Mengenal Program Magister Jurusan Studi Al-Quds, Pertama di Universitas Ankara Turki

0
193

Ankara. Universitas Ankara untuk pertama kalinya membuka program magister khusus yang mempelajari Al-Quds di Turki.

Kepada Anadolu Agency, kepala program studi di Universitas Ilmu Sosial Universitas Ankara (ASBU), Prof. Dr. Abdul-Fattah El-Awaisi, mengatakan bahwa tujuan dari program tersebut ialah untuk menghasilkan cabang ilmu pengetahuan khusus karena dunia Muslim perlu memiliki narasi sendiri terkait penyebab konflik Palestina, dan secara khusus Al-Quds.

Dilansir dari Ummat Pos, El-Awaisi, yang berasal dari sebuah desa dekat Yerusalem, mengatakan program itu bertujuan untuk menghasilkan sarjana muda yang mengkhususkan diri dalam studi Al-Quds.

Ia memberikan pernyataan bahwa program master ini tidak hanya yang pertama untuk universitas Turki, tetapi untuk seluruh dunia Muslim.

“Program multidisipliner ini juga akan fokus pada hubungan internasional, karena Anda tidak dapat memahami hubungan internasional dan ilmu politik tanpa latar belakang sejarah yang baik, ” kata El-Awaisi menjelaskan.

Arsip Ottoman

El-Awaisi memberikan keterangan bahwa  Universitas Ankara juga baru-baru ini telah mendirikan Pusat Penelitian Al-Quds. Ia menekankan pentingnya memiliki akses ke arsip Era Ottoman dalam bidang studi khusus ini.

Ia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan keuntungan besar bagi siswa untuk dapat mengakses arsip Ottoman dan arsip merupakan sumber yang sangat kaya, terutama dalam hal sejarah Ottoman dan kontribusi Ottoman ke Al Quds.

“Turki adalah tempat yang ideal untuk mempelajari sejarah dan pengaruh kekuasaan Ottoman sejak menghabiskan 400 tahun di bawah kekuasaannya,” kata profesor itu.

Yerusalem saat ini

Terkait keputusan AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, El-Awaisi  menyatakan bahwa kondisi lemah dunia Palestina, Arab dan Islam memberi kesempatan emas bagi Trump untuk mengadopsi keputusan tersebut.

Ia pun menyayangkan bahwa kini kita telah mencapai tahap, bahkan di mana kita tidak dapat memasuki Masjid Al-Aqsa untuk sekedar shalat tanpa mendapatkan izin dari tentara Israel.

Dilansir dari Umat Pos, Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina di mana orang-orang Palestina berharap Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – dapat berfungsi sebagai ibu kota Palestina.

Hukum internasional menganggap semua aktivitas pembangunan permukiman Yahudi di atas tanah tersebut adalah ilegal dan terus fokus terhadap kawasan Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan.(Yn)

Sumber: Ummat Pos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here