Prediksi suku Maya gagal, ‘Doomsday village’ di İzmir, Turki masih popular

0
101

Sirince, sebuah desa yang tenang di Turki barat, menilik kembali puncak popularitasnya pada tahun 2012, ketika banyak orang seluruh dunia percaya bahwa itu akan menjadi salah satu dari dua tempat di Bumi yang terhindar dari kiamat menurut prediksi kalender suku Maya kuno. Enam tahun setelah prediksi yang gagal, ribuan orang masih mengunjungi desa yang saat ini terus dikunjungi oleh sekitar 1,5 juta pengunjung setiap tahun.

Menelusuri sejarahnya hingga abad kelima Masehi, desa yang terletak di dekat kota kuno Efesus di provinsi İzmir Turki barat ini menutup diri dan melarang orang asing untuk berkunjung dengan alasan tempat ini memiliki julukan “Çirkince” yang artinya “tempat jelek”. Di sisi lain “Şirince” secara kasar diterjemahkan menjadi “tempat yang bagus.”

Di tengah popularitas pariwisata yang di wilayah Aegean, Turki, dimana penduduk desa yang sebagian besar keturunan pengungsi dari Balkan, mengandalkan dolar yang dihasilkan dari kunjungan turis ke wilayah tersebut.

Desa tersebut biasanya tidak termasuk kedalam jadwal agen-agen perjalanan yang biasanya menawarkan kunjungan ke Ephesus, hingga akhirnya sekelompok ahli energi bio-organik mengumumkan bahwa terdapat “energi mistik” di Şirince yang dapat menghindarkan seseorang dari ancaman hari kiamat yang mendekat.

Sejak itu, kunjungan turis asing menjadi pemandangan yang biasa dijumpai di gang-gang sempit desa, di lereng bukit, di mana rumah-rumah batu putih tradisional yang dikelilingi oleh pohon zaitun menawarkan atmosfer nostalgia Anatolia di masa lalu. Turis dari Timur Tengah adalah sebagian besar wisatawan yang mengunjungi Şirince yang terkadang memberikan layanan wisata rohani bagi umat beragama Ortodoks dan juga melakukan layanan keagamaan Muslim di desa tersebut.

Ini adalah pertama kalinya bagi turis Korea Selatan Dongkyoung Choe menginjakkan kaki di Turki ketika dia memutuskan untuk mengunjungi desa itu setelah dia membaca tentang ketenaran barunya. “Prancis dan Italia memiliki desa yang sama tetapi Şirince tampaknya sangat alami. Itu tampaknya berhasil melestarikan budaya dan karakteristiknya,” katanya kepada Anadolu Agency.

Emanuel Muller Ramos dari Brasil memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Şirince setelah mengunjungi Efesus. “Saya terpesona. Ini adalah desa yang sempurna,” katanya. Seperti yang dikatakan Irak, yang menjalankan sebuah rumah kost di desa itu mengatakan Şirince adalah tempat “untuk mengunjungi tahun demi tahun” bagi para turis. Ia mengatakan selain dari negara-negara Asia, turis dari negara Arab dan Eropa juga sering berkunjung.

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here