Jubir Presiden Turki, Ibrahim Kalın : “Aya Sofia Terbuka Untuk Semua Kalangan”

0
56

“Mulai tanggal 24 Aya Sofia akan dibuka untuk pengunjung lagi sebagaimana ia juga dibuka sebagai tempat Shalat bagi Muslim.” Kalın menekankan.

BERITATURKI.COM, ANKARA| Juru Bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin menjawab pertanyaan wartawan tentang persiapan peraturan di media sosial dan diskusi tentang pembukaan Aya sofia untuk ibadah. Juru Bicara Kepresidenan menyatakan bahwa membuka Aya Sofia untuk beribadah (Masjid) tidak akan mengurangi apa pun dari identitas warisan dunianya.

Pertanyaan wartawan yang disampaikan dalam sebuah jumpa pers yang dilakukan oleh Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Juru Bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalın melakukan tanya jawab dengan wartawan beberapa waktu lalu sebagai berikut, setidaknya ada 2 pertanyaan mengenai Perubahan Status Aya Sofia, selebihnya adalah mengenai isu pembatasan media, dan juga kebijakan di Libya, Suriah dan Isu Ke-palestina-an.

Pak, pertanyaan terakhir kami adalah tentang Hagia Sophia. Terkait dengan perubahan status Aya Sofia, dimana ada beberapa respon yang datang dari Amerika Serikat, Yunani dan UE secara umum. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini? Apa yang akan kita lihat dalam beberapa hari mendatang tentang Aya Sofia?

Menjawab pertanyaan ini Jubir Presiden Republik Turki ini mengingkatkan kepada para wartawan bahwa sebelumnya Presiden Erdoğan telah membuat pernyataan besar tentang masalah ini, ‘Mungkin hari ini saya ingin menunjukkan kepada warga kita yang mungkin tidak tahu bahwa hari ini ada lebih dari 400 gereja dan sinagog aktif beroperasi di Turki.’ kata kalın.

Republik Turki adalah sebuah Negara dan bangsa yang tidak pernah menghadapi masyarakat minoritas kami secara represif, kami tidak pernah menelan dan memberikan tekanan kepada non-muslim tanpa perlawanan, kami sadar bahwa memang kami memiliki komunitas Muslim yang bersemangat yang dan ingin menampakkan superioritas kepada bangsa lain, akan tetapi secara Pemerintahan kami selalu mencoba untuk bersikap adil, anda bisa melihat tidak ada terjadi xenophobia di Turki sebagaimana Islamofobia tumbuh subur di Barat, kalau saja hal itu ada, maka kami tidak akan memiliki komunitas Kristen dan Yahudi di Turki hari ini. Anda bisa menyaksikan ada begitu banyak gereja dan sinagog beroperasi di Turki hari ini, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena negara dan masyarakat kami sangat terbuka dan masyarakat kami menerimanya dengan damai. Yahudi, Kristen, Alawi, dan juga Armenia adalah salah satu dari bagian penting bangsa kami. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadi bagian dari masyarakat ini selama ratusan tahun. Kami tinggal bersama mereka. Kami akan terus hidup bersama mereka baik di Istanbul atau Mardin (merujuk kepada kota dengan komunitas non-muslim terbesar di Turki red.).

Kalın menegaskan bahwa “Kami tidak membutuhkan respons atau intervensi orang lain. Saya berbicara dengan warga Yahudi sebagai warga negara yang setara dengan warga Kristen Republik Turki, saya membahas masalah kami, jika perlu, kami akan melakukan yang terbaik untuk bertemu dengan mereka. Kami tidak perlu penengah dari orang lain di luar warga kami. Presiden kita adalah seorang pemimpin yang telah menunjukkan kepemimpinan visioner terbesar dalam hal ini dalam beberapa tahun terakhir. Anda bisa menanyakan langsung hal ini kepada perwakilan komunitas Kristen dan Yahudi, buka kepada saya, mereka akan memberi tahu Anda kebenarannya. 

Anda bisa tanyakan bagaimana peran Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan keagamaan komunitas-komunitas ini selama kami berkuasa termasuk dalam pembukaan kuil/gereja, perlindungan/perawatan situs-situs Suci, juga memebebaskan majelis keagamaan apapun dengan jaminan keamanan dan ketertiban sebagai titik penting jaminan kewarganegaraan kami, ujarnya, termasuk misalnya memberikan kemudahan bagi warga Turki pada pusat pertemuan Saint Sinotin dan kebutuhan klerus lainnya, demikian juga dengan adanya situs-situs masa lalu yang mungkin disita oleh Pemerintah, semuanya telah kami kembalikan kepada tangan yang berhak semua hal ini adalah pelajaran penting dalam segi langkah-langkah yang telah kami ambil untuk berkontribusi pada pluralisme agama, perdamaian dan stabilitas telah dalam 10-15 tahun terakhir adalah gambaran yang sangat membanggakan.  Dan ketika Anda melihatnya ada yang tidak sesuai di lapangan, tentu kita tidak dapat dengan mudah mengatakan bahwa komunitas non-Muslim puas dengan kebijakan dan praktik negara, tetapi mereka juga menyukai beberapa intervensi seperti itu dari luar.

