Erdogan : Khilafah atau Neo Ottoman?

0
3975

Oleh Achmal Junmiadi

(Founder Lembaga Pengkajian Indonesia Turki

BERITATURKI.COM, JAKARTA – Babak baru Turki kembali dimulai sejak upaya gagalnya kudeta militer 15 Juli 2016 (15 Temmuz) yang dirayakan sebagai hari kemenangan demokrasi rakyat Turki atas dominasi militer yang selama ini menjaga dan mengawal hegemoni, kepentingan utama sekulerisme sejak Republik Turki dibentuk. Sejarah politik Republik Turki yang beberapa kali menggunakan kudeta militer sejak zaman presiden Adnan Menderes di tahun 1950 yang terpilih secara demokratis dan akhirnya dikudeta serta berakhir kepada hukuman gantung. Dirinya dan diera kepemimpinan Necmettin Erbakan yang terpilih menjadi perdana menteri Turki berulang kali merupakan tembok pemisah jelas kepentingan sekulerisme, sesungguhnya bukanlah murni mayoritas keinginan rakyat Turki melainkan hanyalah segelintir kepentingan elit politik yang didukung kuat oleh lembaga militer sebagai pengeksekusinya.

Trauma masyarakat Turki terhadap sejarah kudeta militer yang beberapa kali terjadi di masa lalu dianggap sangat berpengaruh dalam mengganggu stabilitas politik dan ekonomi yang cenderung memburuk pasca kudeta tersebut. Tentunya menyadarkan publik bahwa kudeta adalah jalan buntu untuk masa depan Turki yang lebih baik. Terlebih sejak era pemerintahan Recep Tayyip Erdogan, Turki mengalami loncatan kebangkitan dan menjelma menjadi kekuatan baru negara Euroasia yang semula berkedudukan ekonomi 116 menjadi nomor 16 diperingkat dunia. Tentunya Turki terus merangsek maju dalam berbagai multi sektor hingga tahun 2020. Dalam bidang pendidikan, tercatat lebih dari 112 universitas baru didirikan kurang dari 20 tahun terakhir. Selain dalam bidang ekonomi dan pendidikan, industri teknologi Turki juga mengalami perkembangan yang pesat. Seperti di tahun 2013 Turki berhasil meluncurkan proyek MRT cepat bawah laut (Marmaray) yang menghubungkan kota Istanbul benua Asia dan Eropa yang merupakan perwujudan salah satu impian Sultan Abdul Hamid II diakhir abad ke 19 era Utsmani.

Disamping transportasi publik, negeri dua benua tersebut juga sukses memproduksi mobil listrik nasional TOGG sejak debutnya ditahun 2019 yang juga mampu bersaing di pasar Eropa. Dalam industri pertahanan teknologi militer Turki juga tak ketinggalan dibidang aviasi drone tempur UAV Bayraktar yang menjadi alutista terbaru Turki. Produk ini sukses memenangkan banyak pertempuran sebagai dukungan operasi militer difront 3 kawasan; Timur Tengah Suriah, Afrika Libya, dan Asia Tengah Azerbaijan. Hubungan kerjasama strategis bidang pertahanan militer Turki juga sampai dikawasan Asia Tenggara seperti kerjasama dengan Indonesia dalam bidang kerjasama pembuatan Tank Medium Harimau/KAPLAN sejak diproduksi secara massal ditahun 2018 oleh PT. PINDAD Indonesia – FNSS Turki dan sudah dilirik oleh lebih dari 10 negara ASEAN sebagai calon pembeli dimasa mendatang. Ditahun 2020 dalam bidang alutista laut kerjasama terbaru dengan Indonesia yaitu salah satu persenjataan pembuatan kapal selam yang tengah dikembangkan oleh PT. PAL Indonesia dikota Surabaya dalam bentuk senjata anti torpedo ZOKA yang diproduksi oleh perusahaan Aselsan Turki.

