Mengenang 569 Tahun Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih

BERITATURKI.COM, Istanbul – Kota Istanbul merupakan kota yang ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tanggal 29 Mei 1453 M tepatnya 569 tahun yang lalu.

Istanbul adalah wilayah yang pernah menjadi ibu kota bagi tiga kerajaan besar seperti Roma, Bizantium dan Kekaisaran Utsmaniyah. Istanbul juga disebut dengan nama “Roma Kedua”, “Roma Baru”, “Bizantium”, “Konstantinopel” dan “Konstantiniyye”.

Dalam sebuah Hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya Kota Konstantinopel akan ditaklukkan, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).

Untuk menjadi sosok pemimpinnya yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw, 3 ekspedisi besar turut digencarkan ke Konstantinopel pada masa kekhalifahan Bani Umayyah, sementara ekspedisi lain juga dilakukan oleh Bani Abbasiyah pada 781-782. Pengepungan pertama Istanbul yang berada di bawah komando Muawiyah bin Abu Sufyan dengan diikut oleh beberapa sahabat Nabi, telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di periode-periode berikutnya.

Sayidina Abu Ayyub al-Ansari, yang pernah menjamu Nabi di rumahnya selama hijrah ke Madinah, juga turut berpartisipasi dalam pengepungan yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Hal tersebut juga merupakan sumber motivasi penting bagi dunia Islam dalam perjalanan menuju penaklukan pada tahun 1453.

Benteng Rumeli

Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih naik takhta, pertama-tama ia membangun Benteng Rumeli pada tahun 1452 di seberang Benteng Anadolu, yang dibangun oleh Sultan Yıldırım Bayezid.

Benteng ini ini dibangun untuk mencegah datangnya bantuan dari Danube dan Laut Hitam. Untuk menghancurkan tembok Istanbul yang tinggi dan tebal, meriam-meriam besar pun dibuat oleh para insinyur penting pada masa itu.

Sultan Muhammad memerintahkan agar meriam yang telah dibuat pada Februari 1453 dibawa ke depan tembok Konstantinopel. Sebanyak 10 ribu tentara di bawah komando Karaca Pasha pertama kali mengepung kastil Vize, Silivri dan Ayastefanos di dekat Konstantinopel. Pada bulan April, Mehmed II mengirim pesan ke provinsi dan sanjak untuk bergabung dengan tentara, dan pada tanggal 5 April 1453, tentara Utsmaniyah pindah ke Istanbul di bawah komando Sultan Muhammad.

Selain Fatih, guru-gurunya seperti Akşemseddin, Molla Gürani dan Akbıyık juga hadir pada penaklukan ini. Pada 6 April 1453, 10 ribu kavaleri merebut wilayah Maltepe. Sultan Muhammad juga memegang Anatolia dan Tanduk Emas. Zağanos Pasha menaklukkan Pera dan berbaris di Galata. Pada hari yang sama, Sultan Muhammad mengirim Mahmut Pasha sebagai utusan kepada Kaisar Bizantium untuk mengajak negosiasi perdamaian, tetapi tawaran negosiasi perdamaian ditolak oleh Kaisar Bizantium.

Sultan Muhammad memulai pengepungan Istanbul pada tanggal 6 April 1453. Sementara tentara Utsmaniyah mengepung kota dari darat dan laut, ketika tentara membuat terobosan di tembok, pasukan Bizantium terus menjaga tembok dan tidak mengizinkan pasukan Utsmaniyah memasuki kota.

Angkatan laut Utsmaniyah tidak dapat mencegah kapal Genoa dan Venesia yang datang untuk membantu Bizantium menyebabkan para penguasa yang menentang pengepungan mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Ketidakmampuan angkatan laut Utsmaniyah untuk memasuki Tanduk Emas karena rantai antara Tanduk Emas dan Karaköy mengubah arah perang melawan Utsmaniyah.

Atas perkembangan ini, Sultan Muhammad mengajukan langkah yang akan mengubah jalannya perang. Ia memerintahkan 72 buah kapal untuk dibawa ke darat dan diturunkan ke Tanduk Emas pada malam yang menghubungkan 21 April hingga 22 April.

Angkatan laut yang diturunkan ke Tanduk Emas dalam satu malam, mulai menembak dari Tanduk Emas pada 22 April. Sementara Bizantium terkejut dengan apa yang mereka lihat, mereka tidak percaya bahwa angkatan laut Utsmaniyah berhasil masuk ke area Tanduk Emas.

Sebelum terjadinya serangan besar terakhir, Sultan Muhammad mengirim Isfendiyaroğlu Kasım Bey kepada kaisar pada tanggal 24 Mei dan memintanya untuk menyerahkan kota, tetapi tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai.

Ketika Utsmaniyah lebih mendominasi perang setelah kapal diturunkan ke Tanduk Emas, Sultan Muhammad memberi perintah untuk serangan besar pada 29 Mei. Dengan serangan yang dimulai dengan cahaya pertama hari itu pada tanggal 29 Mei, tembok-tembok itu dapat diatasi.

Konstantinopel yang gerbangnya dibuka pada 29 Mei 1453, ditaklukkan oleh pasukan Utsmaniyah yang dipimpin oleh Sultan Muhammad II, sehingga ia mendapatkan gelar “Penakluk” (Al-Fatih). Sultan Muhammad Al-Fatih dengan penuh toleransi ia tidak menjarah kota, tetapi ia hanya mengubah Katedral Hagia Sophia menjadi masjid sebagai tanda penaklukan.

Sumber : TRT Haber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here