Pertanyaan kedua yang ditanyakan oleh wartawan Milliyet gazetesi.com: Nah, misalnya, ketika Anda melihat adanya pandangan dari Eropa sekarang ini, dimana mereka mencoba membangun persepsi bahwa gereja diubah menjadi masjid lagi, pemerintah Turki tidak memiliki toleransi agama terhadap agama-agama lain, misalnya, selama pemerintah Anda, kami tahu bahwa Anda bekerja pada pembukaan gereja Akdamar, renovasi ulang Biara Sumela di Turki, apakah hal ini mampu menangani kritik yang datang pada saat ini?

Ibrahim Kalın sekali lagi memberi Jawabannya bahwa masalah mengubah Hagia Sophia menjadi masjid adalah masalah yang telah menjadi agenda kami selama bertahun-tahun, dengan tuntutan dan nilai sosial. Ada orang yang mengkritik ini sebagai “Jika Aya Sofia diubah menjadi masjid, identitas warisan dunia Aya Sophia menghilang”, katanya. Beberapa negara yang Anda sebutkan telah membuat kritik atau pernyataan ke arah ini. Tapi itu sama sekali tidak seperti itu bagi kita. Semua masjid pata Sultan kami, seperti Masjid Sultanahmet, Masjid Fatih, Süleymaniye, dan masjid lainnya, terbuka untuk beribadah dan dikunjungi. Wisatawan juga pergi, mereka dapat berkunjung ke sini pada waktu-waktu tertentu dalam kerangka aturan tertentu. Tidak perlu menjadi museum bagi orang asing atau wisatawan lokal untuk mengunjungi tempat-tempat seperti itu. 

da juga contoh Notre Dame di Paris. Ini adalah gereja dan museum. Waktu ritual, orang pergi ke sana, mereka melakukan ritual, orang Kristen. Dalam waktu normal, wisatawan pergi dan berkunjung. 

Ada contoh yang baik bagi anda sebagai komparasi, kata Kalın kepada para wartawan. Gereja Sacre Coeur di Paris. Tidak ada halangan untuk pariwisata ini meskipun digunakan untuk tempat ibadah. Kami pastikan pembukaan Aya Sofia untuk beribadah tidak menghalangi turis lokal atau asing untuk mengunjungi tempat itu. Karena itu, tidak mungkin kehilangan apapun dari warisan dunia. Sejarah tempat ini dimulai sebagai gereja, berlanjut sebagai masjid, dan kemudian berlanjut sebagai museum. Ketiga identitas ini mungkin merupakan status museum Hagia Sophia yang paling jauh dalam 3 lintas peradaban, dari sejak Bizantium, Ottoman, dan Republik.

Dengan kata lain, itu didirikan sebagai kuil, kemudian diubah menjadi masjid dan berlanjut dengan cara ini selama lebih dari 500 tahun. Pada tahun-tahun pertama republik, Anda tahu bahwa Aya Sofia masih digunakan sebagai masjid, yaitu, dari awal pembentukan Republik sejak tahun 1923 sampai dengan kelusrnya keputusan Ataturk pada tahun 1934 jika Anda jeli melihatnya selama Republik sendiri kita sempat menggunakan Aya Sofia sebagai Masjid selama 11 tahun hingga 1934. Karena itu, “Pembukaan Aya Sofia sebagai tempat ibadah ini sekali lagi saya tekankan tidak akan mengurangi identitas sejarah dunia warisan Aya Sofia sedikitpun, bahkan bisa dipastikan akan lebih banyak orang bisa pergi ke sana, berkunjung dikarenakan kami tidak mengambil tiket sama sekali, dibandingkan pada sebelumnya ketika berfungsi sebagai Musium. 

Sebagaimana nenek moyang kita menyimpan ikon-ikon Kristen di sana, kami akan tetap mempertahankannya dan akan terus dilindungi mulai sekarang. Mulai tanggal 24 Aya Sofia akan dibuka untuk pengunjung lagi sebagaimana ia juga dibuka sebagai tempat Shalat bagi Muslim. Studi tentang ini telah lama kami lakukan. Ini bukan situasi yang membuat kita saling menyalahkan satu sama lain dan memperpanjang debat kusir yang tiada akhir. Demikian jawaban dari Kalın./Milliyet.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here