Erdoğan Desak Para Pemimpin Eropa untuk “Netral” di Mediterania Timur

0
43

Upaya Erdoğan membendung “politik adu domba” melalui dukungan tidak langsung Eropa dan pembiaran provokasi Yunani di Mediterania Timur telah menjadikan Mediterania Timur hotspot baru yang semakin memanas.

BERITATURKI.COM, Ankara| Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan kemarin malam kembali mendesak pemimpin Eropa untuk mengambil sikap netral pada eskalasi kepentingan di laut Mediterania Timur. Hal itu disampaikan melalui panggilan telepon ketika berbicara dengan Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel membahas perkembangan di Mediterania Timur dan hubungan Turki-UE.

Presiden Turki Tayyip Erdoğan dan Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel berpose di Brussels, Belgia 9 Maret 2020. (Reuters File Photo)

Erdogan mengatakan kepada Michel bahwa UE perlu mengambil langkah-langkah untuk mencegah Yunani dan negara-negara anggota UE tertentu agar tidak “memprovokasi” eskalasi ketegangan di Laut Mediterania Timur dan Laut Aegea.

Dia juga menggarisbawahi bahwa pernyataan provokatif dan langkah-langkah yang diambil oleh politisi Eropa tersebut tidak akan berkontribusi pada resolusi di kawasan itu, dengan mengatakan sikap blok tersebut mengenai Mediterania Timur akan menjadi “ujian ketulusan” untuk perdamaian regional.

Erdogan juga meminta lembaga-lembaga UE dan negara-negara anggotanya untuk mengambil sikap yang adil, obyektif, dan tidak memihak pada semua masalah kawasan, termasuk Mediterania Timur.

Sebagaimana diketahui bahwa Yunani dan beberapa negara lain (termasuk Prancis) telah mencoba untuk menekan wilayah maritim Turki dan menolak hak Turki untuk mengeksplorasi energi, dan melakukan gerakan oposisi Ankara di kawasan.

Yunani telah memperdebatkan aktivitas eksplorasi energi Turki saat ini di Mediterania Timur dan upaya untuk masuk ke wilayah maritim Turki berdasarkan kedekatan pulau-pulau kecil dengan pantai Turki.

Turki -sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania- telah mengirimkan kapal bor untuk mengeksplorasi sumber daya energi di landas kontinennya, dengan mengatakan bahwa Ankara dan Republik Turki Siprus Utara (TRNC) juga memiliki hak yang sama di wilayah tersebut.

Setelah panggilan diplomatik Jerman, Turki menghentikan sementara kegiatan di kawasan itu. Namun, ini dilanjutkan pada bulan Agustus setelah Yunani dan Mesir menandatangani kesepakatan pembatasan maritim dengan pendekatan maksimalis dan kontroversial./Daily_Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here