İmam Ortodoks Yunani: “Aya Sofia dilindungi dengan baik oleh Orang-orang Turki”

0
127

Evangelos Papanikolaou, imam di Gereja Analipseos di Rafina, Athena, mengatakan bahwa orang-orang Turki telah melindungi banyak gereja di Yunani sejak masa Turki Utsmani.

BERİTATURKİ.COM, Athena| Jika orang-orang Turki tidak melindungi Aya Sofia, ia telah hancur sejak lama, begitulah ujar kata seorang imam Ortodoks Yunani.

Evangelos Papanikolaou, seorang imam di Gereja Ortodoks Analipseos di Kota Rafina dekat Athena, menyampaikan sebuah pidato yang menjelaskan bahwa orang-orang Turki melindungi banyak gereja di Yunani dan tidak menutupnya (merujuk masa dominasi Ottoman di tanah Yunani)

“Siapa yang akan melindungi bangunan besar seperti Aya Sofia? Orang-orang Turki melakukannya,”katanya, seraya menambahkan bahwa orang-orang Turki tidak pernah menutup gereja di Kreta tetapi banyak biara dan gereja ditutup di Yunani dulunya atas perintah Othonas I,” katanya, merujuk pada seorang pangeran Bavarian Katolik yang dinyatakan sebagai raja Yunani pada tahun 1832.

Othonas menolak untuk mengadopsi Ortodoksi dan tetap sebagai bid’ah di mata penduduk Yunani.

Papanikolaou mengatakan orang-orang dapat mempraktikkan agama mereka dengan bebas di bawah pemerintahan Turki (Utsmani) di Yunani beberapa abad lalu.

İmam Ortodoks Yunani, Evangelos Papanikolaou menyampaikan pidato pembelaannya terhadap tindakan bangsa Turki.

“Itulah mengapa orang [Bizantium] mengatakan, ‘Saya lebih suka melihat turban Turki daripada kopiah Latin’. Saya ingin melihat tidak satu pun dari mereka tetapi jika saya harus membuat keputusan, saya lebih suka Turki,” katanya lagi.

Ungkapan terkenal “Saya lebih suka melihat sorban Turki di tengah-tengah Kota (yaitu, Konstantinopel) daripada mitra Latin” mencerminkan penderitaan umat Kristen Ortodoks di tangan umat Katolik setelah Skisma Besar (sebuah dekrit yang memisahkan 2 mazhab besar kristen) Kekristenan pada 16 Juli 1054.

Papanikolaou melanjutkan dengan mengatakan bahwa banyak wisatawan mengunjungi Aya Sofia dengan pakaian yang tidak pantas ketika ia dijadikan museum, tetapi mulai sekarang mereka akan melepas sepatu mereka dan mengenakan gaun panjang dan jilbab sesuai dengan aturan pakaian di tempat ibadah.

“Bukankah itu tanda hormat ?,” dia bertanya kembali secara retoris

“Mungkin kita perlu menganggap ini bukan sebagai kutukan tetapi koreksi,” katanya merujuk pada pemulihan status aya sofya oleh Turki sebagai Masjid.

Pada 24 Juli, shalat Jumat di Masjid Agung Aya Sofia menandai upacara ibadah pertama di sana sejak 86 tahun berlalu.

Sekitar 350.000 Muslim ikut serta dalam sholat Jumat di dalam dan di luar masjid bersejarah di Istanbul, kota metropolis terbesar di Turki.

Pada 10 Juli, pengadilan Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang mengubah Aya Sofia menjadi museum, membuka jalan untuk penggunaannya sebagai masjid kembali.

Pada tahun 1985, selama menjadi museum, Aya Sofia ditambahkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO PBB.

Selain menjadi masjid, Aya Sofia juga merupakan salah satu tujuan wisata utama Turki dan akan tetap terbuka untuk pengunjung domestik dan asing.AA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here