Erdoğan; Turki Pertimbangkan untuk Menarik Duta Besarnya dari UEA.

0
54

“Saya telah memberikan instruksi yang diperlukan kepada menteri luar negeri saya. Kami akan menangguhkan hubungan diplomatik atau memanggil kembali duta besar kami di Uni Emirat Arab karena kami mendukung rakyat Palestina. Kami tidak akan membiarkan Palestina kalah atau dikalahkan,” kata Erdogan.

BERITATURKI.COM, Ankara| Turki akan menangguhkan hubungan diplomatiknya dengan Uni Emirat Arab (UEA), atau menarik duta besarnya, ujar Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan pada Jumat siang, sebagai tanggapan atas kesepakatan UEA baru-baru ini dengan Israel.

Erdogan dalam peringatan Ulang Tahun ke-19 Partai AK tersebut mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan kontroversial UEA dengan Israel bermasalah, karena akan memiliki efek negatif terhadap masa depan Palestina di kawasan. Oleh karenanya Turki berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Palestina.

“Saya telah memberikan instruksi yang diperlukan kepada menteri luar negeri saya. Kami akan menangguhkan hubungan diplomatik atau memanggil kembali duta besar kami di Uni Emirat Arab karena kami mendukung rakyat Palestina. Kami tidak akan membiarkan Palestina kalah atau dikalahkan,” kata Erdogan.

Erdoğan melanjutkan dengan mengatakan bahwa Arab Saudi juga telah mengambil langkah yang salah di kawasan, Ia juga mengkritik Mesir karena bekerja sama dengan Israel dan Yunani untuk melawan Turki.

Sebelumnya pada hari kamis, Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk kesepakatan UEA-Israel karena mengkhianati “perjuangan Palestina”.

Israel dan UEA telah sepakat untuk menormalisasi hubungan, yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis malam, dalam kesepakatan yang mencakup “janji manis” Israel untuk “sementara” menunda rencana pencaplokannya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis mengatakan dia “masih berkomitmen” untuk mencaplok bagian Tepi Barat meskipun ada kesepakatan normalisasi dengan UEA.

UEA akan menjadi negara Arab ketiga yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel setelah Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994.

Pada hari kamis (13/08) otoritas Palestina mengatakan bahwa kesepakatan normalisasi mengkhianati Yerusalem, Masjid Al-Aqsa dan perjuangan rakyat Palestina secara umum.

Kesepakatan Israel-UEA bukan satu-satunya masalah antara Ankara dan Abu Dhabi, karena memang UEA sudah sejak lama telah menunjukkan permusuhan terhadap Turki.

Pada bulan Juli, Menteri Pertahanan Hulusi Akar mengkritik UEA karena melakukan “tindakan jahat” di Libya dan Suriah, saat itu ia bersumpah bahwa Turki akan meminta pertanggungjawaban Abu Dhabi.

Pejabat Turki mencatat bahwa UEA mendukung organisasi teroris yang memusuhi Turki dan telah menjadi alat politik dan militer yang berguna bagi negara Barat.

Emirat adalah bagian dari koalisi pimpinan Saudi yang meluncurkan kampanye udara yang menghancurkan untuk mengembalikan keuntungan teritorial Houthi pada tahun 2015, yang semakin meningkatkan krisis di Yaman. Di Libya, Abu Dhabi mendukung pemberontak Jenderal Khalifa Haftar dan ingin menggulingkan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB.

Abu Dhabi juga mendukung rezim Bashar Assad di Suriah dalam ofensifnya terhadap demokrasi dan hak-hak sipil, dan pejabat Turki menuduh mereka menawarkan dukungan finansial dan logistik kepada kelompok teror PKK untuk melakukan serangan di dalam wilayah Turki.

Krisis di Laut Mediterania Timur

Sementara itu, mengenai eskalasi ketegangan di Mediterania Timur, Erdogan mengatakan fregat Turki TCG Kemal reis telah mencegah pertempuran kecil ketika angkatan laut Yunani mencoba mengganggu kapal seismik Turki, Oruç Reis.

“Mereka sekarang mundur ke pelabuhan mereka sendiri,” kata Erdogan, Ia memperingatkan bahwa Turki akan terus membalas dengan cara yang sama jika serangan semacam itu terus berlanjut.

Sebagai bagian dari kegiatan survei hidrokarbon negara itu, Turki mengeluarkan teleks navigasi (Navtex) pada 10 Agustus 2020, mengumumkan bahwa kapalnya Oruç Reis akan mulai melakukan penelitian seismik baru di Mediterania Timur.

Keputusan Turki datang menyusul kesepakatan pembatasan kontroversial yang ditandatangani antara Yunani dan Mesir, hanya sehari setelah Turki mengatakan akan menunda kegiatannya di kawasan itu sebagai tanda niat baik setelah upaya mediasi dari Jerman.

Tapi, setelah menyatakan perjanjian itu “batal demi hukum” dan menunjukkan bahwa kesepakatan itu merampas dan mengabaikan hak dan rak kontinental dari Ankara dan Tripoli, Turki memberi wewenang kepada Oruç Reis untuk melanjutkan aktivitasnya di daerah di dalam landas kontinen Turki.

Kapal akan melanjutkan aktivitas seismik di Mediterania Timur bersama dengan kapal Jengiz Khan dan Ataman hingga 23 Agustus mendatang.DS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here