[Haul_539th] Muhammad II Sang Penakluk: Sultan Pembangun Imperium Yang Cerdas.

0
299
Mehmet The Conqueror

Pemilik strategi militer dan intelektual yang tidak lazim, penakluk dan pembangun imperium yang mengubah sejarah dunia.
( Ali Murat Alhas & @hazal)

ISTANBUL

Di antara milyaran orang yang telah berjalan di bumi sejak fajar umat manusia, hanya beberapa saja yang patut diingat karena keterampilan dan dampaknya yang luar biasa terhadap sejarah, dan di antaranya adalah Mehmet II (Muhammad Alfatih), kaisar Ottoman yang mendapat kehormatan menaklukkan Istanbul dan dengan demikian mendapatkan gelar “penakluk.”

Mehmet the Conqueror baru berusia 21 tahun ketika dia membawa Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium ke halaman sejarah yang berdebu dan menaikkan bangsa Turki menjadi sebuah kerajaan yang akan memerintah daerah di berbagai benua selama berabad-abad yang akan datang.

Sama seperti tokoh-tokoh sejarah terkemuka lainnya yang masih diingat dan dihormati, sebuah kisah menarik terletak di balik kesuksesan sang penakluk, yang menjadi sultan ketika ia benar-benar hanya seorang anak kecil.

Muak dengan berbagai pergulatan politik dan lelah setelah kematian putra sulungnya, ayahnya Sultan Murad II turun tahta pada tahun 1444 M, dan mendesak Mehmet II untuk menjadi pemimpin baru kerajaan pada usia 12 tahun.

Namun, pemerintahan pertamanya berakhir hanya dua tahun kemudian (14 tahun) ketika tokoh-tokoh politik dan militer yang signifikan mendorong Murad II untuk kembali ke tahta karena ketegangan dan gejolak di wilayah-wilayah yang ditaklukkan, terutama di kawasan Eropa, dan ancaman Tentara Salib sementara masyarakat. skeptis tentang seorang anak yang menjadi sultan.

Meskipun Mehmet II secara sukarela meninggalkan takhta untuk ayahnya, jelas bahwa dia merasa dipermalukan sebagai seorang pemimpin. Dia kemudian kembali ke Manisa, di wilayah Aegean, di mana dia terus mengembangkan kecerdasannya dan menikah. Sang Pangeran muda juga mendapatkan wawasan militer ketika ia bergabung dengan ayahnya dalam Pertempuran Kosovo pada 1448.

Kembali ke Tahta

Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1451 (2 tahun sebelum penaklukan), Mehmet II naik takhta lagi, dengan banyak pelajaran yang dipetik dari pengalaman sebelumnya serta kesalahan dari sejarah Kekaisaran Ottoman yang telah memicu sesuatu penurunan.

Berusaha untuk membuktikan dirinya di mata tokoh-tokoh senior Utsmani dan publik, dan mewujudkan tujuan utamanya untuk membuat sejarah, matanya tertuju pada penaklukan Konstantinopel (pada waktu itu ibukota Ottoman adalah di kota Edirne/perbatasan Yunani), kemudian ibukota Bizantium, dan segera meluncurkan persiapan untuk pertempuran yang akan datang.

Meskipun kota itu telah dikepung berkali-kali sebelumnya, tidak ada yang bisa mengambilnya, dan Mehmet II tahu betul bahwa untuk mencapai yang mustahil diperlukan taktik dan wawasan yang tidak lazim.

Sultan mengumpulkan pasukan besar -sebagian mengatakan mencakup lebih dari 200.000 tentara- tetapi beberapa sejarawan mengatakan jumlah itu kurang dari setengahnya, dan muncul di depan tembok kota yang kuat dengan penuh keyakinan.

Dia mengepung kota melalui laut dan darat, diikuti dengan langkah tak terduga: mengangkut kapal perang melalui daratan di melewati bukit Galata (kawasan taksim hari ini), keliling laut marmara (kawasan zeytinburnu sekarang hingga ke eminonu) sementara koloni Genoa di sisi Eropa Istanbul modern (kawasan Sultan Ayyub Al-Anshary hingga zeytinburnu).

Kampanye militer berlanjut selama lebih dari 50 hari, dipelopori oleh serangan meriam besar-besaran yang menghantam dinding untuk membuka lubang di mana tentara dapat menembus kota.

Pada tanggal 29 Mei, kota itu akhirnya jatuh, membuat Mehmet II layak mendapatkan gelar penakluk.

Penaklukan kota adalah kemenangan paling terkenal dari “Muhammad Sang Penakluk”, tetapi pada tahun-tahun berikutnya ia juga memastikan kontrol Ottoman atas Serbia, Morea, Trebizond (Trabzon modern) di wilayah utara Turki modern, serta Bosnia, Albania, dan beberapa wilayah Anatolia (Turki tengah).

Dalam lebih dari dua lusin kampanye militer selama masa pemerintahannya, kaisar berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah, meningkatkan kontrol Utsmani menjadi lebih dari 2,2 juta kilometer persegi (1,4 juta mil persegi).

Kemenangan terakhirnya sebelum mangkat beliau terjadi pada tahun 1480, ketika ia menang di Otranto, Italia, dan selanjutnya merencanakan langkah-langkah untuk mendekat ke Roma. Tetapi nasib memiliki rencana lain, dan sang penakluk wafat pada 3 Mei 1481.

Sejarawan di Turki masih memperdebatkan apakah ia selanjutnya menetapkan pandangannya pada Roma, yang mungkin, mengingat ia mengambil Otranto, atau sebaliknya akan beralih ke daerah timur.

Sisi Intelektual

Sementara “sang emperor besar” Utsmani yang agung ini dikenang karena penaklukan militer yang mempesona dari pemerintahannya, tak banyak yang mengetahui bahwa ia juga seorang intelektual sejati.

Al-fatih diyakini telah menguasai banyak bahasa, antara lain; Bahasa Persia, Arab, Yunani kuno, dan Italia -yang dipandang oleh banyak orang sebagai tanda yang menunjukkan keinginannya untuk membentuk sebuah kerajaan yang mencakup Barat dan Timur-.

Sejarawan Turki mengatakan perpustakaannya termasuk salah satu perpustakaan yang kaya mencakup buku-buku tentang topik-topik seperti geometri, agama, teknik, astronomi, aritmatika, arkeologi, geografi, dan filsafat.

Dikenal sebagai penyair, sang penakluk juga diakui sebagai seorang seniman; sebagai bukti bahwa beliau tertarik dengan dunia seni adalah, beliau menugaskan pelukis Renaissance Bellini untuk melakukan potretnya.

Sang Penakluk mungkin terinspirasi oleh kehidupan Alexander Agung dalam upayanya membentuk sebuah imperium besar, ketika ia membaca tentang kampanye militer dari tokoh legendaris tersebut.

Buku-buku dan sastra karya Homer seperti Iliad dan Odyssey berada di barisan buku-buku di perpustakaannya, juga peta dunia kuno Ptolemy diyakini merupakan salah satu permata dari koleksinya.

Dalam kehidupannya yang singkat hanya 49 tahun, sang penakluk berhasil meninggalkan bekas yang tak terhapuskan pada sejarah dan warisannya masih hidup sampai sekarang; dia berhasil mengubah kisahnya dari pengkerdilan elit Ustmaniyah menjadi Penakluk yang akan diingat sepanjang masa. Setidaknya peristiwa besar tersebut masih diingat oleh semua ummat Islam di dunia sejak 567 tahun lalu atau genap berusia 570 tahun pada 2023 mendatang. source: aa.com.tr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here