Presiden Erdogan : Diaspora Turki yang Berkembang di Eropa Menanamkan Harapan untuk Masa Depan

0
37

Islamofobia salah satu alat terpenting bagi politisi Barat untuk menutupi kegagalan mereka, kata presiden Turki.

BERITATURKI.COM, Ankara – Presiden Turki pada Minggu (11/04/2021) mengatakan bahwa negara-negara Barat tidak ingin mengakui kenyataan diaspora Turki semakin kuat. Recep Tayyip Erdogan mengatakan mereka tidak pernah meragukan bahwa orang Turki dan Muslim akan mengambil tempat yang jauh lebih terlihat di Eropa masa depan dengan cara yang pantas mereka dapatkan.

“Tentu saja, situasi ini menanamkan harapan pada kami, namun menjadi mimpi buruk bagi orang lain. Mereka, yang masih mencoba untuk memeras Turki Eropa ke dalam pola sempit pada tahun 1960-an, tidak mau menerima kenyataan diaspora yang tumbuh dan menguat,” kata Erdogan kepada sayap perempuan dan pemuda Persatuan Demokratik Internasional (IDU) di Kantor Dolmabahce, Istanbul.

Islamophobia dan xenophobia, yang telah mencapai tingkat yang mengerikan baru-baru ini, hanyalah salah satu manifestasi dari gangguan pencernaan ini, tambah Erdogan.

“Islamofobia telah menjadi salah satu alat terpenting bagi politisi Barat untuk menutupi kegagalan mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa sekarang media, akademisi, penulis, menteri juga mulai menggunakan “metode populis” ini, yang digunakan oleh kaum terpinggirkan di masa lalu.

Tidak hanya orang Turki, tetapi juga segmen masyarakat lain dengan identitas etnis yang berbeda, penampilan dan afiliasi agama yang menderita akibat gelombang rasis, tegasnya.

“Meski statistik hanya puncak gunung es, itu jelas menunjukkan meningkatnya rasisme budaya di Eropa. Kejahatan kebencian meningkat dua kali lipat tahun lalu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya, seraya menambahkan bahwa jumlah serangan terhadap imigran melebihi 3.000 di tiga negara Eropa tempat tinggal sebagian besar ekspatriat Turki.

Lebih dari 900 serangan rasis tercatat di Jerman saja, termasuk 400 terhadap orang Turki, katanya. Meskipun pembatasan virus korona diberlakukan tahun lalu, 121 tindakan berbeda terhadap masjid dan asosiasi masjid dilaporkan, tambahnya.

Menggarisbawahi bahwa hak-hak perempuan Muslim dirampas baik di ruang publik maupun pribadi di Eropa, dia mengatakan banyak negara Eropa membatasi pekerjaan, kehidupan sosial dan kesempatan pendidikan bagi perempuan yang mengenakan jilbab.

Sumber : Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here