Peran Turki di Kawasan, dan Oposisionalisme UEA Hingga Prancis.

1
161

Oleh: Burhanuddin Duran & @hazal

BERITATURKI.COM, Ankara| Bangkitnya kekuatan Turki di kawasan dan langkah terbarunya di Libya dan Mediterania Timur telah menimbulkan banyak pertanyaan di pusat kekuatan asing yang tidak senang akan segala kebijakan Ankara dan kedudukan internasional negara itu setidaknya dalam 7 tahun terakhir. 

Ketika orang Amerika bergumul dengan seruan Presiden Donald Trump untuk menunda pemilu 2020, media Eropa mengutuk perubahan status Aya Sofia sebagai masjid. Di satu sisi, mereka meminta para pemimpin Eropa untuk menanggapi “Sultan” Recep Tayyip Erdoğan, yang mereka tuduh sebagai ekspansionisme neo-Ottomanist

Pada saat yang sama, wartawan Eropa menghargai bahwa Erdoğan telah mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan Amerika Serikat, dan dalam proses meningkatkan kapasitas negaranya untuk kepemimpinan di regional. Mereka juga memahami bahwa Erdoğan, sebagai pemimpin yang berpengalaman, telah mengambil alih apa yang gagal dilakukan oleh rekan-rekan Eropa-nya dan membawa Turki ke level baru dari kekuatan regional menuju global.

Ketika Amerika Serikat sedang mendefinisikan kembali peran globalnya, Eropa mengalami kekurangan kepemimpinan yang efektif. Orang jelas kecewa dengan kinerja Presiden Prancis Emmanuel Macron. Masih belum jelas siapa yang seharusnya mengisi kekosongan yang akan ditinggalkan Kanselir Angela Merkel di Jerman. Dalam keadaan seperti itu, posisi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Thayyib Erdoğan dapat memberikan pengaruh lebih besar atas politik benua itu. Karena itu, orang Eropa mengakui, -meskipun dengan enggan- dan secara terpaksa mereka harus berhadapan atau bekerja bersama Turki. Mereka juga menyaksikan bagaimana Prancis dan Yunani berusaha membuat Uni Eropa memberikan sanksi kepada Turki demi kepentingan nasional mereka yang sempit.

Upaya Turki dalam mengkonsolidasikan kekuatan mereka pasca kudeta gagal 15 Juli 2016 yang lalu, adalah hal yang sulit diterima oleh orang luar. Karena ketegasan dan langkah proaktif negara tersebut di Suriah, Irak, Libya dan Laut Mediterania Timur, mereka tidak dapat lagi memaksakan aturan lama permainan di Ankara.

Turki, dengan angkatan laut dan kapal pemborannya yang berkeliaran di Mediterania Timur, bukan hanya negara lain yang mengeluh dan bersorak dengan suara protes dari pinggir lapangan. Justru sebaliknya, ini adalah inti dari perebutan kekuasaan saat ini. Demikian pula, Turki, dengan kehadiran militernya di Libya, memainkan peran sentral di lapangan dan telah menjadi pembicaraan tingkat diplomatik mengenai masa depan Eropa dan Afrika Utara.

Sangat penting bahwa realitas baru ini dihargai sepenuhnya dan keseimbangan kekuatan baru muncul sejalan dengan kepentingan Turki. Re-distribusi kekuasaan itu harus adil, berakar kuat pada hukum internasional dan sejalan dengan keinginan masyarakat setempat. Gagasan untuk mengecualikan Turki (Negara dengan pemilik garis pantai terpanjang di Laut Mediterania) dari negosiasi energi Mediterania Timur adalah sebuah pepesan kosong di siang hari.

Kampanye kotor yang sedang dimainkan dan bermuatan ideologis untuk menyerang Turki tidak akan mematahkan semangat Ankara. Apa yang telah dilakukan Erdogan untuk memberi Turki pendekatan baru dalam kebijakan strategis negara itu telah menjadi landasan kebijakan Ankara, yang tidak akan berubah bahkan jikalaupun kekuatan politik di Turki akan berpindah tangan. Tokoh oposisi, yang dengan sembrono mempertanyakan tindakan Turki hari ini, akan menghargai kepentingan nasional mereka saat ini, suka atau tidak, mereka harus memberikan ‘upacara penghormatan’ atas kebijakan İnternasional yang sedang dijalankan Erdoğan dan bahkan ketika mereka ‘secara tidak sadar’ akhirnya akan ikut menjalankannya.

Uni Emirat Arab (UEA) adalah salah satu negara yang melakukan segala daya mereka untuk menahan pengaruh regional Turki yang sedang naik. Abu Dhabi juga menjalankan kampanye anti-Turki untuk mengajak Mesir bergabung dalam perang saudara Libya. Dalam upaya untuk mendorong Abdul-Fatah al-Sissi, presiden perampas kekuasaan Mesir, Emirat berupaya untuk mengobarkan nasionalisme pan-Arab. Semua pembicaraan tentang apa yang disebut invasi Turki, kolonisasi dan “campur tangan dalam urusan Arab” adalah bagian dari kampanye itu. Tidak hanya berhenti di situ salah satu negara Arab kaya minyak itu sedang membangun opini bahwa Turki dengan masa lalu mereka (Ottoman) adalah penjajah tanah Arab.

Namun, setelah serangan terbaru di pangkalan udara al-Watiya, Turki mengarahkan perhatiannya pada upaya UEA yang merusak. Dalam beberapa hari terakhir, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar membawa kritik Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu ke tingkat berikutnya: “Kami akan meminta pertanggungjawaban mereka (UEA) pada waktu dan tempat yang tepat.” 

Kata-kata dari pernyataan itu menunjukkan bahwa operasi agresif UEA di Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi tidak tertahankan bagi Turki. Jumlah uang yang berlebihan yang dilemparkan Abu Dhabi ke pelobi Barat tidak dapat menyembunyikan betapa campur tangan mereka dalam konflik di Yaman, Suriah dan Libya, juga tidak dapat disembunyikan oleh Emirat bahwa penggembosan yang dilakukan mereka, melalui blokade Qatar, telah membuat perpecahan antara orang Arab itu sendiri- tidak berhenti di kawasan Arab, namun upaya mereka untuk “memanipulasi” kebijakan negara-negara di Afrika Utara seperti Maroko, dan juga Mauritania dan Tunisia telah mengacak-acak kemandirian negara-negara bekas Ottoman tersebut.

Diamnya Barat dalam menghadapi agresi destruktif UEA juga merupakan pengakuan atas kemunafikan mereka. Kepura-puraan itu mungkin karena ketidakmampuan Mohammed bin Zayed untuk menjadi seorang perantara. Setidaknya kalaupun tidak mencapai tingkat sukses (menggagalkan upaya Turki) mereka berharap UEA mampu merusak konsentrasi Turki untuk mencapai tujuan mereka.

Namun, pada akhirnya orang-orang Arab akan mampu membedakan antara ketulusan Erdogan dan ambisi putra mahkota yang di jadikan “anjing penjaga” yang disewa oleh barat untuk menjaga kepentingan mereka di Timur Tengah dan Afrika Utara. Untuk sementara kita lihat apa yang akan terjadi, apakah akan ada yang berupaya menyadarkan mabuk kepayang sang putra mahkota “bin Zayed dan bin Salman” bahwa mereka sedang dikipasi dengan kipas besar untuk perpecahan yang berlanjut dari Ujung Asia Tengah (Pakistan) Hingga Maroko itu.

*Burhanuddin Duran adalah Analis di SETA, & @hazal adalah analis tetap di beritaturki.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here