Lembaga Bantuan Kemanusiaan Turki Kirimkan Makanan ke 1.012 Keluarga Rohingya

0
33

BERITATURKI.COM, Bangladesh – Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) mendistribusikan bantuan berupa makanan pada hari Rabu, 17 April 2019 kepada 1.012 keluarga pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp sementara di distrik Bazar, Cox, Bangladesh.

“Kami memberikan 25 kilogram beras, enam kilogram dal [lentil] dan tiga liter minyak goreng kepada masing-masing keluarga Rohingya,” kata wakil koordinator TIKA Emrah Ekinci.

Melansir Anadolu Agency, Ekinci menambahkan bahwa sebanyak 5.000 keluarga Rohingya akan mendapat bantuan makanan dalam lima fase pada bulan ini dan akan berlanjut menjadi bantuan paket bulanan reguler.

“Dengan demikian, kami dapat mendistribusikan bantuan makanan kepada lebih dari 20.000 orang Rohingya per bulan,” kata Ekinci, seraya menambahkan bahwa bantuan makanan juga didistribusikan ke beberapa ratus penduduk setempat yang membutuhkan.

TIKA telah mendistribusikan makanan yang dimasak setiap hari ke Rohingya sejak awal masuknya pengungsi Rohingya ke Bangladesh usai penumpasan militer di negara bagian Rakhine Myanmar pada 25 Agustus 2017.

“Saat ini kami mendistribusikan bahan makanan sesuai kebutuhan mereka. Sebelum ini, kami juga mendistribusikan rempah-rempah [bumbu untuk memasak] sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Ekinci.

Selama kunjungan lapangan, ratusan pengungsi Rohingya terlihat sedang mengantri di area distribusi bantuan TIKA di kamp “Shafiullah Kata” di wilayah administrasi Ukhia di Cox, Bazar. Sebelumnya, TIKA mengunjungi kamp-kamp pengungsi Rohingya dan membuat daftar penerima bantuan sebanyak 5.000 keluarga. TIKA menerapkan system penyaluran bantuan dengan membagikan satu kartu untuk setiap keluarga. Berdasarkan kartu itu, mereka mendistribusikan makanan sehingga sebanyak 5.000 keluarga bisa menikmati bantuan.

“Kami berterima kasih kepada TIKA dan Bangladesh karena telah membantu kami,” kata Rahima Khatun, 70 tahun, yang melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh bersama empat anaknya setelah suaminya hilang selama serangan militer.

Anwara Begum, 60 tahun, melarikan diri ke Bangladesh bersama suaminya yang terluka parah dan akhirnya meninggal empat bulan kemudian, mengatakan bahwa setelah kehilangan segalanya, mereka sekarang hidup dalam belas kasihan bantuan orang lain.

“Kami ingin kembali ke negara kami dengan jaminan hak dan keamanan,” katanya.

Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai etnis yang paling teraniaya di dunia. Mereka telah menghadapi ketakutan akan serangan militer yang mengakibatkan sejumlah orang terbunuh pada tahun 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh setelah pasukan militer Myanmar melancarkan serangan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017. Menurut sebuah laporan oleh Ontario International Development Agency (OIDA), hampir 24.000 Muslim Rohingya menjadi korban atas serangan tersebut.

Lebih dari 34.000 Rohingya juga dibakar hidup-hidup, sementara lebih dari 114.000 lainnya dianiaya, berdasarkan laporan dengan judul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap”. Sekitar 18.000 perempuan dan gadis Rohingya juga diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar serta lebih dari 115.000 rumah di Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambah laporan itu.

PBB juga telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – serta pemukulan brutal dan penculikan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran seperti itu termasuk dalam kejahatan kemanusiaan dan genosida terencana.(Yn)

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here