Industri Pertahanan Turki Kembangkan Sistem Peluncuran Drone Bersenjata untuk Kapal

0
124
Foto Anews

BERITATURKI.COM, Turki – Industri pertahanan Turki kini sedang mengembangkan sistem peluncuran elektromagnetik untuk kendaraan udara tak berawak (UAV) yang akan memungkinkan kapal meluncurkan drone tanpa landasan, sehingga mampu meningkatkan pencegahan platform angkatan laut.

Angkatan Laut Turki mengoperasikan serangkaian platform udara lokal, termasuk ANKA dan Bayraktar Tactical Block 2 (TB2), namun pesawat yang ada hanya dapat lepas landas dengan menggunakan landasan pacu konvensional. AS dan Cina telah lebih dulu menggunakan sistem peluncuran elektromagnetik di atas beberapa kapal induk mereka. Sistem ini mudah digunakan, hemat biaya, dan menawarkan kapasitas peluncuran berdaya tinggi.

Industri pertahanan Turki saat ini telah fokus pada proyek senjata rel elektromagnetik. Proyek ini telah memungkinkan pengembangan sistem peluncuran elektromagnetik karena fitur-fitur umum, termasuk catu daya, tegangan tinggi dan sistem kontrol.

Secara potensial, sistem peluncuran elektromagnetik dapat memberikan kontribusi besar bagi efektivitas Angkatan Laut Turki dan kemampuannya untuk mengoperasikan pesawat tanpa awak. Misalnya, Bayraktar TB2 akan efektif pada jarak 100-150 kilometer ketika diluncurkan dari kapal angkatan laut. Ini secara signifikan akan meningkatkan keamanan dan kemampuan pencegahan angkatan laut di Laut Aegea dan Laut Tengah. Dengan demikian, proses pengembangan UAV baru tidak akan memakan waktu bertahun-tahun, dan Turki akan memperoleh sistem yang dapat diintegrasikan ke dalam platform nasional yang ada.

Yeteknoloji AŞ, yang memperkenalkan senjata rel elektromagnetik pertama Turki, juga memproduksi komponen untuk sistem peluncuran elektromagnetik. Menanggapi kebutuhan yang mungkin muncul dengan penggunaan UAV angkatan laut, perusahaan memutuskan untuk mengembangkan ketapel elektromagnetik. Yeteknoloji AŞ telah meluncurkan proyek desain konseptual dalam hal ini dan bertujuan untuk meluncurkan UAV 750 kilogram dengan sistem peluncuran elektromagnetik dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

General Manager Yeteknoloji AŞ Fazıl Hızal mengatakan bahwa sistem peluncuran elektromagnetik telah dengan cepat diadaptasi untuk aplikasi yang berbeda, termasuk senjata, seperti railguns, dan sistem peluncuran, kata Hızal, menambahkan bahwa teknologi tersebut harus menerima lebih banyak perhatian karena merupakan kebutuhan negara Turki.

Memperhatikan bahwa AS dan Cina sedang bekerja dengan teknologi elektromagnetik, Hızal mengatakan AS telah menggunakan teknologi yang dapat meluncurkan pesawat terbang serta UAV menggunakan sistem peluncuran elektromagnetik.

“Cina juga diharapkan untuk segera memulai pemanfaatan teknologi ini. Kami, sebagai negara, juga harus bergabung dengan perlombaan update teknologi ini. Kami memiliki teknologi yang dapat menjadi bagian dari kompetisi ini. Kami dapat membuat UAV terbaik di dunia dan menghasilkan semua komponen dari sistem peluncuran elektromagnetik di Turki,”katanya.

 “Maka dari itu kami dapat mengembangkan sistem secara mandiri dan meluncurkan UAV dari atas kapal. Teknologi ini akan memberikan kemampuan yang sangat penting bagi angkatan bersenjata Turki,” tambah Hızal.

Drone bersenjata Bayraktar TB2, diproduksi oleh Baykar dan beroperasi sejak tahun 2015 serta telah digunakan untuk mendukung perang Turki melawan teror di perbatasan selatan dan selama operasi lintas-perbatasan di Suriah. Drone yang dikembangkan di dalam negeri adalah UAV bersenjata pertama dan satu-satunya dalam inventaris Angkatan Bersenjata Turki (TSK).

Dengan elektronik canggih, perangkat lunak, aerodinamis, desain, sistem kapal selam, serta otomatisasi dan kinerja penerbangan, Bayraktar TB2 adalah salah satu sistem UAV yang paling canggih di kelasnya. Dengan melakukan penerbangan pengintaian, pengawasan dan intelijen aktif, Bayraktar TB2 memiliki kemampuan untuk mengirimkan gambar ke pusat operasi tanpa penundaan dan melibatkan target. Hal membanggakan lainnya ialah kemampuan jangkauan 8.239 meter (27.030 kaki) dan daya tahan penerbangan selama 24 jam yang dapat membawa muatan seberat 150 kilogram (330 pon), baik dioperasikan siang ataupun malam.

Di sisi lain, ANKA yang merupakan kelas menengah Altitude Long Endurance (MALE) lanjutan, mampu melakukan penerbangan siang dan malam, pengintaian di semua kondisi cuaca, misi deteksi / identifikasi dan misi intelijen yang menampilkan kemampuan penerbangan otonom, termasuk lepas landas dan pendaratan otomatis.(Yn)

Sumber: Anews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here