KBRI Ankara dan PPI Turki Gelar Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI

0
67

Agenda refleksi ini turut dihadiri oleh mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla sebagai keynote speaker

BERITATURKI.COM, Ankara| Dalam rangka memeriahkan 17 Agustus-an, KBRI Ankara didukung oleh KJRI Istanbul, DWP KBRI Ankara, PPI Turki, dan GIA Ankara pada Jum’at (14/08) kemarin telah menyelenggarakan webinar edisi HUT RI ke 75 bertema “Refleksi 75 Tahun Indonesia Merdeka” bersama narasumber dari berbagai kalangan dan ahli. Adalah Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno (Rohaniwan dan Filsuf), Prof. Dr. Azyumardi Azra (Sejarawan), Yudi Latif, Ph.D (Cendekiawan), dan Saur Marlina Manurung (Aktivis pendidikan daerah terpencil) dan turut dihadiri juga sebagai keynote speaker oleh Wakil Presiden Indonesia dua periode Dr. (H.C) H. M. Jusuf Kalla.

Agenda yang yang berlangsung setelah sholat Jumat waktu Turki, yaitu pada pukul 15.00-17.00 Waktu Turki atau pada pukul 19.00-21.00 WIB ini berlangsung secara sangat menarik dan penuh gizi. Betapa tidak, kegiatan yang langsung di buka oleh Dubes Turki, Lalu Muhammad Iqbal ini diikuti oleh 100 an peserta melalui aplikasi Zoom, dan selebihnya juga di tayangkan live melalui YouTube KBRI Ankara.

Yusuf Kalla yang juga berperan sebagai mediator perdamaian di banyak daerah konflik baik di dalam negeri maupun di luar negeri ini menekankan bahwa, inti dari kemerdekaan adalah mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh anak bangsa. Begitu juga terkait dengan banyaknya konflik yang ada di seluruh pelosok Indonesia, faktor ketidakadilan lebih mencuat dibandingkan faktor ideologis, ujar Wapres Indonesia pada masa SBY dan Jokowi ini.

Oleh karena itu sangat penting pembangunan nasional harus menyentuh seluruh aspek dan seluruh sudut daerah-daerah di seluruh tumpah darah Indonesia, Jusuf Kalla mengakhiri. Setelah sambutan kunci, Jusuf Kalla juga disapa oleh keluarga angkat beliau salah satu warga Turki. Dan mengundang pak JK untuk datang ke Turki.

Gözde düzdar, saudara angkat Jusuf Kalla di Turki yang diberikan kesempatan oleh Dubes RI di Ankara untuk menyapa Pak JK disela-sela kegiatan diskusi.

Selanjutnya agenda diskusi di serahkan kepada salah satu staf KBRI, saudara Dion. Mas Dion yang memoderatori acara mempersilahkan kepada pemateri yang telah diundang, yang dimulai oleh Romo Franz, selanjutnya Prof Azyumardi Azra, Dr. Yudi Latif, dan Aktivis Pendidikan Anak Rimba, saudari Saut Marlina Manurung yang telah berbakti selama puluhan tahun di dunia pendidikan untuk daerah terpencil di pelosok Nusantara.

Masing-masing pemateri menyampaikan refleksi yang menarik minat para peserta, bahkan waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk menjawab semua pertanyaan yang telah di sampaikan oleh para peserta. pada beberapa insight yang menarik dari sampaikan oleh pemateri salah satunya adalah dari dokter Yudi Latif P.hd, dimana Dr. Yudi yang juga mantan kepala BPIP ini menyampaikan bahwa Pancasila yang terdiri dari 5 sila ini memang diawali oleh sila Ketuhanan, akan tetapi yang paling berat untuk direalisasikan adalah sila terakhir yaitu: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tuturnya.

Yudi Latif, Ph.D yang didaulat sebagai salah satu pembicara di agenda Webinar KBRI feat PPI Tukri.

Pemateri lain yang tak kalah penting adalah Saut Marlina Manurung, Marlina yang telah malang melintang mendidik anak-anak bangsa di kawasan terpencil di Papua, NTT, dan lain-lain, mengatakan bahwa tugas bangsa tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah semata, setiap anak bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia juga menekankan bahwa pemerintah tidak bisa menyamaratakan standar pendidikan di setiap wilayah yang begitu besar ini. Dia mengatakan, bahwa setiap wilayah di provinsi Indonesia memiliki kekhasan tersendiri yang juga harus menggunakan pendekatan yang berbeda-beda untuk penerapannya.

Aktivis pendidikan terpencil di İndonesia, Saut Marlina Manurung, yang juga sebagai pembicara mengenai situasi pendidikan Indonesia kontemporer

Sedangkan Prof Azyumardi Azra, dan Romo Franz Magnis Suseno berbicara lebih kepada konteks filsafat dan aplikasi daripada ideologi Pancasila itu sendiri dimana keberagaman merupakan ruh dari Pancasila itu sendiri. Mereka juga menolak bahwa Pancasila harus diterjemahkan secara sempit baik oleh pemerintah maupun oleh kelompok-kelompok keagamaan yang tidak menoleransi kehadiran kelompok lain di Indonesia.@hazal

Azyumardi Azra menjelaskan tentang falsafah dasar negara Indonesia dan korelasinya dengan cita-cita dasar pendiri Bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here