Media-media Arab Memfitnah Ghannouchi di Tunisia.

0
75

Media-media Pro-UEA, Arab Saudi, dan Mesir berupaya Mengacaukan Tunisia setelah kegagalan mereka di Libya.

BERITATURKI.COM, TUNISIA (24/05)

Beberapa outlet media di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir telah meluncurkan kampanye sistematis terhadap Rached Ghannouchi, pemimpin intelektual Gerakan Ennahda Tunisia, untuk menodai citranya dan memicu goncangan politik di negara pelopor arab-spring tersebut.

Kontra-revolusi yang dipimpin oleh Sky News, Al-Arabiya yang didanai Saudi – keduanya siaran dari UEA – dan surat kabar Youm7 yang berbasis di Mesir, telah menerbitkan berita tipuan secara simultan.

Laporan media-media tersebut secara sepihak mengklaim Ghannouchi memperoleh kekayaan finansial yang sangat besar sejak kembali ke Tunisia setelah kemenangan revolusi pada 2011, sebesar $8 miliar, terlepas dari kenyataan bahwa anggaran negara saja tidak melebihi angka $16,5 miliar.

Para pengamat yakin kampanye itu ingin menciptakan ganjalan antara parlemen dan presiden dan memprovokasi pertempuran sampingan di parlemen antara blok-blok di internal Tunisia untuk mengobok-obok lembaga-lembaga negara agar melakukan aksi mogok bersama.

Meliputi kegagalan di Libya 

Kampanye itu bertepatan dengan kekalahan kontra-revolusi (panglima pemberontak Haftar) di Libya, setelah milisi yang setia kepada panglima pemberontak Khalifa Haftar menderita kerugian besar-besaran di kota-kota Libya bagian barat, di samping itu tentara Libya juga merebut kendali pangkalan udara Al-Watiya yang diduduki oleh pasukan putschist sejak sekitar enam tahun lalu.

Pandangan para ahli mengarahkan serbuan media oleh UEA dan Mesir terhadap Ghannouchi adalah upaya untuk menutupi kegagalan baru mereka tersebut di Libya.

“Libya adalah kata sandi dalam mengarahkan UEA untuk meluncurkan kampanye sengit terhadap Sheikh Rachid Ghannouchi,” sebagaimana disampaikan oleh Ammar Fayed, seorang peneliti keamanan internasional untuk kawasan Timur Tengah.

“Meskipun mudah untuk menyangkal tuduhan terhadap penyalahgunaan keuangan Ghannouchi, dan mengumumkannya kepada otoritas terkait baru-baru ini, setidaknya hal itu memberitahu kita bahwa tidak peduli seberapa naif dan lucu tuduhan itu, intensitas gelombang media akan membuat itu mengesankan, terutama jika mereka juga didukung oleh gerakan pro-UEA dari elit politik dan media Tunisia,” kata Fayed kepada Anadolu Agency.

“Sumbu kontra-revolusi tidak bermaksud untuk memungkinkan percobaan demokratis mereka untuk maju menyerang imam Rached [Ghannouchi], hal ini karena ada peran kaum Islamis Tunisa adalah bagian kekalahan mereka di Libya,” katanya.

Fayed menekankan bahwa kekalahan kontra-revolusi di Libya memiliki efek langsung pada penargetan stabilitas politik di Tunisia serta Ghannouchi, yang melakukan panggilan telepon terakhirnya kepada Presiden Kesepakatan Nasional (GNA) Fayez Mustafa al-Sarraj. Accord, seraya memberi selamat kepadanya atas pemulihan pangkalan udara Al-Wattiya di dekat perbatasan Tunisia, rupanya telah benar-benar membuat marah besar Kairo dan Abu Dhabi.

Tunisia, pilar terakhir pengalaman demokrasi

“Kebijakan pembunuhan moral karakter adalah kebijakan yang terkenal dan berlaku di hampir semua negara, tetapi menjadi lebih berbahaya ketika negara-negara mengadopsinya dengan peran institusi, birokrasi, dan media mereka, sehingga suara distorsi, kebohongan, dan penikaman menjadi lebih luas dan kuat,” kata wartawan Mesir Osama Gaweesh.

Gaweesh mengatakan “pertanyaannya adalah mengapa poros kontra-revolusi berusaha membunuh Ghannouchi secara moral? Sangat singkat, jawabannya adalah Libya.”

Dia menambahkan: “Tampaknya poros kejahatan tidak dapat menanggung kekalahan telak proxy mereka di Libya, Pemberontak Khalifa Haftar di tangan pemerintah yang sah.”

Gaweesh menekankan bahwa “Tunisia adalah pilar terakhir dari pengalaman sukses Musim Semi Arab (Arab Spring), yang memberi secercah harapan bagi tetangganya, Mesir, Libya dan negara-negara tetangga lainnya.”

Tunisia dianggap sebagai model untuk sistem demokrasi terbuka di mana tidak ada kekuatan spesifik yang dominan secara hegemonik. Masalahnya adalah bahwa tidak sepadan dengan visi pemerintahan Emirati, terutama setelah Gerakan Ennahda memenangkan pemilihan pertama setelah pecahnya revolusi pada akhir 2010.

Partai-partai revolusioner di Tunisia, yang dipimpin oleh Ennahda, juga mendapat serangan keras dari beberapa partai yang didukung oleh UEA melalui media dan media elektronik, yang membuat mantan Perdana Menteri Tunisia Hammad al-Jabali mengatakan bahwa “UEA telah melanggar kedaulatan nasional dengan dikte, uang dan informasi. ” Semoga musim semi tersebut berakhir indah sebelum kemarau panjang menghampiri. [AA]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here