Muslim Bosnia Peringati Seperempat Abad Genosida Sebrenica.

0
46

Pembantaian yang dilakukan di tengah upaya perdamaian oleh PBB ini menjadi preseden buruk yang pernah ada di Dunia, menewaskan 8000 orang dalam beberapa jam dalam 1 hari saja. Namun peristiwa itu juga menunjukkan kehadiran Indonesia dan Turki.

BERITATURKI.COM, Bosnia| pernah dengar genosida di zaman modern? ya, selain Palestina dan Rohingya yang sedang kita lihat berjuang membela diri dari kepunahan akibat keserakahan manusia lainnya, pada tahun 1995 tepatnya pada tanggal 11 Juli, 25 tahun yang lalu, Muslim Bosnia memperingati hari-hari penuh duka pembantaian Srebrenica , kekejaman terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II, dengan upacara peringatan seadanya akibat protokol dari pandemi Covid-19 yang tidak mengijinkan keramaian.

Penyelenggara mengatakan jumlah orang yang menghadiri peringatan tersebut – biasanya puluhan ribu- namun kemarin yang ikut menghadiri lebih rendah dari biasanya karena Pembatasan Sosial/Social Distancing masih berlaku di negara Aliya Izzetbegoviç itu yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Proses dimulai di pagi hari.

Pada pukul 11.00 GMT waktu Bosnia, sisa-sisa sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir dibaringkan di pemakaman peringatan di Potocari, sebuah desa di luar Srebrenica yang berfungsi sebagai pangkalan pasukan perlindungan PBB, FORPRONU, selama konflik.

Pada 11 Juli 1995, setelah mengepung kota yang bernasib malang itu, pasukan Serbia membunuh lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki Muslim di Srebrenica dalam beberapa satu hari saja tanggal 11 Juli 1995.

Mahkamah İnternasional yang ikut turin ke lapangan setelah peristiwa itu melabeli peristiwa tersebut sebagai genosida. Peristiwa yang di mulai dengan Perang antar dua suku bangsa yang disebabkan oleh sentimen agama ini terjadi selama 3 tahun sejak akhir 1992-1995 antara Kroasia, Muslim dan Serbia Bosnia yang menewaskan lebih dari 100.000 jiwa.

Sejauh ini, sisa-sisa hampir 6.900 korban telah ditemukan dan diidentifikasi dari lebih dari 80 kuburan massal.

Panglima militer Serbia masa perang Serbia Ratko Mladic, masih dihormati sebagai pahlawan oleh banyak orang Serbia, namun oleh Pengadilan PBB telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2017 atas kejahatan perang termasuk genosida Srebrenica. Dia sedang menunggu keputusan bandingnya.

Radovan Karadzic, pemimpin politik perang Serbia lainnya, juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Mahkamah Internasional-Den Haag.

Pembantaian Srebrenica adalah satu-satunya episode konflik Bosnia yang digambarkan sebagai genosida oleh komunitas internasional.

Dan sementara bagi Muslim Bosnia mengakui skala kekejaman adalah kebutuhan untuk perdamaian abadi, sementara sebagian besar pemimpin-Serbia dan orang awam di Serbia -penggunaan kata genosida masih belum dapat mereka terima-.

Menjelang peringatan, Presiden Serbia Aleksandar Vučič menggambarkan Srebrenica sebagai “sesuatu yang tidak seharusnya dan tidak bisa kita banggakan”, tetapi dia tidak pernah secara terbuka mengucapkan kata “genosida”.

Beberapa ribu orang Serbia dan Muslim hidup berdampingan di Srebrenica yang miskin, sebuah kota tak bernyawa di Bosnia timur dengan hanya beberapa toko di pusatnya.

Pada hari Jumat, walikota Serbia kota itu Mladen Grujičic – yang terpilih pada tahun 2016 setelah kampanye berdasarkan penolakan genosida – mengatakan bahwa “ada bukti baru setiap hari yang menyangkal presentasi saat ini dari semua yang telah terjadi”.

Pemimpin politik Serbia, Milorad Dodik, juga menggambarkan pembantaian itu sebagai “mitos”.

Tetapi pada hari Jumat, anggota Muslim dari kepresidenan bersama Bosnia, Sefik Dzaferovic, mengatakan: “Kami tanpa lelah akan bersikeras pada kebenaran, keadilan dan tentang perlunya mengadili semua orang yang telah melakukan kejahatan ini”.

“Kami akan berperang melawan mereka yang menyangkal genosida dan memuliakan para pelakunya,” katanya di pusat peringatan tempat ia menghadiri doa bersama.

Untuk menghindari kerumunan besar pada hari Sabtu, panitia telah mengundang orang untuk mengunjungi pusat peringatan sepanjang bulan Juli.

Sejumlah pameran berbeda dipajang, termasuk lukisan karya seniman Bosnia, Safet Zec.

Dengan cara lain, sebuah pameran memori berjudul “Mengapa Anda Tidak Ada Di Sini?” oleh seniman AS-Bosnia Aida Sehovic, terdiri lebih dari 8.000 cangkir kopi yang tersebar di halaman pekuburan.

“Kami masih belum menjawab pertanyaan mengapa mereka tidak lagi di sini,” katanya kepada AFP.

“Bagaimana ini bisa terjadi di jantung Eropa, bahwa orang-orang dibunuh dengan cara yang mengerikan di daerah yang dilindungi PBB? Belum lagi fakta bahwa genosida masih ditolak.”

‘Turki & Indonesia selalu berdiri di samping Bosnia dalam mencari keadilan’ 

Sementara itu, presiden Turki pada 11 Juli ingat Srebrenica pada peringatan 25 tahun genosida.

“Kami akan selalu mendukung saudara-saudara kami di Bosnia untuk mencari keadilan. Genosida Srebrenica tidak akan pernah dilupakan,” kata Recep Tayyip Erdoğan dalam sebuah pesan video.



Sebagai bagian dari peringatan 25 tahun Genosida Srebrenica, Erdogan berbicara melalui tautan video pada upacara peringatan yang diadakan di bekas pabrik akumulator yang digunakan oleh pasukan PBB sebagai pangkalan dalam perang di Bosnia.

Erdogan menekankan bahwa terlepas dari semua tragedi dan air mata, politisi Eropa tidak mendapat pelajaran dari Srebrenica Genocide, menambahkan bahwa penggunaan kata-kata yang bebas “memicu permusuhan terhadap Islam dan mendukung xenophobia adalah sumber kepedulian bagi masa depan kita.”

“Meskipun sudah seperempat abad sejak genosida, rasa sakit kita masih segar. Hati kita merana dengan setiap kuburan massal digali,” katanya.

Sebuah ucapan yang tulus dari presiden Erdogan untuk para korban perang dan genosida di Serbia pada tahun 1995 lalu.

Sementara itu Indonesia yang dulu masa Presiden Suharto berkuasa dengan gagah berani berkunjung di Negeri konflik itu di tengah kecamuk perang sedang terjadi. Ia Presiden Suharto berkunjung dan dengan tenang menjumpai Presiden Aliya Izzetbegoviç di markaz kepresidenan.

Presiden Soeharto saat berkunjung ke Bosnia, meski ada larangan berkunjung dari PBB, namun beliau beserta rombongan tetap bersikeras menjumpai Presiden Alija Îzzetbegobič yang di isolasi waktu itu.

Begitulah sekilas memori peringatan perang Bosnia dan Serbia yang bersejarah itu./HDN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here