[Opini] Diplomasi Publik ala Beasiswa Türkiye, Memperkuat Soft Power Turki di Kawasan

0
101
Adhe Nuansa Wibisono, Direktur Eksekutif Cakramandala Institute

Oleh : Adhe Nuansa Wibisono M.Si, Direktur Eksekutif Cakramandala Institute, Mahasiswa Ph.d Turkish National Police Academy

Pada tahun 2020 ini Presidency for Turks Abroad and Related Community (YTB), badan khusus pemerintah Turki yang mengkoordinir diaspora dan beasiswa internasional merayakan usianya yang kesepuluh tahun. Turki melalui kehadiran YTB, berupaya memperkuat soft power-nya melalui diplomasi publik dalam bentuk beasiswa pendidikan tinggi dan memperkuat pengaruhnya menjadi aktor penting dalam percaturan politik di tingkat regional dan global. YTB melalui  Beasiswa Türkiye berupaya menarik minat mahasiswa internasional untuk melanjutkan studi di Turki dan memperkenalkan budaya dan bahasa Turki kepada mereka.

Joseph Nye, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat memperkenal istilah “soft power” dalam bukunya “Soft Power : The Means to Success in World Politics”. Menurut Nye, soft power adalah “kemampuan untuk mendapatkan apa yang anda inginkan melalui daya tarik daripada paksaan”. Daya tarik ini terletak di dalam “budaya suatu negara, cita-cita politik dan kebijakan dalam dan luar negerinya”. Menurut Nye memahami hubungan antara soft power dan diplomasi publik adalah kunci untuk mengenali kekuatan dalam meyakinkan dan menarik pihak lain (Nye, 2004).

Dalam pengertian ini jelas terlihat bahwa pendidikan tinggi dan mobilitas pelajar internasional merupakan elemen penting dalam aktivitas diplomasi publik suatu negara. Diplomasi publik merupakan bentuk komunikasi antarbudaya yang membentuk citra negara di mata publik dan pemerintahan bangsa lain serta menunjukkan bahwa pengakuan suatu negara merupakan hal yang penting. Dalam hal ini, mobilitas pelajar internasional merupakan kekuatan diplomasi publik bagi suatu bangsa” (Kaya, 2014).

YTB dan Perkembangan Diplomasi Publik Turki

Turki telah menyebarkan soft power dan diplomasi publik dengan mendirikan Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) pada tahun 1992, untuk memberikan dukungan kepada negara-negara Kaukasia dan Timur Tengah setelah runtuhnya Uni Soviet.  Tetapi baru pada era pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang menggunakan diplomasi publik sebagai kebijakan arus utama pada tahun 2000-an (Köselerli, 2017). Merupakan pilihan strategis bagi AKP menggunakan diplomasi publik untuk menjelaskan kepada publik internasional, model Islam moderatnya dengan sekularisme lunak yang tertanam dalam ekonomi kapitalis neoliberal. Alasan penting lainnya adalah keinginan para pemimpin AKP untuk menjadi kekuatan regional dan aktor global yang penting (Ekşi & Erol, 2018).

Upaya untuk menarik mahasiswa asing ke Turki mulai dilakukan pada tahun 1960-an, khususnya beasiswa diberikan dalam kerangka perjanjian bilateral yang ditandatangani dengan berbagai negara.  Namun kebijakan ini ditata ulang untuk pertama kalinya pada tahun 1992, berkat inisiatif dari mendiang Presiden Turgut Özal dan kemudian Turki meresmikan “Great Student Project”.  Proyek ini mengubah kebijakan terhadap pelajar internasional menjadi struktur yang lebih sistematis dengan beasiswa yang ditawarkan dan sejalan dengan perjanjian bilateral yang sudah ada sebelumnya (Ünal, 2019).

Logo Perayaan 10 Tahun YTB

Kemudian pemerintah Turki melalui Kementerian Luar Negeri pada tahun 2010 mendirikan Presidency for Turks Abroad and Related Communities (YTB) yang mengemban tugas untuk mengkordinasikan kegiatan diaspora Turki, komunitas terkait di luar negeri dan mahasiswa internasional yang belajar di Turki. Melalui kehadiran YTB hubungan diaspora Turki yang tinggal di luar negeri serta komunitas terkait diperkuat dengan hubungan ekonomi, sosial, dan budaya yang lebih dekat (Köselerli, 2017). Untuk mewujudkan visi misi tersebut, YTB menyelenggarakan organisasinya di lima bidang kerja yang berbeda : Warga Negara Asing, Serumpun dan Komunitas Terkait, LSM, Hukum dan Mahasiswa Internasional. Target utama unit Warga Negara Asing adalah 6 juta diaspora Turki yang tinggal di seluruh dunia. Selain itu terdapat komunitas serumpun dan terkait sekitar 250 juta orang yang merupakan diaspora potensial Turki lainnya (Ekşi & Erol, 2018).

