Peringati 10 Muharram, Tradisi Berbagi Bubur Asyura di Turki

0
88

BERITATURKI.COM, Turki – Memasuki bulan Muharram, atau di Jawa dikenal dengan nama Suro, berbagai kegiatan digelar. Mulai dari peringatan malam 1 Suro, hingga Hari Asyura yang jatuh pada hari ke-10 bulan Muharram. Hari Asyura menjadi terkenal karena bagi kalangan Syiah dan sebagian kalangan Sufi merupakan hari berkabung atas kesyahidan Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW pada Pertempuran Karbala tahun 61 Hijriah.

Di Turki sendiri, Hari Asyura (dalam bahasa Turki: Asure Gunu) selalu diperingati cukup meriah oleh masyarakat Turki. Namun, terdapat perbedaan kisah yang melatarbelakangi peringatan Hari Asyura ini. Menurut riwayat, saat Nabi Nuh AS turun dari kapalnya menuju daratan setelah berlayar dan selamat dari banjir bandang besar yang menerjang, beliau meminta seluruh orang yang berada di dalam kapal untuk mengumpulkan sisa makanan perbekalan di kapal, kemudian diolahnya semua sisa perbekalan tersebut menjadi bubur. Lalu dimakan bersama-sama sebagai perwujudan rasa gembira dan bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah selamat dari peristiwa banjir bandang yang mereka alami saat itu.

Peristiwa inilah yang memunculkan tradisi di Turki untuk membuat bubur asyura setiap tahun. Bahkan hal ini menjadi tradisi secara nasional yang tetap dipertahankan. Setiap datangnya bulan Muharram, ibu-ibu di Turki akan membuat bubur asyura di rumah dan membagikannya ke para tetangga. Sebenarnya, tradisi membuat bubur asyura ini tidak hanya dilakukan di Turki saja. Sebagian daerah di Indonesia juga memiliki tradisi membuat bubur asyura, seperti di Kalimantan, Riau dan Jawa. Namun, yang membedakan bubur asyura di Turki dan di Indonesia adalah bahan pembuatan buburnya. Bubur asyura versi masyarakat Turki sangat beragam dan didominasi oleh kacang-kacangan.

Bahan dasar pembuatannya yakni gandum khusus untuk asyura. Bentuknya mirip dengan benih wheatgrass yang populer untuk jus kesehatan. Dimasak dengan air dan gula. Dengan tambahan kuru fasulye (kacang putih), kacang tanah, kacang almond, kismis, kacang kenari, pistachio, bubuk kayu manis, aprikot, plum dan buah delima. Cita rasa manis yang khas dengan aroma bubuk kayu manis, isian kacang-kacangan dan sedikit rasa asam dari buah-buahan inilah yang menjadikan bubur asyura (di Turki dikenal dengan nama bubur asure) digemari oleh masyarakat Turki.

Tradisi bagi-bagi bubur asyura kini semakin meluas. Tidak hanya dilakukan oleh ibu-ibu yang tinggal di rumah. Asrama pemerintah Turki di bawah wewenang Kementerian Olahraga dan Pemuda Turki juga turut menggelar acara bagi-bagi bubur asyura gratis. Salah satunya asrama pemerintah di kota Sakarya, Turki. Mereka mengajak mahasiswa asing turut serta dalam kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan tradisi bulan Muharram di Turki. Sebanyak 8 mahasiswi dan 5 mahasiswa asing membagikan bubur asyura kepada masyarakat di Cark Caddesi (Jalan Cark) yang merupakan daerah pusat Kota Sakarya, Turki.

Salah satu mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di kota Sakarya, Andhara Elmy turut bergabung di dalamnya. Menurut informasinya ada sekitar 500 mangkuk bubur asyura yang dibagikan. “Yang membagikan buburnya pelajar asing semua, stand laki-laki dan perempuannya terpisah,” katanya. Masyarakat Turki yang lewat di depan stand bisa menikmati langsung bubur yang mereka bagikan secara gratis tersebut.

Masyarakat Turki meyakini dengan membuat bubur asyura dan bersedekah bubur asyura dapat membawa keberkahan dalam hidup, terkabulnya doa-doa, sebagai bentuk berbagi kebaikan, juga memanjangkan tali silaturahmi dengan saudara, tetangga, maupun orang-orang di sekitarnya. (Lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here