Ibrahim Kalın : Pasca COVID-19, Kita Memasuki Tata Dunia Baru

0
766
Turkish President Spokersperson; Prof. Dr. Ibrahim Kalin

BERITATURKI.COM-ISTANBUL. Head Quarter (HQ) Islamic Conference Youth Forum (ICYF), atau dikenal juga dengan Forum Kerjasama Pemuda Muslim (OIC Youth) kemarin melaksanakan diskusi spesial dengan Juru Bicara Presiden Turki Prof. Dr. Ibrahim Kalın pada tanggal 07 april dua hari lalu yang dimoderatori oleh Iddy Ahmed ICYF dari Kamerun. Diskusi online yang mengangkat  thema tentang “ What Kind of A World; The Post-Corona Possibilities?”. Diskusi menarik ini dimulai dengan beberapa forcaseting mengenai “decline”nya beberapa negara maju terutama dalam bidang kesehatan baik kesiapan penanggualan wabah, maupun penanganan pencegahan serangan virus tersebut.

Radical Change.

Mr. Kalin menyampaikan ceramahnya selama 1 jam lebih, dilanjutkan dengan diskusi interaktif tersebut membukanya dengan menyampaikan rasa duka yang mendalam terhadap lebih dari 80.000 orang yang telah meninggal dunia karena disebabkan oleh visus korona di seluruh dunia. Mr Kalin meramal akan ada perubahan yang radikal dalam sistem global, dimana tidak ada negara yang aman dari serangan virus ini, semua menuju proses paralisasi sistem, baik secara politik, ekonomi, dan sosial. Kita bahkan bisa melihat hari ini rasisme juga berpindah tempat dimana dulu dilakukan oleh orang berkulit putih terhadap kulit hitam, namun hari ini terjadi sebaliknya. Dimana kebanyakan orang-orang di benua Afrika menolak kedatangan “pengungsi” dari Eropa karena dikhawatirkan akan membawa wabah covid-19 bersama mereka, kemungkinan rasisme juga akan meningkat tajam kedepannya. Asosiasi besar bangsa-bangsa seperti UN, OIC, EU, G-20, NATO, dan berbagai lembaga non pemerintah (NGO) juga menjadi tidak kapabel untuk menangani wabah yang efeknya lebih besar dari flue Spanyol 100 tahun lalu ini. “Wabah ini menjadi pertaruhan besar bagi institusi-institusi besar tersebut untuk mempertahankan legitimasi didepan masyarakat dunia internasional”.  Mr. Ibrahim Kalin juga menambahkan bahwa “tatanan dunia lama dengan menggunakan sistem kapitalisme dan komunisme akan diuji dan dipertanyakan eksistensinya kedepan, hal ini menjadi pertarungan untuk mewujudkan tatanan dunia baru, siapa yang akan bertahan lebih lama” ujarnya. Melihat menurunnya ekonomi global prediksi ini akan menunjukkan batang hidungnya beberapa saat kedepan hal ini dibuktikan dengan tingkat kerugian terburuk  yang dialami oleh dunia secara keseluruhan sampai dengan hari ini adalah sebesar 3-4 Triliun US Dolar, dibandingkan dengan epidemic SARS/MERS yang hanya mencapai kerugian pada angka 40 Milyar US Dolar saja.

Back To Nature

Tahun ini menjadi titik kulminasi terhadap perubahan mendasar dimana hal-hal yang sudah “given” dari dulu harus berubah baik dalam sistem pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial antar penduduk sebuah bangsa dan masyarakat dunia, ujarnya. Hari-hari ini dimana orang berupaya menjauh dari hiruk pikuk keramaian dan mengharuskan diri untuk memisahkan diri (social distancing) dalam berbagai kegiatan.ini telah menunjukkan pergeseran juga dimana kedepan aka nada perubahan kehidupan masyarakat yang akan lebih memilih suasana kehidupan “kampung” daripada “perkotaan” yang relative menjadi lebih riskan untuk terpapar berbagai macam penyakit dan kebisingan. Hal ini disebabkan kekhawatiran orang-orang dengan keamanan diri, keamanan biologis, keamanaan dari segi sumber makanan dan juga cyber-security, ungkapnya. Hari-hari kedepan adalah hari-hari perubahan yang tidak bisa diprediksi. Dimana relevansi negara (nasionalisme) juga akan dipertanyakan; dengan sejauh mana negara hadir untuk menjamin kehidupan mereka dan sejauh mana mereka bisa mempertahankan kehidupan mereka dari berbagai ancaman yang hadir (semisal ancaman wabah penyakit ini). Ini akan membuktikan bahwa pendekatan teori “Butterfly Effect” menjadi lebih tepat dibandingkan “The age of Snowball” dimana kita bisa memprediksikan kemana arah bola salju itu akan bergulir. Hazal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here