Kunjungi Indonesia, Perempuan Uighur Beri Kesaksian Terkait Kamp Konsentrasi Cina

0
364

BERITATURKI.COM, Jakarta – Seorang perempuan yang pernah ditahan dalam kamp konsentrasi pemerintah Cina, Gulbakhar Jalilova, 54 tahun, memberikan kesaksiannya pada hari Jumat, 11 Januari 2019, di Jakarta. Jalilova, yang datang ke Indonesia bersama adik dan seorang tokoh internasional dari Turkistan Timur, merupakan seorang pebisnis berkewarganegaraan Kazakhstan.

Jalilova telah berhasil bebas dari camp usai ditahan selama 16 bulan, sejak ditahan pada 22 Mei 2017, dengan tuduhan telah mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu yuan (3.500 dolar AS) dari Cina dan Turki. Banyak perlakuan buruk yang dialami oleh Jalilova selama berada di kamp konsentrasi.

Kemarin, selama dialog yang berlangsung antara pihak perwakilan aktivis Uighur, lembaga kemanusiaan AIN, dan beberapa perwakilan awak media, Gulbakhar banyak mengungkapkan hal-hal yang sebenarnya terjadi di kamp konsentrasi tersebut. Bahkan ia sempat terkejut saat salah satu pewarta menanyakan kebenaran terkait keadaan kamp konsentrasi yang sebenarnya dibuat dengan sangat layak oleh rezim komunis Cina.

Oleh penerjemah, apa yang dituturkan Jalilova sebagai saksi hidup mantan peserta kamp konsentrasi Cina pun disampaikan. Jalilova menyatakan bahwa kamp yang ditunjukkan oleh rezim Cina kepada rombongan-rombongan pewarta dari berbagai negara yang diundang hanyalah bentuk kamuflase.

Beberapa foto hasil jepretan pewarta Indonesia yang pernah diundang tersebut menunjukkan aktivitas Muslim Uighur sebagai penghuni kamp sangatlah teratur, mulai dari mengantri makanan hingga adanya fasilitas olahraga bola voli. Nyatanya, tutur Jalilova lagi, penghuni kamp hanya ditempatkan didalam ruangan dengan ukuran 6x3x7 meter tanpa diperbolehkan tidur bahkan bergerak sedikitpun selama 17 jam dalam sehari.

Nyatanya, tutur Jalilova sambil menunjukkan foto keadaan kamar didalam kamp, ia bersama penghuni kamp lainnya yang berusia 14-80 tahun hanya ditempatkan didalam ruangan dengan ukuran 6x3x7 meter tanpa diperbolehkan tidur bahkan bergerak sedikitpun selama 17 jam dalam sehari.

“Jika salah satu diantara penghuni kamp tersebut menoleh atau melakukan gerakan sepele lainnya, maka pengawas akan menganggap hal itu sebagai gerakan shalat dan konsekuensinya adalah penyiksaan,” tutur Jalilova.

Jalilova juga menambahkan bahwa ia dipaksa melepas hijab, tidak boleh menyentuh air untuk berwudhu, dipaksa menghapal mars komunis untuk kemudian diujiankan, hingga tak jarang ia mendapatkan pukulan dari penjaga kamp. Selama berada di kamp yang disebut oleh pejabat Cina sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan, Jalilova juga harus kehilang bobot tubuhnya hingga 21 kilogram.

“Saya berhasil keluar dari kamp karena adanya upaya lobi yang dilakukan oleh keluarga saya dan pemerintah Kazakhstan,” ungkap Jalilova yang juga bercerita bahwa anaknya kerap mengiriminya surat selama berada didalam kamp.

Sambil menunjukkan sebuah dokumen, perempuan yang selama 20 tahun terakhir terbiasa melakukan aktivitas bisnis di perbatasan Cina-Kazakhtan ini juga menerangkan bahwa saat ia keluar dari kamp, pemerintah Cina mengeluarkan pernyataan dalam secarik kertas dengan mencantumkan keterangan bahwa ia adalah seorang teroris.

Etnis Uighur hidup di Asia Tengah, terutama di propinsi Cina, Xinjiang. Namun, sejarah mereka menyebut daerah itu dengan Uighuristan atau Turkistan Timur. Bangsa Uighur merupakan keturunan klan Turki. Keturunan-keturunan klan Turki di Asia Tengah memiliki asal, bahasa, tradisi dan kebudayaan dan agama yang sama. Orang Uighur berbeda ras dengan Cina-Han. Mereka lebih mirip orang Eropa Kaukasus, sedang Han mirip orang Asia. Tahun 1949, sebesar 96 % penduduk Xinjiang adalah klan Turki. Namun, sensus Cina terakhir menyebutkan bahwa saat ini hanya ada 7,2 juta etnis Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Xinjiang merupakan provinsi terbesar di Cina.

Saat ini data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 1 juta etnis Uighur, yang merupakan minortas Muslim, telah ditahan dalam kamp konsentrasi tidak resmi dengan persetujuan sepihak di Xinjiang. Pejabat Cina menyatakan bahwa kamp tersebut merupakan pusat pendidikan keterampilan kejuruan bagi para ekstremis.(Yn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here