Perang ekonomi dengan AS, Turki didukung investasi senilai Rp. 219 triliun dari Qatar

0
164

Ankara. Rabu (15/8) kemarin, pangeran Qatar, Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani, mengunjungi Ankara. Kunjungan tersebut dalam rangka wujud kepedulian Qatar terhadap Turki atas krisis diplomatik dan ekonomi yang terjadi antara Turki dan Amerika Serikat (AS).

Emir Qatar tersebut mengucurkan investasi sebesar 15 miliar USD di Turki. Melalui upacara resmi, ia tiba di Ankara dan disambut di Kompleks Presiden.

Erdogan dan Emir Qatar bertemu dan membahas sanksi AS terhadap Turki, hubungan diplomatik serta perkembangan regional lainnya. Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak dan Menkeu Qatar, Ali Sharif Al-Emadi, turut serta dalam pertemuan tersebut.

“Paket investasi akan segera dihidupkan,” ungkap Tamim.

Juru Bicara Kepresidenan İbrahim Kalın mengatakan pada konferensi pers sebelum pertemuan hari Rabu bahwa kunjungan Qatar tersebut sebagai tanda bahwa Qatar sepenuhnya mendukung Turki.

Sebelum pertemuan tersebut, Tamim dihubungi Erdogan. Hubungan bilateral dan isu-isu regional, menurut sumber-sumber presiden menjadi hal-hal yang mereka bahas. Selain itu ditambahkan dalam sumber bahwa mereka juga menyoroti pentingnya meningkatkan hubungan bilateral lebih lanjut,

Salem bin Mubarak Al Shafi, Duta Besar Qatar untuk Turki juga mengatakan bahwa negaranya akan terus mendukung Turki setelah sanksi AS yang dijatuhkan pada negara tersebut. “Negara Qatar selalu proaktif dalam mendukung saudara-saudara Turkinya,” kata Al Shafi kepada Anadolu Agency, Rabu.

Dilansir dari Tukinesia.net, Qatar akan terus mendukung Turki, seperti yang terjadi selama upaya kudeta gagal pada pertengahan 2016 lalu.

Ia menambahkan bahwa Ankara dan Doha berbagi pandangan umum terkait sejumlah isu regional dan internasional.

“Pada kunjungan Emir Qatar ke Turki pada hari Rabu itu menunjukkan kedekatan hubungan Qatar dengan Turki,” Al Shafi menekankan.

“Qatar baru saja membeli lira Turki senilai puluhan juta dolar dengan tujuan mendukung ekonomi Turki,” ujar Al Shafi.

Duta besar tersebut menambahkan bahwa hubungan Qatar yang sangat kuat dengan Turki memiliki status khusus di antara rakyat Qatar. Ia menggambarkan Turki sebagai “sekutu strategis” bagi Qatar.

Dilansir dari Turkinesia.net, hubungan Turki dengan AS renggang sejak sepekan lalu saat Washington menjatuhkan sanksi pada menteri dalam negeri dan menteri kehakiman Turki setelah Ankara menolak untuk melepaskan seorang pendeta Amerika yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki. Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump menaik sanksi dengan menggandakan tarif AS pada impor aluminium dan baja Turki.

Sebagai balasan, Turki pun turut menaikkan tarif atas beberapa barang buatan AS, termasuk kosmetik, produk tembakau serta kendaraan.

Beberapa negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi, secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Juni 2017. Selain itu, Arab Saudi juga memberlakukan blokade atas negara Teluk kecil tersebut, menuduh negara itu mendukung terorisme.

Qatar menyatakan tindakan tersebut sebagai wujud ketidakadilan dan pelanggaran hukum internasional. Di tengah kerenggangan hubungan Qatar dengan negara-negara terdekatnya, Turki memperlihatkan dukungannya terhadap Qatar, memasok makanan dan ekspor lainnya untuk mengantisipasi kekurangan.

Selain hal tersebut, Turki pun turut serta mempertahankan pangkalan militer di Qatar. Kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama militer pada Oktober 2014. Hal tersebut memungkinkan kedua negara untuk latihan militer bersama, kordinasi pada pembentukan pertahanan serta penyebarluasan pasukan Turki di kawasan Qatar.

Pasukan pertama Turki tiba di Qatar pada 4 Oktober 2015, dan empat hari kemudian bendera Turki dikibarkan di ibukota Doha. (Yn)

Sumber: Turkinesia.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here