Kunjungi Turki, Senator AS Bahas Khashoggi dan Suriah

0
25
Foto Daily Sabah

BERITATURKI.COM, Ankara – Senator Republik AS Lindsey Graham tiba di Turki pada hari Jumat, 18 Januari 2019 untuk agenda pertemuan dengan para pejabat tinggi, termasuk Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu. Dalam agenda pertemuan itu, Erdogan dan Çavuşoğlu berdiskusi dengan Graham mengenai pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, dan keputusan AS untuk menarik diri dari Suriah.

Meskipun dikenal sebagai pendukung setia Presiden AS Donald Trump, namun Graham telah menjadi kritikus yang cukup sengit terhadap Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) setelah pembunuhan yang dilakukan pada Khashoggi di Konsulat Saudi, Istanbul, dua bulan lalu dan menjadi penggagas inisiasi untuk menghukum Kerajaan karena belum ada hasil yang memuaskan dalam hasil penuntutan.

Khashoggi, yang pernah tinggal selama beberapa waktu di Amerika Serikat dan menulis untuk The Washington Post, mengkritik rezim Saudi. Ia dinyatakan dibunuh saat mengunjungi konsulat untuk mengurus dokumen pernikahan. Para pejabat intelijen AS telah menyimpulkan bahwa putra mahkota setidaknya harus mengetahui plot kejadiannya, namun Presiden Trump enggan untuk menyalahkan.

Setelah pertemuan dengan Direktur CIA Gina Haspel Desember lalu, Graham mengatakan bahwa terdapat “nol peluang” terkait tidak terlibatnnya pangeran mahkota Saudi dalam kematian Khashoggi.

“Tidak ada senjata api. Yang ada hanya gergaji,” tutur Graham, merujuk pada kata-kata Menteri Pertahanan James Mattis bahwa ada tidak ada senjata api yang melibatkan pangeran mahkota dan laporan dari pemerintah Turki yang juga turut mengatakan bahwa agen Saudi menggunakan gergaji tulang untuk memotong-motong Khashoggi setelah ia terbunuh di konsulat Saudi di Istanbul.

Senator Republik AS juga telah menjadi pengkritik atas keputusan Trump untuk menarik pasukan AS keluar dari Suriah dan mengatakan bahwa penarikan itu harus dilakukan dengan cara yang cerdas. Terlepas dari kenyataan bahwa ia menyebut teroris dari afiliasi PKK Suriah dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) sebagai sekutu AS, ia memaksa mantan Sekretaris Pertahanan Ash Carter untuk menerima bahwa PKK dan YPG disejajarkan pada status yang sama di bulan April 2016. AS mengakui PKK sebagai organisasi teroris, namun ia mendukung afiliasi Suriah, YPG, dengan dalih berjuang melawan kubu Daesh, meskipun ada hubungan kuat antara kelompok-kelompok itu.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here