Meneropong Kerjasama Pertahanan Indonesia-Turki

    0
    348

    Kunjungan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto ke Turki pada 27-29 November 2019 silam memberikan sinyal menguatnya kerjasama pertahanan Indonesia-Turki di masa mendatang. Menhan Prabowo bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Selain didampingi oleh Duta Besar RI untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, pertemuan tersebut juga dihadiri Menhan Turki, Hulusi Akar dan Ketua Presidensi Industri Pertahanan (SSB), Ismail Demir.

    Dari berbagai pemberitaan disebutkan bahwa Indonesia dan Turki akan semakin memperkuat kerjasama pertahanan dan industri pertahanan yang sudah ada terutama joint program dalam pengembangan tank medium. Dari pertemuan tersebut, Menhan Prabowo menyatakan bahwa tidak hanya peningkatan kemampuan alutsista yang menjadi bahasan tetapi kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan akan mendapat perhatian yang signifikan.

    Apa yang membuat Turki menjadi negara yang penting dibidik Indonesia dalam kerjasama pertahanan dan industri pertahanan? Pada tahun 2019, Turki merupakan negara dengan peringkat kekuatan militer ke-9 di dunia menurut Global Fire Power, sebuah website analisis kekuatan militer terkemuka.

    Turki memiliki kekuatan tempur udara dengan aset militer sebanyak 1,067 unit. Selain itu Turki memiliki 3,200 tank tempur dan 9,500 kendaraan tempur lapis baja serta aset militer laut sebanyak 194 unit. Turki juga tercatat menduduki peringkat militer ke-6 diantara negara aliansi NATO setelah AS, Perancis, Inggris, Italia dan Jerman.

    Jejak Kerjasama Pertahanan Indonesia-Turki

    Sebelumnya kerjasama antara Indonesia dan Turki telah diwujudkan dalam bentuk MoU Kerjasama Industri Pertahanan antara Indonesia dan Turki pada 29 Juni 2010 di Ankara, Turki. Salah satu kesepakatannya adalah adanya joint program dalam pembuatan Modern Medium Weight Tank (MMWT).

    Dalam rangka mendetailkan kerjasama industri pertahanan, disepakati perjanjian Protocol on Defence Industry Cooperation pada 7 April 2011 di Jakarta. MoU Kerjasama Industri Pertahanan 2010 tersebut rencananya akan diperluas menjadi MoU Kerjasama Pertahanan yang ditandatangani pada tahun 2020 ini.

    Indonesia menunjuk PT Pindad untuk mewakilinya merealisasikan kerjasama pembuatan tank kelas medium tersebut. PT Pindad merupakan industri pertahanan yang menyediakan sistem persenjataan untuk pertahanan dan keamanan Indonesia. Sementara di pihak Turki mempercayakan proyek kerjasama tersebut kepada FNSS Defense System. FNSS Defense System merupakan industri pertahanan Turki yang diakui dunia internasional.

    Pada 7 Mei 2013, dilaksanakan Bilateral Meeting ke-2 Defense Industry Cooperation di Turki yang menghasilkan kesepakatan pendanaan bersama. Selanjutnya di tahun 2014, kedua negara sepakat untuk mendesain platform tank khusus. Rangkaian kerjasama ini dimulai dari tahap pendidikan sumber daya manusia, pembentukan teknologi, hingga pada tahap produksi dan pengetesan alutsista (M. Imtiyaz Habibi, 2018).

    Keunggulan Tank Harimau

    Output dari joint program tersebut adalahnya diluncurkannya prototipe pertama tank medium pada Mei 2017 selama IDEF, International Defense Industrial Fair di Turki. Tank Harimau adalah nama yang digunakan dalam versi Indonesia sedangkan Tank Kaplan MT adalah nama versi Turki. Tank Harimau ini memiliki bobot seberat 32 ton, dilengkapi dengan mesin diesel Caterpillar C13 yang

    bertenaga 711 daya kuda. Tank juga dilengkapi transmisi otomatis dengan kecepatan maksimal 76 km/jam dan dapat menempuh jarak hingga 450 km.

    Tank Harimau dapat menampung tiga orang awak yang terdiri dari komandan, penembak dan pengemudi. Tank ini dilengkapi dengan meriam Cockerill XC-8 kaliber 105 mm yang dapat menembakkan amunisi standar NATO dan menembak target pada jarak maksimum 10 km (Kompas, 25 Oktober 2018).

    Selain itu tank ini juga memiliki senjata sekunder senapan mesin 7,62 mm yang dapat diganti dengan cepat ketika rusak. Tank ini juga dilapisi STANAG 4569 level 4 untuk melindungi bagian lambungnya dan pelindung tambahan STANAG level 5 yang mampu menahan serangan peluru sebesar 30 mm. Desain lambung berbentuk V dalam tank itu berfungsi menahan ledakan 10 kg ranjau (Anadolu Agency, 7 September 2018).

    Tank Harimau juga dilengkapi dengan sistem manajemen medan perang, sistem interkom kru nirkabel, sistem navigasi dan sistem pemadam api otomatis. Tank ini didukung oleh mesin diesel generasi baru yang dipasangkan dengan transmisi elektronik otomatis. Tank ini dapat memanjat rintangan vertikal 90 cm, melintasi parit selebar dua meter dan dapat beroperasi di berbagai ketinggian (Defense News, 6 Mei 2019).

    Masa Depan Diplomasi Pertahanan Indonesia

    Keunggulan Tank Harimau/Kaplan MT ini menarik minat negara-negara lain di kawasan seperti Filipina, Bangladesh, dan Brunei untuk membeli tank tersebut. Tank Harimau diklaim cocok digunakan di negara-negara dua musim di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina serta di negara-negara empat musim karena dapat beroperasi pada suhu maksimum 50 derajat Celcius dan suhu minimum -30 derajat Celcius.

    Negara lain yang tertarik membeli produk pertahanan Indonesia adalah negara Afrika, Ghana. PT Pindad dan Kementerian Pertahanan Ghana telah menandatangani Letter of Intent (LOI) sebagai bagian kerjasama penyediaan produk pertahanan. Selain Tank Harimau, Ghana juga tertarik untuk membeli produk Indonesia lainnya seperti senjata api, kendaraan militer taktis dan kendaraan amfibi.

    Tank Harimau ini selain menjadi kebanggaan Indonesia juga menjadi masa depan diplomasi pertahanan Indonesia. Indonesia saat ini memiliki daya tawar yang lebih kompetitif dalam diplomasi pertahanan karena memiliki produk unggulan seperti Tank Harimau. Hal ini ditunjukkan oleh keputusan Filipina yang membeli Tank Harimau setelah Menhan Prabowo Subianto melakukan diplomasi penawaran langsung di sela-sela pertemuan ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) ke- 6 di Bangkok, Thailand pada November 2019.

    Joint Program antara Indonesia-Turki dalam pengembangan Tank Harimau/Kaplan MT ini membuktikan keberhasilan kerjasama industri pertahanan di antara kedua negara. Kunjungan Menhan Prabowo ke Turki November 2019 silam, sekali lagi menyiratkan bahwa akan terjadi peningkatan level kerjasama pertahanan dan industri pertahanan yang jauh lebih besar antara Indonesia dan Turki di masa depan.

    Adhe Nuansa Wibisono

    Ketua Majelis Pertimbangan KAMMI Turki

    Mahasiswa Ph.D Studi Keamanan Internasional – Turkish National Police Academy

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here