Beasiswa Türkiye dan Soft Power Turki

Langkah strategis berikutnya yang dilakukan pemerintah Turki adalah pada tahun 2012 menggabungkan semua beasiswa pendidikan tinggi dari berbagai lembaga negara ke dalam satu mekanisme beasiswa di bawah YTB dengan nama “Beasiswa Türkiye” (www.turkiyeburslari.gov.tr). Beasiswa ini disalurkan ke dalam kategori kawasan sesuai dengan visi dan kecenderungan politik luar negeri Turki khususnya ke negara-negara berbahasa Turki (Asia Tengah), Balkan, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika. Jika sebelum tahun 2012 hanya sekitar 10% dari penerima beasiswa yang berasal dari kawasan Afrika, pada tahun 2018 angkanya mencapai lebih dari 25% (Kazancı, 2018).

Beasiswa Türkiye juga tidak hanya memberikan beasiswa, tetapi juga penempatan universitas. Fitur ini membedakan program ini dengan beasiswa lainnya di dunia. Selain uang bulanan, program ini menawarkan tiket pesawat, biaya pendidikan, asuransi kesehatan umum dan asrama mahasiswa. (Ünal, 2019). Beasiswa ini diseleksi secara kompetitif berdasarkan prestasi, di mana bukan hanya keunggulan akademis yang dinilai tetapi juga kualifikasi non-akademik lainnya. Semua penerima beasiswa diberikan kursus bahasa Turki selama satu tahun di mana  mereka berkesempatan untuk mengenal budaya Turki dengan berbagai program dan perjalanan yang disediakan di tahun pertamanya (Daily Sabah, 2020).

Abdullah Eren, Presiden YTB, mengatakan bahwa minat mahasiswa terhadap Beasiswa Türkiye telah meningkat setiap tahunnya. “Tahun 2012, program Beasiswa Türkiye menerima 42.000 pendaftar, sedangkan tahun 2019 mencapai rekor 146.600 pendaftar dari 167 negara berbeda. Tahun 2020 ini kami juga menargetkan rekor baru,” kata Eren. Institusi YTB menyediakan sekitar 5.000 beasiswa setiap tahunnya, termasuk untuk program sarjana, magister dan doktoral, serta program jangka pendek seperti beasiswa penelitian dan program bahasa dan budaya (Daily Sabah, 2020).

Mahasiswa Internasional di Turki

Peranan Alumni Beasiswa Türkiye

Visi paling penting dari Beasiswa Türkiye adalah memberikan beasiswa kepada mahasiswa internasional agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negara asal mereka. Selain itu juga tercatat bahwa para alumni yang lulus dari institusi pendidikan Turki juga diperkerjakan oleh perusahaan publik dan swasta Turki di luar negeri. Dalam rangka merawat hubungan strategis ini, jaringan Alumni Turki telah dibentuk dengan anggota lebih dari 150.000 lulusan dari 160 negara. Para alumni juga telah diperkerjakan oleh Kementerian Luar Negeri Turki, Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA), Maarif Foundation, Turkish Airlines dan Anadolu Agency. Para alumni memberikan kontribusi penting bagi negara mereka sendiri dan Turki dengan bekerja untuk perusahaan Turki di luar negeri (Kazanci, 2018).

Peranan alumni Beasiswa Türkiye juga mulai menonjol di sektor pemerintahan salah satunya seperti yang ditunjukkan oleh Abdirahman Ahmed Hasan, alumni yang saat ini menjadi Menteri Perdagangan, Industri dan Transportasi di Negara Bagian Somalia di Ethiopia. Ahmed Hasan menjalankan peran pelaksana dalam perekonomian negara bagian terbesar kedua di Ethiopia. Selain itu di negara bagian Ethiopia lainnya juga terdapat alumni yang menjadi pejabat pemerintahan. Mereka adalah Dini Remedan, Menteri Kebudayaan di Negara Bagian Harar dan Nureddin Muhammed, Wakil Menteri Kesehatan di Negara Bagian Somalia (Daily Sabah, 2019).

Melalui kehadiran YTB dan Beasiswa Türkiye, Turki menunjukkan kiprahnya dalam diplomasi publik khususnya di kawasan Asia Tengah, Balkan, Timur Tengah Asia Selatan dan Afrika. Selain itu peningkatan jumlah pendaftar beasiswa yang meningkat setiap tahunnya menunjukkan minat mahasiswa internasional untuk melanjutkan studi di Turki. Belum lagi pengaruh dari alumni yang tersebar di berbagai sektor baik pemerintahan, swasta dan sektor ketiga di berbagai negara. Dapat disimpulkan bahwa YTB dan Beasiswa Türkiye menunjukkan kiprahnya sebagai model diplomasi publik yang menjanjikan di masa depan, menjadi sarana soft power Turki yang efektif untuk memperkuat pengaruh Turki di tingkat regional dan global.

*Artikel opini ini sebelumnya sudah dimuat di minanews.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here