Dukungan masyarakat Turki dan Internasional terhadap kepemimpinan Recep Tayip Erdogan sejak menjabat menjadi perdana menteri hingga presiden Turki saat ini menjadikan Turki seperti kembali memulai era kejayaan dan kebangkitannya. Tidak hanya berpengaruh dikawasan namun juga sudah menembus dunia Islam secara global.  Erdogan seperti headline yang selalu menjadi acuan kepemimpinan Islam modern yang mengikis episentrum sekulerisme di negerinya dan mampu membalikkan posisi dari julukan negatif Turki dari the sickman of europe menjadi the new global player melampaui eropa itu sendiri.

Turki era Erdogan dalam 2 dekade terakhir tidak hanya memiliki pengaruh dikawasan tetapi juga sudah melebarkan sayap ekspansi pengaruhnya keberbagai penjuru khususnya dunia Islam. Turki juga memiliki peran penting di OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang memiliki lebih dari 57 negara berpenduduk mayoritas muslim sebagai anggota. Dalam kebijakan politik luar negeri narasi pan Islamisme Turki kembali digencarkan mulai dengan pembelaan aktif terhadap isu kemerdekaan Palestina hingga memberikan bantuan aktif kepada negara-negara muslim yang mengalami bencana alam dan kemanusiaan. Seperti bantuan kemanusiaan ledakan di Beirut Libanon dan perlindungan terhadap pengungsi suriah hingga peran mediasi wilayah Mindanao (moro) dengan pemerintah Filipina tak luput juga dengan komunitas Islam Patani Selatan Thailand hingga perlindungan kepada etnis muslim Rohingya melalui kerjasama perantara Turki-Bangladesh.

Kebijakan Hagia Shopia yang dikembalikan menjadi masjid baru-baru ini juga tak luput menyedot perhatian dunia Internasional dan menimbulkan kontroversi sekaligus penentangan dari mayoritas negara barat, Eropa dan sebagian Timur Tengah seperti Mesir, UEA, dan Bahrain namun sukses mendapat simpati umat islam di banyak negara. Hagia Shopia merupakan simbol sejarah dan kemenangan politik turki yang kembali hadir sebagai warisan kemenangan Utsmani terhadap dominasi Romawi Timur dimasa silam yang kini dimaknai menjadi magnet besar spirit Neo Ottoman yang direbornisasi menjadi langkah strategis hadirnya kekuatan Islam modern demokratis Turki bukan lagi sekedar wacana kosong tanpa aksi nyata. Butuh proses dan waktu kebangkitan Turki diera Erdogan menjadi jalan bertahap kembali menghadirkan kepemimpinan Islam dikancah dunia internasional. Bukan sebatas jalan pintas sebagaimana teriakan ideologi kosong atas nama khilafah yang khilafiyah red; tanpa bentuk dan proses pertarungan politik dalam bentuk ruang nyata pembentukan supremasi kekuasaan serta tanpa harus menghilangkan asas kebangsaan dan kedaulatan negara.

Erdogan menyadari betul bahaya propaganda khilafah palsu tersebut dan menjadikan organisasi tersebut terlarang di Turki serta memasukkannya sebagai organisasi teroris ideologis sejak 2004 hingga saat ini, dikarenakan adanya upaya adu domba melaui infiltrasi ideologi sebagaimana sejarah Sultan Abdul Hamid II saat berhadapan dengan penyeru khilafah palsu yang ternyata dibentuk dan didanai oleh pihak Inggris untuk merorongrong kepemimpinan Utsmani yang sebenarnya. Hadirnya Neo Utsmani adalah bentuk manifestasi sejarah peradaban modern Islam tanpa harus merendahkan peran negara-negara bangsa umat islam lainnya yang sudah menjadi entitas dunia internasional. Hal ini dapat dipahami dalam bentuk kekuasaan yang lebih luas tetap ada batas teritori yang tidak semua dimiliki oleh satu kepemimpinan tunggal dengan menyesuaikan konteks zaman yang lebih terkini dengan banyaknyak peran para pemimpin negara muslim lainnya dengan kearifan lokal berbagai model bentuk pemerintahan. Sebagaimana sejarah besar Utsmani yang kuat dikarenakan hadir dan sukses menjadi pemimpin yang mempersatukan perbedaan walau berbeda teritori wilayah dan etnis serta agama namun tetap tegas terhadap bentuk kedzoliman dan upaya penjajahan kolonialisme dimanapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here