Napak Tilas Kemenangan Islam di Negeri Dua Benua

0
117
Museum Panorama 1453

Beberapa abad yang lalu Konstatinopel telah dikuasai oleh Yunani dan Romawi secara bergantian. Selama itu pula, umat islam tidak ada yang mampu menghancurkan benteng kerajaan tersebut walaupun sudah dilakukan beberapa kali usaha untuk merebut kekuasaan dari kerajaan tersebut. Namun umat islam selalu ingat dengan sabda nabi yang menyampaikan bahwa, “Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Bukhori)

Terngiang-ngiang dengan hadist tersebut dan mengetahui akan pentingnya kota Konstantinopel membuat Sultan Murad II, raja keenam daulah Utsmaniyah dan tak lain adalah ayah dari Muhammad Al-Fatih senantiasa berusaha memberikan didikan terbaik bagi anaknya. Al-Fatih kecil telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 Juz, mempelajari hadist-hadist, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, strategi perang, dan mempelajari berbagai bahasa seperti bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tak cukup hal itu, walaupun usianya masih seumur jagung, sang ayah mengamanahi Muhammad Al-Fatih memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Pada saat Muhammad Al-Fatih diamanahi menjadi khalifah Utsmaniyah beliau mencanangkan untuk menaklukan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih menyiapkan lebih dari 4 juta pasukan yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka. Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sepanjang semenanjung Tanduk Emas telah terbentang rantai kokoh yang memagari lautan sehingga tak dapat menyentuh benteng Konstantinopel kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati rantai tersebut. Langkah cerdiknya yakni ia menyeberangkan 70 kapal laut lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar dan penyeberangan tersebut dilakukan dalam waktu yang sangat singat, tidak sampai satu malam. Esok paginya, Bizantium dan rakyatnya kaget tak menyangka bahwa Muhammad Al-Fatih akan menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh pasukan yang berjihad karena Allah. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin tepatnya pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H atau 29 Mei 1453 M. Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lalu akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul. Dan sejak saat itulah Islam memimpin kembali peradaban dunia dan mampu memberikan maslahat untuk orang banyak.

Kini kita merindukan kembali kejayaan Islam maka sebaik-baik tempat belajar dan menghujamkan ruh perjuangan adalah mempelajari langsung ke tempat kejayaan Islam tersebut. Mari nikmati sensasi kemenangan islam di negeri dua benua dengan paket hemat dari Biru Marmara Travel. Info lebih lanjut kontak kami di 0811-9003-434 atau instagram @eduwisataturki. Segera booking seat untukmu! 🙂 (AD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here