Indonesia dan Turki akan Memperkuat Kerja Sama di Bidang Pertahanan

BERITATURKI.COM, Ankara – Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyatakan bahwa “masih ada banyak lagi potensi kerjasama” dengan Turki di bidang industri pertahanan yang dapat mereka lakukan bersama. “Dengan membahas strategi dan kebijakan kerja sama pertahanan antara kedua negara, Kami memutuskan untuk membuat format terbaru dalam mewujudkan hal ini.” ungkapnya.

Marsudi juga menjelaskan tentang hubungan bilateral dengan Turki-Indonesia dan isu-isu regional kepada koresponden AA di Ankara, di mana ia datang ke Turki untuk melaksanakan kunjungan kenegaraan.

Mengingat kunjungan ke Turki ini merupakan bagian dari perjalanannya ke Eropa, Marsudi mengatakan ada dua fase kunjungannya ke Turki.

Marsudi menyatakan bahwa mereka membahas hubungan bilateral dan situasi geopolitik saat ini dalam pertemuan mereka dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu.

Mencatat bahwa ia sudah bertemu dengan Çavuşoğlu di Turki beberapa bulan yang lalu dan menteri pertahanan dan anggota parlemen Indonesia sering berkunjung ke Turki, Marsudi menekankan bahwa Turki adalah “salah satu tujuan terpenting” bagi pejabat Indonesia.

Marsudi menyatakan, selain saling melaksanakan kunjungan kenegaraan, mereka juga menjalin komunikasi yang sangat intens dengan Menteri Çavuşoğlu melalui telepon, “Sekarang kami sedang bersiap-siap menyambut kunjungan Presiden Erdoğan ke Indonesia.” imbuhnya.

Dengan merujuk pada hubungan Turki-Indonesia, Marsudi mengatakan, “Hubungan Turki dan Indonesia sangat kuat. Saya yakin akan terus semakin kuat di masa depan. Tahun lalu, di tengah pandemi pada tahun 2021, kami mampu meningkatkan dan memperkuat perdagangan bilateral lebih dari 51 persen. Disini terlihat ada peningkatan.”

“Saat ini kami sedang merundingkan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA). Setelah kami memiliki CEPA, kami yakin angka perdagangan dan investasi bilateral kami akan semakin kuat,” kata Marsudi.

Di sisi lain, menekankan bahwa mereka juga membahas dialog 2+2 dengan menlu Çavuşoğlu, Marsudi mengatakan, “2+2 berarti Menteri Luar Negeri dan Pertahanan kedua negara akan bertemu secara rutin di masa depan. Apalagi selama kunjungan Presiden Erdoğan ke Indonesia, pasti akan ada pertemuan antara delegasi Indonesia dan Turki. Kami berencana akan meluncurkan Dewan Strategis Tingkat Tinggi. Hubungan bilateral kami sangat kaya dan intens.”

Dengan menunjuk perdagangan di bidang kerja sama dan potensi kedua negara, Marsudi menegaskan bahwa mereka memiliki target perdagangan 10 miliar dolar dan mereka yakin akan mencapai target itu suatu hari nanti dengan IT-CEPA, yang mereka capai. Dan saat ini masih pada tahap negosiasi.

Sambil mengatakan bahwa investasi di kedua belah pihak telah meningkat perdagangan, Marsudi mengatakan, “Terakhir kali saya datang ke sini, saya membawa salah satu perusahaan milik negara Indonesia untuk infrastruktur. Mereka mengadakan pertemuan yang sangat baik dengan mitranya di Turki. Kedua negara (Turki dan Indonesia) akan melaksanakan kerja sama di negara ketiga ke depannya. Kerja sama tripartit dan infrastruktur ini sangat menjanjikan.”

Sambil menegaskan bahwa Indonesia dan Turki memiliki banyak potensi di masa depan, terutama di bidang-bidang seperti kerja sama investasi dan pertahanan, Marsudi mengatakan:

“Kerja sama pertahanan akan menjadi salah satu prioritas hubungan bilateral. Jika kita berbicara tentang kerja sama pertahanan, itu tidak hanya berarti tentang pembelian alutsista. Seharusnya lebih dari sekedar pembelian alutsista. Presiden Indonesia (Joko) Widodo dan Presiden ( Recep Tayyip) Erdogan juga sama. Jadi kalau kita buat perjanjian kerjasama pertahanan harus lebih strategis. Misalnya joint development, joint industry, joint work dan capacity building. Masih banyak lagi kerjasama yang bisa kita lakukan bersama dalam sektor pertahanan. Kami siap untuk itu. Oleh karena itu, Kami memutuskan untuk membuat forum di mana Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara dapat berkumpul dan membahas strategi dan kebijakan pertahanan kerja sama antara kedua negara. Indonesia tidak memiliki banyak pertemuan 2+2. Turki akan menjadi yang berikutnya.”

Mengenai peran mediator Turki dalam perang Ukraina-Rusia, Marsudi mengatakan, “Saya pikir peran Turki sudah bagus. Saya pikir kita memiliki peran kita masing-masing, misalnya Indonesia, harus memainkan peran yang berbeda. Tapi arah peran masing-masing negara adalah untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk negosiasi agar berhasil. Bagi Indonesia, masalah Ukraina harus diselesaikan. Ini harus diselesaikan di meja perundingan, bukan dalam seruan perang.”

Sumber : Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here