Perancis Telah Mengakui Bahwa Khalifah Haftar adalah Beban.

0
102
Panglima Perang Haftar semakin Terpojok setelah banyak Negara Eropa tidak mendukungnya. Perancis sebagai satu-satunya penyokong juga semakin menarik diri.

Perancis telah menjadi satu-satunya penyokong bagi Panglima Perang Haftar di Benua Eropa, dimana negara Eropa lainnya mulai mendukung upaya Turki untuk mendukung Pemerintah Sah GNA, di Barat Libya.

Kantor Berita berbasis di Paris-Perancis Financial Times telah mengakui upaya Turki di Libya telah mengubah peta pertempuran, dan menyelamatkan Libya dari kemungkinan terburuk jatuhnya korban perang sipil yang berlebihan. (foto:AA)

BERITATURKI.COM, Paris| Prancis telah menyadari bahwa panglima perang Khalifa Haftar di Libya adalah sosok yang harus “Bertanggung Jawab secara Hukum,” sebagaimana disampaikan Financial Times pada hari Senin.

Prancis adalah satu-satunya negara Eropa yang mendukung Haftar melawan pemerintah yang diakui secara internasional di Tripoli, dimana Pemerintah sah (GNA) yang didukung Turki ini telah memenangkan banyak pertempuran baik darat maupun udara di sana.

Pada beberapa bulan sebelumnya Haftar tampaknya berada di pihak yang menang sampai Turki masuk dan memperkuat dukungannya kepada pemerintah sah Libya dan telah membalikkan peta kekuatan yang lebih menguntungkan GNA hari ini.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagaimana dikutip Anadolu Agency hari ini mengatakan negaranya akan mengambil sikap netral dan mendukung proses perdamaian PBB di Libya. Apakah ini pertanda Perancis mulai menarik diri? bisa jadi.

Ini terjadi setelah perjanjian kerja sama politik dan keamanan Turki baru-baru ini dengan pemerintah Libya yang menyebabkan pasukan Haftar didorong kembali tersudut ke pojok selatan negara itu dan mulai ditinggal sekutunya satu-satu, terakhir adalah Rusia yang telah membalikkan moncong senjatanya alih-alih melawan GNA mereka telah mengarahkan senjata mereka ke musuh barunya ISIS di Libya.

Seorang diplomat barat yang berpengalaman mengatakan kepada FT: “Prancis telah menyadari bahwa Haftar telah menjadi beban dan bukan aset lagi.”

“Saya percaya mereka malu karena sekali lagi mereka melakukan kesalahan. Menghadapi kesalahan ini, mereka harus membenarkannya dan mereka menyalahkan Turki, ” kata diplomat itu.

Pertikaian antara Turki dan Prancis atas perang saudara Libya telah “mengekspos celah dalam aliansi militer NATO,” kata FT.

Dalam upaya mempertahankan kepentingan minyaknya dan memerangi teroris di wilayah Sahel, Prancis memihak UEA dalam mendukung Haftar, kata Tarek Megerisi, rekan kebijakan di Dewan Eropa untuk Urusan Hubungan Luar Negeri.

“Perancis memiliki kepentingan yang berbeda dengan Jerman dan Italia di Libya dan telah bergerak untuk melindungi kepentingan ini,” katanya kepada FT. Mari kita lihat bagaimana akhir petualangan Prancis di Libya setelah Turki membantu GNA menaklukkan Sirte.AA

Turki mencegah bencana kemanusiaan

Haftar telah berupaya secara militer merebut ibukota Libya, Tripoli, dalam sebuah langkah berani yang didukung oleh Prancis.

Seorang diplomat senior Eropa mengatakan kepada FT: “Jujur saja, Turki menghentikan kejatuhan Tripoli.”

“Tanpa campur tangan mereka, itu akan menjadi bencana kemanusiaan,” kata diplomat itu.

Tetapi Prancis selalu mengalami kesulitan dalam mempertahankan dan mempromosikan dukungannya terhadap Haftar. Negara-negara NATO dan Eropa lainnya selalu menganggap Haftar sebagai agresor, dan penghalang utama solusi politik.

Dorothée Schmid, seorang ahli Timur Tengah di Ifri, lembaga hubungan luar negeri Prancis, mengatakan kepada FT: “Prancis agak terisolasi dalam urusan ini.”

Libya telah dihancurkan oleh perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada tahun 2011. Pemerintah baru Libya didirikan pada tahun 2015 berdasarkan perjanjian yang dipimpin oleh PBB, tetapi upaya untuk penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Haftar , mengakibatkan kekacauan sipil dan lebih dari 1.000 kematian.

Pada bulan Maret, pemerintah Libya meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan di ibukota, dan baru-baru ini mengambil kembali lokasi-lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan kota Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.

Turki telah menekankan perlunya solusi politik di Libya, mengecam upaya Haftar untuk menggulingkan pemerintah sah negara itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here