Jumlah Siswa Baru Tunjukkan Peningkatan Jumlah Komunitas Yunani di Turki

0
35
Dok. Daily Sabah

Turki. Jumlah siswa yang terdaftar di sekolah khusus Yunani di Gökçeada menunjukkan kenaikan. Dulu pulau di lepas pantai barat Turki ini merangkul warganya yang multietnisnya.

Dalam dekade terakhir, terjadi peningkatan jumlah keluarga Yunani yang tiba dan menetap kembali di Gökçeada, dimana mana nenek moyang mereka melakukan perjalanan yang sama pada beberapa dekade yang lalu.

Sekolah Swasta Yunani Gókçeada atau “Sekolah Dasar Aya Todori” sebagaimana nama asli sekolah tersebut, terletak di desa Zeytinli yang dulunya merupakan kampung halaman bagi komunitas warga Yunani yang cukup besar.

Lebih dari 3.000 orang tinggal di Gökçeada sebelum akhirnya banyak dari mereka yang pergi secara massal pada tahun 1960-an akibat ketegangan yang terjdi antara Turki dan Yunani.

Sekolah Swasta Yunani Gókçeada dibuka pada tahun 1951 dan ditutup pada tahun 1964. Sekolah itu dibiarkan kosong selama bertahun-tahun sebelum akhirnya diperbaiki oleh komunitas Yunani dan mulai menerima siswa lagi pada tahun 2013. Hanya dua siswa yang terdaftar pada tahun itu. Pada tahun ajaran baru yang dimulai beberapa hari lalu, sebanyak 47 siswa menghadiri sekolah dengan bangunan satu lantai tersebut. Mereka merupakan anak-anak dari keluarga Yunani yang telah kembali dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat dalam tiga tahun terakhir sebanyak 20 keluarga Yunani menetap di Gökçeada.

Laki Vingas, seorang tokoh terkemuka di komunitas Yunani Turki dan kepala Asosiasi Pendidikan serta Kebudayaan İmroz yang mengelola sekolah itu, mengatakan bahwa mereka sepenuhnya memperbaiki sekolah dan kekurangan infrastrukturnya dalam lima tahun terakhir.

“Kami memiliki 38 siswa tahun lalu di tingkat pra-sekolah, sekolah dasar, menengah dan tinggi. Kami bangga dan bahagia karena tahun ini kami memiliki lebih banyak siswa,” katanya.

Hüseyin Çınar, kepala otoritas pendidikan yang dikelola negara di Gökçeada, mengatakan bahwa mereka mengharapkan lebih banyak pelajar yang mendaftar di tahun depan, setidaknya 60 pelajar dan lebih banyak lagi keluarga menetap di pulau itu.

Pada 1970-an Gökçeada dikenal juga dengan sebutan “İmroz”. Pulau terbesar di Turki ini dulunya merupakan pulau yang dihuni oleh orang Yunani. Satu dekade setelah perubahan nama itu, Republik Turki menerapkan serangkaian kebijakan yang ditujukan kepada kaum minoritas di negara tersebut. Properti mereka disita melalui amandemen hukum yang membatasi kepemilikan properti dan sentimen anti-minoritas, dan warga Yunani dipaksa untuk meninggalkan negara itu.

Gökçeada sekarang menampung populasi campuran yang terdiri atas warga asli Turki dan warga keturunan Yunani-Turki dengan orang-orang Turki yang mendominasi populasi.

Komunitas Yunani yang termasuk kedalam penduduk Turki sejak zaman pra-Ottoman telah menghadapi pasang surut di masa-masa terakhir Kekaisaran Ottoman dan beberapa dekade setelah berdirinya Republik Turki. Ketika hubungan antara Yunani dan Turki memburuk, terjadi serangkaian kerusuhan yang menargetkan kaum minoritas, meningkatnya pidato kebencian, dan banyaknya anggota masyarakat yang pergi, khususnya ke Yunani. Beberapa kehilangan kewarganegaraan selama bertahun-tahun karena mereka tidak kembali untuk melaksanakan wajib militer.

Pajak kekayaan kontroversial yang diberlakukan pada tahun 1942, menargetkan non-Muslim yang kaya, serangan besar-besaran pada tahun 1955, dan deportasi warga Turki non-Muslim pada tahun 1964 menambah “rasa trauma akan negara” di kalangan minoritas non-Muslim.

Akibat tersebut dirasakan juga oleh orang-orang Yunani di Gökçeada yang harus dideportasi karena hubungan Turki dan Yunani yang tegang pada saat itu akibat konflik atas pulau Siprus yang dihuni oleh orang-orang Turki-Yunani.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here