‘Hari Asyura’, Simbol Kelimpahan, Berbagi, Persatuan dan Kebersamaan

0
18

BERITATURKI.COM, Ankara – Hari Asyura merupakan hari kesepuluh bulan Muharram, yang mana pada hari tersebut banyak sekali terjadinya peristiwa penting dalam kehidupan para nabi sejak Nabi Adam. Dan hari tersebut juga merupakan simbol kesuburan, berbagi, persatuan dan kebersamaan. Di Turki sendiri Hari Asyura dikenal dengan nama “Aşure Günü”. Pada hari tersebut biasanya orang Turki membuat manisan yang terdiri dari berbagai biji-bijian dan kacang-kacangan.

Hari Asyura berasal dari kata ‘asyara yang berarti “sepuluh” dalam bahasa Arab, dan bertepatan pada hari kesepuluh Muharram yang merupakan bulan pertama tahun Hijriah. Menurut sumber hadits, peristiwa selamatnya kapal Nabi Nuh dari banjir, peristiwa Nabi Musa melewati Laut Merah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Firaun terjadi pada hari tersebut.

Selain itu, diterimanya taubatnya Nabi Adam, diangkatnya Nabi Idris ke langit, selamatnya Nabi Ibrahim dari api, bertemunya Nabi Yakub dengan putranya Nabi Yusuf, sembuhnya penyakit Nabi Ayyub, keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan, kelahiran Nabi Isa dan diangkatnya Nabi Isa ke langit terjadi pada hari Asyura.

Pada saat yang sama, “Insiden Karbala”, di mana Khalifah kedua Bani Umayyah, Yazid bin Muawiyah membunuh Sayyidina Husain bersama 72 pasukannya pada tanggal 10 Muharram 61 (10 Oktober 680) menurut kalender Hijriah.

Bagi orang Muslim, sangat memberikan kepentingan pada hari tersebut. Sehingga orang-orang muslim dianjurkan untuk berpuasa sunnat pada hari Asyura.

Menurut sebuah riwayat, sejak masa Nabi Nuh, orang-orang yang naik kapal nabi nuh mengikuti seruannya untuk mengonsumsi manisan Asyura. Dan hingga hari ini, tradisi membuat manisan Asyura menjadi tradisi bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama dengan membuat asyura.

Mehmet Kapukaya yang merupakan seorang Ahli Agama Dewan Tinggi Direktorat Keagamaan Turki, mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) bahwa bulan Muharram sangat berarti, berharga dan wajib dihormati. Bahwasanya juga Nabi Muhammad mendefinisikan bulan Muharram sebagai bulan Allah.

Sambil mengingatkan bahwa Nabi Muhammad berpuasa pada tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharram, Kapukaya melanjutkan pernyataannya sebagai berikut:

“Fakta bahwa 10 Muharram yang disebut sebagai Hari Asyura tidak ada hubungannya dengan Nabi Nuh. Ada desas-desus bahwa asyura dimasak di kapal Nabi Nuh. Namun, catatan seperti itu tidak ditemukan dalam sumber-sumber Islam. Ashura yang dimasak pada hari ini tidak ada hubungannya dengan itu. Hal tersebut adalah situasi yang timbul dari adat dan tradisi. Orang-orang kami memasak ashura untuk toleransi, persatuan dan solidaritas, dan berbagi untuk mendapatkan amal dengan perbuatan baik.”

Sambil menekankan perlunya memperhatikan aturan masker, jarak dan kebersihan saat memasak dan membagikan manisan Ashura, Kapukaya mengatakan, “Kita tetap dapat melanjutkan tradisi ini, asalkan kita membagikannya kepada sejumlah kecil orang atau di antara keluarga kita saja selama proses Covid-19. Tidak baik jika Covid-19 menyebar oleh karena pembagian manisan ashura. Maka Kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kita malah menyebabkan orang lain sakit ketika memenuhi kepentingan adat dan tradisi.”

Sumber : Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here