Pemerintah Turki: Masa Depan Turki Terletak pada Anak-anak

0
57

BERITATURKI.COM, Istanbul – Turki akan menandai Hari Anak setiap tanggal 23 April. Pekan depan, sebuah acara eksklusif akan digelar di Turki, dimana jumlah anak hampir setengah dari total populasi penduduknya. Angka yang dirilis Kamis (18/04/2019) menunjukkan tren terbalik terkait jumlah anak-anak yng diakibatkan oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga perubahan gaya hidup. Pemerintah Turki saat ini memperjuangkan kebijakan untuk meningkatkan jumlah anak yang saat ini tercatat sebanyak 28 persen dari total populasi menurut data dari Institut Statistik Turki (TurkStat).

Menurut laporan TurkStat, jumlah orang yang berusia 0-17 tahun sebanyak 22,9 juta pada tahun 2018, lebih rendah dibandingkan jumlah di tahun 1990-an yaitu 41,8 persen. Proyeksi populasi menunjukkan bahwa angka tersebut akan semakin menurun menjadi 23,3 persen pada tahun 2040.

Negara Turki baru-baru ini meluncurkan serangkaian peraturan dalam upayanya mendorong para keluarga untuk memiliki lebih banyak anak.

“Satu orang anak memungkinkan ia hanya akan tumbuh sendirian, dua orang anak memungkinkan ia akan menjadi saingan, jadi sebaiknya para keluarga di Turki memiliki minimal tiga orang anak,” tutur Presiden Recep Tayyip Erdoğan memberi tahu pasangan yang baru menikah pada setiap kesempatan, sementara pemerintah menawarkan insentif kepada keluarga yang lebih besar.

Pemerintah Turki masih harus melihat apakah populasi anak akan kembali meningkat meskipun tren penuaan populasi juga turut meningkat dan sangat erat berkaitan dengan penurunan kesuburan serta peningkatan umur panjang berkat  perawatan kesehatan yang lebih baik. Meski begitu, Turki menduduki peringkat yang lebih baik dibandingkan dengan Uni Eropa, di mana proporsi rata-rata anak-anak terhadap total populasi penduduknya sekitar 18,7 persen. Irlandia misalnya, tecatat memiliki proporsi tertinggi sebesar 24,8 persen.

Şanlıurfa, provinsi tenggara di Turki, menunjukkan adanya harapan bagi populasi anak-anak yang lebih besar. Şanlıurfa memiliki proporsi anak tertinggi sebanyak 46,3 persen menurut data tahun 2018. Nakırnak dan Ağrı, dua provinsi lain di Turki timur, mengikuti Şanlıurfa dalam hal populasi anak yang tinggi. Tunceli di timur memiliki populasi anak terendah, yaitu 18,1 persen, diikuti oleh Edirne dan Kırklareli, dua provinsi di Turki barat laut.

Statistik terkait anak-anak juga mempelajari hal-hal lain, seperti yang telah terjadi selama hampir satu dekade, diketahui bahwa Yusuf adalah nama yang paling populer untuk anak laki-laki dan Zeynep untuk anak perempuan yang lahir pada tahun 2018.

Tokoh-tokoh TurkStat juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan tentang kelahiran seksio-seksi, yaitu suatu tren yang diusahakan pemerintah untuk segera dihapuskan. Satu dari dua bayi dilahirkan melalui operasi caesar, kata laporan itu, dan  termasuk tindakan yang sangat umum dilakukan di kota-kota bagian selatan Turki. Pada tahun 2017, kelahiran cesar tercatat sebesar 64 persen di Antalya, Isparta, Burdur, Adana, Mersin, Hatay, Kahramanmaraş, dan Osmaniye, yang terletak di atau dekat kawasan Mediterania. Kelahiran Cesar lebih sering terjadi dirumah sakit swasta.

Sedangkan untuk pendidikan, angka TurkStat menunjukkan bahwa tingkat sekolah adalah 91,5 persen untuk anak-anak. Untuk keluarga, biaya pendidikan tetap menjadi tantangan karena mayoritas orang tua yang diwawancarai dalam survei kepuasan hidup oleh TurkStat mengeluh tentang masalah biaya pendidikan.

Titik terang dalam statistik ditandai dengan adanya penurunan 5,8 persen menjadi 3,8 persen pada tahun lalu dibandingkan dengan tahun 2014 dalam kasus “pernikahan dini”, dimana anak di bawah umur dipaksa menikah. Kasus tersebut paling lazim terjadi di provinsi Ağrı, Muş dan Bitlis. Di wilayah tersebut, anak-anak sering dipaksa menikah oleh orang tua mereka dengan imbalan uang tunai untuk keluarga dan sebagai cara untuk meringankan beban keuangan anak-anak.

Dalam dekade terakhir, pihak berwenang meningkatkan tindakan terhadap kasus ini dan meningkatkan kunjungan ke rumah-rumah warga untuk mendeteksi anak-anak yang dipaksa menikah serta menawarkan perlindungan dan layanan sekolah. “Pengantin anak” [kebanyakan dari mereka yang dipaksa menikah adalah perempuan] hampir selalu dipaksa putus sekolah oleh keluarga mereka untuk menikah.(Yn)

Sumber: Anews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here