Erdogan dan Trump Diskusikan Penyelidikan AS Dalam Kegiatan FETO

0
88

Ankara. Presiden Turki dan AS pada Jumat, 16 November 2018 membahas penyelidikan yang sedang berlangsung dalam kegiatan Organisasi Teror Fetullah (FETO) di AS. Dilansir dari Anadolu Agency, Recep Tayyip Erdogan dan Donald Trump berbicara melalui telepon pada Jumat malam. Dikatakan bahwa kedua pemimpin juga bertukar pandangan tentang pembunuhan jurnalis Arab Jamal Khashoggi, upaya kontra-terorisme di Suriah, dan hubungan ekonomi bilateral.

“Menyepakati keperluan untuk menjelaskan semua aspek dan mencegah penutupan kasus pembantaian Jamal Khashoggi, para pemimpin telah menekankan pentingnya kerja sama erat antara Turki dan Amerika Serikat dalam perang melawan semua organisasi teroris,” ungkap pernyataan itu.

Khashoggi merupakan seorang kontributor The Washington Post, dilansir dari Anadolu Agency, ia dibunuh pada 2 Oktober 2018 di dalam Konsulat Saudi di Istanbul. Setelah berminggu-minggu menyangkal keterlibatan dalam kejahatan, Arab Saudi kemudian mengakui bahwa Khashoggi telah dibunuh di dalam konsulat, namun pihak konsulat Saudi mengklaim bahwa keluarga kerajaan Saudi tidak memiliki informasi sebelumnya terkait plot pembunuhan.

Erdogan juga menyampaikan belasungkawa kepada Trump atas kebakaran yang melanda California. Kedua pemimpin negara tersebut juga menyambut baik dimulainya patroli gabungan oleh tentara Turki dan AS dalam rangka pembuatan peta jalan Manbij, Suriah barat laut, dan membahas penyelesaian proses tanpa adanya rencana penundaan lebih lanjut. Pasukan Turki dan AS mulai patroli bersama pada 1 November 2018.

Sejak 18 Juni 201, Angkatan Bersenjata Turki telah melakukan 68 patroli sepihak di Manbij. Kesepakatan Manbij antara Turki dan AS berfokus pada penarikan teroris YPG / PKK dari kota untuk menstabilkan wilayah yang berada di timur laut provinsi Aleppo, Suriah utara. Pernyataan itu menuturkan bahwa Erdogan telah mengutarakan kepada Trump terkait harapannya bagi AS agar berhenti mendukung kelompok teroris PKK cabang Syrian, mengacu pada PYD / YPG.

Selama lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa – telah bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak.

“Mengingat pentingnya menindaklanjuti hal-hal yang dibahas di Perancis, para pemimpin menegaskan kembali komitmen mereka untuk lebih memperkuat hubungan bilateral di semua bidang,” tambah pernyataan itu.(Yn)

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here