penganut agama Islam yang melihat setiap manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki banyak perbedaan, dari mulai gender sampai dengan warna kulita, tidak mungkin bagi kita untuk melakukan diskriminasi terhadap perempuan,” katanya.

Presiden memuji wanita sebagai elemen yang tak tergantikan dalam keluarga dan kehidupan bisnis. Erdogan juga mengatakan bahwa keluarga dibentuk oleh upaya bersama antara wanita dan pria dalam budaya Turki dan Islam.

“Pemahaman yang mengisolasi wanita dari kehidupan bisnis dan pria dari rumah membahayakan konsep keluarga di awal,” katanya.

Presiden juga mengatakan bahwa Turki harus melihat sejarah dan budaya negeri sendiri untuk memperbaiki perannya pada manusia, perempuan, anak-anak, dan hak-hak hewan, yang bertentangan dengan negara-negara Barat, yang, menurutnya, dirugikan oleh diskusi-diskusi yang dipermasalahkan pada mereka. Erdoğan menuduh Barat mengkomersialkan perempuan, mengatakan bahwa perempuan dijual dan dipaksa bekerja selama berabad-abad.

“Tidak mengherankan bagi kita bahwa mentalitas yang menggunakan wanita sebagai komoditas di masa lalu menggunakan wanita dengan konsep yang sama dengan kedok kesetaraan pada hari ini,” katanya.

Berbicara di upacara pembukaan departemen Medeniyet University Istanbul, Erdogan mengatakan bahwa universitas “dibersihkan” dari organisasi teroris yang mengubah beberapa universitas menjadi kamp pelatihan militan.

Universitas mengklaim telah memodernisasi sejak partainya mengambil alih kekuasaan pada tahun 2002, Erdogan mengatakan bahwa “pola pikir fasis dari periode 28 Februari 1997” di universitas-universitas sebagian besar telah dihapus, mengacu pada apa yang disebut “pasca-modern” kudeta yang menggulingkan Turki, pemerintahan pertama yang dipimpin Islamis.

“Universitas kita saat ini terbebas dari atmosfer status quo yang opresif dan tidak terawat,” katanya.(Yn)

Sumber: Hurriyet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here